Bab 6: Tiga Jalan, Satu Tujuan, dan Pengamat Bersayap

1880 Words
Kafilah Master Valerius Thorne memasuki Halonial Coast (Pesisir Halonial) saat matahari sore mulai condong ke barat, memandikan kota pelabuhan itu dengan cahaya keemasan yang hangat. Berbeda dengan Sekandaya Port yang lebih terasa seperti kota perbatasan yang sedikit kumuh, Halonial Coast memancarkan aura kemakmuran dan keteraturan. Bangunan-bangunannya lebih besar dan terbuat dari batu putih yang dipotong rapi, banyak di antaranya dihiasi ukiran bertema laut atau bendera-bendera dari berbagai serikat dagang. Dermaga utamanya, The Grand Pier of Halonial (Dermaga Agung Halonial), dipenuhi kapal-kapal dagang besar dengan layar terkembang megah, beberapa di antaranya membawa bendera dari negeri-negeri yang bahkan Reinh, dengan pengetahuannya dari Tale's of Aurora, tidak kenali. Aroma garam laut bercampur dengan wangi rempah-rempah eksotis dan parfum mahal yang digunakan para bangsawan atau pedagang kaya yang berlalu-lalang. Lios, yang sudah sadar kembali beberapa jam sebelum mereka tiba di kota, meskipun kepalanya masih terasa pening dan tubuhnya memar, duduk diam di atas gerobak, mencoba mencerna kilasan-kilasan mimpi aneh yang ia alami saat pingsan. Sosok penyihir berjubah megah yang menggunakan sihir penghancur langit… auranya begitu mirip dengan Reinh, pemuda pendiam yang baru ia kenal namun telah dua kali menyelamatkannya. Dan nama "Luminere" yang ia teriakan tanpa sadar… nama itu terasa begitu penting, begitu familier, namun ia tak bisa mengingat dari mana ia mendengarnya. Setelah Master Valerius dengan gembira membayar penuh imbalan mereka—masing-masing menerima 50 Copper Pieces (Keping Tembaga) ditambah bonus 10 keping karena telah menyelamatkan kafilah dari serangan Golem—dan mengucapkan terima kasih berkali-kali, Reinh, Ghyfin, dan Lios menuju Guild Petualang Halonial Coast, "The Sea Serpent's Roost" (Sarang Ular Laut). Bangunan guild ini bahkan lebih besar dan lebih mewah dari The Valiant Hall di Sekandaya, dengan patung ular laut raksasa dari perunggu menghiasi pintu masuknya. Di dalam, suasananya lebih sibuk. Petualang-petualang dengan zirah yang lebih berkilau dan s*****a yang lebih mengesankan—Glimmersteel Swords (Pedang Baja Berkilau), Enchanted Bows (Busur Tersihir), dan Ornate Staves (Tongkat Berukir Rumit)—berkumpul, mendiskusikan misi atau memamerkan hasil buruan mereka. Mereka melaporkan keberhasilan misi pengawalan kepada resepsionis guild, seorang wanita paruh baya yang efisien dengan kacamata kecil di ujung hidungnya bernama Mistress Elara—lagi-lagi nama Elara, yang membuat Reinh semakin yakin bahwa nama itu sangat umum di Tierias, atau ada sesuatu yang lebih dalam di baliknya. Resepsionis ini berbeda dari Livia Thorne di Sekandaya, namun tetap tidak menunjukkan tanda-tanda mengenali Reinh sebagai Luminere. Setelah urusan administrasi selesai, Reinh memutuskan untuk mendaftar ulang sebagai petualang di guild Halonial Coast. Ia masih menggunakan nama "Reinh" saja, merasa belum perlu menambahkan "Aggna" atau, lebih buruk lagi, "Luminere". Prosesnya serupa dengan di Sekandaya, meskipun di sini ia harus membayar biaya pendaftaran penuh karena tidak ada tawaran misi darurat untuk pemula. Untungnya, imbalan dari misi pengawalan lebih dari cukup. Mengingat pesan Kanae yang bergema di benaknya dan juga di benak Ghyfin, Reinh merasa ada sesuatu yang harus ia cari di kota ini atau sekitarnya. “Aku akan mengambil misi solo untuk sementara waktu,” kata Reinh kepada Ghyfin dan Lios setelah ia mendapatkan kartu identitas guild Halonial-nya, sebuah lencana perunggu kecil berbentuk ular laut. “Ada sesuatu yang harus kuselidiki di reruntuhan kuno di sekitar pesisir selatan kota ini. Pesan… roh angin itu menyebutkan Halonial.” Ghyfin menatapnya, matanya yang merah menyipit. Sejak Kanae masuk ke dalam dirinya, ia sering merasakan dorongan atau bisikan samar dari roh angin itu. Saat Reinh menyebut reruntuhan dan pesan Kanae, bisikan di kepalanya seolah mengiyakan, “Benar… di sana… sesuatu menunggumu, Utusan…” Namun, ada juga perasaan protektif yang aneh terhadap Reinh, mungkin juga pengaruh Kanae. “Kau yakin mau pergi sendiri, Penyihir? Setelah apa yang terjadi di Shadowfen dan Perbukitan Stonefang?” Lios, yang sudah merasa jauh lebih baik dan berdiri tegak di samping Ghyfin, juga angkat bicara. “Aku berhutang nyawa padamu, Reinh. Dua kali. Jika kau akan menyelidiki sesuatu yang berbahaya, izinkan aku ikut. Perisai dan tombakku mungkin berguna.” Ia masih belum bisa melepaskan perasaan bahwa Reinh adalah Luminere dari mimpinya, meskipun Reinh sendiri tidak pernah mengakuinya. Reinh menghargai tawaran mereka, namun ia merasa ini adalah sesuatu yang harus ia hadapi sendiri terlebih dahulu. “Terima kasih atas tawarannya, Lios. Dan Ghyfin, aku akan lebih berhati-hati kali ini.” Ia mencoba tersenyum tipis. “Aku hanya ingin melakukan penyelidikan awal. Jika memang ada sesuatu yang besar, aku pasti akan memberitahu kalian.” Ghyfin menghela napas. “Baiklah, Penyihir. Tapi jangan salahkan aku jika kau kembali dengan lebih banyak luka daripada jawaban.” Ada nada khawatir yang tulus dalam suaranya, yang membuat Reinh merasa sedikit hangat. Kanae di dalam dirinya mungkin juga merasakan dorongan untuk membiarkan Reinh pergi sendiri, atau sebaliknya, dorongan kuat untuk mengikutinya, menciptakan konflik internal bagi Ghyfin. Lios tampak sedikit kecewa namun mengangguk mengerti. “Jaga dirimu, Reinh.” Dengan perpisahan sementara itu, Reinh mengambil sebuah misi Peringkat Perunggu dari Quest Board Halonial yang tujuannya ke arah reruntuhan di pesisir selatan: “Survey Ancient Coastal Ruins for Lost Artifacts (Survei Reruntuhan Pesisir Kuno untuk Artefak Hilang) – Imbalan: 20 Copper Pieces.” Misi ini memberinya alasan resmi untuk pergi ke sana. Ia pun melangkah keluar dari guild, meninggalkan Ghyfin dan Lios yang masih berdiri di dekat papan misi. Setelah Reinh menghilang di balik pintu guild yang ramai, Lios menoleh ke arah Ghyfin, dahinya berkerut. “Penyihir itu… dia aneh, Ghyfin.” Ghyfin menyilangkan lengannya, menatap pintu tempat Reinh baru saja keluar. “Aku tahu. Dia lebih dari sekadar aneh.” “Bukan hanya sihirnya yang kuat namun tak terduga itu,” lanjut Lios, suaranya merendah. “Caranya berbicara tentang tempat-tempat tertentu, seperti reruntuhan itu… seolah dia sudah pernah ke sana, seolah dia tahu apa yang akan ditemukannya. Dan nama ‘Luminere’ yang kusebut… aku yakin ada sesuatu di sana. Mimpiku terasa begitu nyata.” Ghyfin menghela napas lagi, kali ini lebih panjang. Ia juga merasakan hal yang sama. Pengetahuan Reinh tentang monster, istilah-istilah aneh yang kadang ia gunakan, dan kini pesan dari roh angin yang juga menyebut Reinh sebagai ‘Utusan’. Semua itu terlalu banyak untuk dianggap kebetulan. “Aku mengerti maksudmu, Lios. Ada banyak hal yang tidak ia ceritakan.” Bisikan Kanae di benaknya seolah setuju, “Dia menyimpan rahasia besar, Ghyfin. Rahasia yang bisa mengubah segalanya.” “Haruskah kita mengikutinya?” tanya Lios, tampak bersemangat. “Memastikan dia baik-baik saja, atau mungkin… mencari tahu lebih banyak tentangnya?” Ghyfin menggeleng pelan, meskipun sebagian dirinya juga ingin melakukan hal itu. “Tidak. Dia bilang ingin melakukan penyelidikan awal sendiri. Kita harus menghargai itu, setidaknya untuk saat ini.” Ia menatap Lios. “Lagipula, kita juga butuh istirahat. Dan tempat berteduh. Aku tidak mau tidur di lorong bau lagi seperti Penyihir itu saat pertama tiba di Sekandaya.” Lios mengangguk, sedikit kecewa namun setuju. “Kau benar. Kepalaku juga masih sedikit pusing.” “Kalau begitu, ayo kita cari penginapan yang layak,” kata Ghyfin, mencoba terdengar lebih ceria. “Dengan bayaran dari Master Valerius, kita bisa menyewa kamar yang lebih baik malam ini. Mungkin penginapan ‘The Siren’s Call Inn’ (Penginapan Panggilan Siren) yang terkenal itu, atau ‘The Salty Sailor’s Rest’ (Istirahat Pelaut Asin) dekat dermaga. Aku dengar mereka punya kasur yang empuk dan makanan yang enak.” Lios tersenyum tipis. “Ide bagus. Setelah itu, mungkin kita bisa mencari misi Peringkat Perak kita sendiri besok. Menunjukkan pada Penyihir itu bahwa kita juga bukan petualang sembarangan.” Ghyfin tertawa kecil. “Itu baru semangat. Ayo!” Mereka berdua pun meninggalkan The Sea Serpent's Roost, berjalan menyusuri jalanan Halonial Coast yang ramai, mencari penginapan untuk beristirahat dan memulihkan tenaga, sambil sesekali melirik ke arah pesisir selatan, bertanya-tanya apa yang akan ditemukan Reinh di reruntuhan kuno itu. Meskipun Ghyfin menghentikan Lios untuk tidak terlalu curiga secara terang-terangan, dalam hatinya, ia juga merasakan ada misteri besar yang melingkupi Reinh, dan entah kenapa, ia merasa takdirnya kini terikat dengan Penyihir aneh itu. Sementara itu, Reinh berjalan sendirian menyusuri garis pantai yang berbatu dan berangin. Reruntuhan kuno itu terletak sekitar setengah hari berjalan kaki. Ombak menghantam tebing-tebing karang di bawah, menciptakan suara gemuruh yang konstan. Vegetasi di sekitar reruntuhan itu liar dan tak terurus, menandakan tempat itu sudah lama ditinggalkan. Yang tersisa hanyalah fondasi-fondasi batu yang ditumbuhi lumut, beberapa pilar yang patah, dan lengkungan-lengkungan gerbang yang nyaris runtuh. Namun, Reinh merasakan atmosfer yang aneh di tempat itu, seolah ada sisa-sisa kekuatan magis yang kuat dan kuno yang masih bersemayam. Ia berjalan dengan hati-hati di antara puing-puing, tongkat Elderwood Staff with Sapphire Crystal barunya di tangan. Kristal safir di ujung tongkatnya berdenyut dengan cahaya biru redup, seolah bereaksi terhadap energi di sekitarnya. Di beberapa titik, Reinh melihat visualisasi samar-samar, seperti gema dari masa lalu. Siluet-siluet bercahaya yang tampak seperti para pemain lama dari Tale's of Aurora, berjalan dan berinteraksi di antara bangunan-bangunan yang dulu mungkin megah. Ia juga menangkap sekilas bayangan sesosok wanita anggun berjubah putih dengan aura menyegarkan yang terasa familier, namun visualisasi itu begitu cepat dan buram, seperti mimpi yang terlupakan atau fatamorgana yang disebabkan oleh kelelahan dan energi aneh tempat itu. Ia tidak menyadari bahwa sesekali, seekor merpati putih dengan bulu berkilau keperakan dan mata lembut bercahaya, hinggap di pilar yang jauh atau terbang melingkar tinggi di atas reruntuhan, mengamatinya dengan penuh perhatian sebelum menghilang di antara bebatuan atau pepohonan pesisir. Itu adalah Alisha, dalam wujud penyamaran, tertarik pada energi unik yang dipancarkan Reinh dan aura kuno reruntuhan itu, namun belum siap untuk menampakkan diri atau terikat. “Apakah ini tempat para Utusan dulu berkumpul?” gumam Reinh pada dirinya sendiri, merasakan getaran aneh di udara. Kata-kata Kanae kembali terngiang di benak Reinh: “Pergilah ke Halonial… ada sesuatu yang menunggumu di sana, Utusan.” Ia semakin yakin bahwa reruntuhan ini, atau sesuatu di dalamnya, memiliki kaitan dengan tujuannya, dengan statusnya sebagai "Utusan", dan mungkin dengan misteri Key of Aura lainnya. Ia menghabiskan beberapa jam menjelajahi reruntuhan itu, mencari petunjuk, artefak, atau apapun yang bisa menjelaskan pesan Kanae. Ia menemukan beberapa pecahan tembikar kuno dengan ukiran Runic Glyphs (Simbol Rune) yang samar, beberapa koin perunggu yang sudah teroksidasi parah dengan gambar Kraken (Gurita Raksasa) di atasnya, dan sebuah batu berukir simbol spiral yang aneh, namun tidak ada yang terasa seperti "sesuatu yang penting" yang dimaksud Kanae. Saat matahari mulai turun, Reinh memutuskan untuk kembali ke Halonial Coast. Penyelidikannya belum membuahkan hasil signifikan, namun ia merasa ada sesuatu yang menariknya ke tempat ini, sesuatu yang belum ia temukan. Merpati putih itu, yang sesekali ia lihat dari kejauhan tanpa menyadari signifikansinya, terbang menjauh seiring langkah Reinh meninggalkan reruntuhan, seolah menjaga jarak namun tetap mengawasi. Reinh kembali ke The Sea Serpent's Roost dan melaporkan hasil misi surveinya kepada Mistress Elara. Ia hanya menyebutkan penemuan pecahan tembikar dan koin kuno, tidak menceritakan tentang visualisasi aneh atau perasaan magis yang ia rasakan, apalagi tentang merpati putih yang sesekali ia lihat. Ia menerima imbalan 20 Copper Pieces dan beberapa poin reputasi guild. Malam itu, di kamar penginapannya yang sedikit lebih baik dari di Sekandaya, The Drunken Clam Inn (Penginapan Kerang Mabuk), Reinh duduk termenung. Pesan Kanae masih menjadi misteri. Apa yang sebenarnya menunggunya di Halonial? Dan kenapa ia dipanggil "Utusan"? Ia merasa seperti berjalan dalam kegelapan, hanya diterangi oleh secercah harapan samar. Namun, ia tidak akan menyerah. Ia akan terus mencari, hingga ia menemukan jawaban atas semua pertanyaan yang menghantuinya. Dan mungkin, hanya mungkin, menemukan jalan untuk mematahkan sumpah Yui yang terasa semakin nyata di setiap langkahnya di dunia Tierias ini.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD