Bab 7: Konflik, Perselisihan, dan Kebenaran yang Menggantung

1459 Words
Malam itu, di kamar penginapannya yang sederhana namun bersih di The Drunken Clam Inn (Penginapan Kerang Mabuk), Reinh duduk termenung di tepi tempat tidurnya yang sedikit berderit. Cahaya remang dari satu-satunya lilin di atas meja kecil menari-nari di dinding batu, menciptakan bayangan-bayangan panjang yang seolah ikut merenung bersamanya. Penyelidikannya di reruntuhan pesisir selatan Halonial Coast (Pesisir Halonial) tidak membuahkan hasil yang ia harapkan. Pecahan tembikar kuno dan beberapa koin perunggu berkarat bukanlah "sesuatu yang penting" yang dimaksud oleh bisikan Kanae. Ia mengeluarkan batu berukir simbol spiral aneh yang ia temukan, membolak-baliknya di antara jemarinya. Simbol itu terasa familier, seolah pernah ia lihat di salah satu lore book (buku pengetahuan dunia) di Tale's of Aurora, namun ia tak bisa mengingat detailnya. Apakah ini petunjuknya? Atau hanya kebetulan semata? Rasa frustrasi mulai merayapinya. Ia merasa seperti berjalan dalam labirin tanpa peta, setiap belokan hanya membawanya pada kebuntuan baru. Pesan Kanae, sebutan "Utusan", perubahan fisiknya, ingatan yang hanya ia miliki, dan yang paling berat, sumpah Yui yang terus menghantuinya—semuanya berputar-putar di kepalanya, menciptakan kekacauan yang menyesakkan. Ia sendirian dengan semua ini. Ia merindukan kemudahan mengakses informasi di game, di mana quest log (catatan misi) atau forum pemain bisa memberikan jawaban. Di sini, ia harus mencari semuanya sendiri, dengan risiko dan konsekuensi yang nyata. Samar-samar, ia terkadang merasakan kehadiran yang menenangkan di sekitarnya, sebuah aura sejuk seperti embun pagi yang datang dan pergi tanpa bisa ia pastikan sumbernya. Ia tidak tahu apa itu, mungkin hanya imajinasinya atau sisa-sisa energi aneh dari dunia ini. Kehadiran tak kasat mata itu, meski misterius, terkadang sedikit mengurangi rasa kesepiannya yang pekat, namun juga menambah daftar panjang keanehan yang harus ia pecahkan. Ia adalah seorang "Utusan" yang bahkan belum memahami sepenuhnya apa artinya itu. Tiba-tiba, lamunannya terpecah oleh suara keributan dari lantai bawah penginapan. Suara-suara yang meninggi, dentuman perabot yang terbanting, dan pekikan tertahan. Reinh segera mengenali salah satu suara itu—Ghyfin. Ada juga suara laki-laki yang dalam dan penuh amarah. Lios? Dengan sigap, Reinh meraih tongkat Elderwood Staff with Sapphire Crystal (Tongkat Elderwood dengan Kristal Safir) miliknya dan bergegas menuruni tangga kayu yang berderit. Di ruang makan utama penginapan, yang kini sepi dari pengunjung lain karena sudah larut malam, ia mendapati Ghyfin dan Lios berdiri saling berhadapan dengan tegang. Beberapa kursi terguling, dan sebuah meja kayu terbelah dua. Pemilik penginapan, seorang pria tua gempal bernama Master Finnigan, tampak ketakutan di balik meja barnya. “Ada apa ini?” tanya Reinh, suaranya tenang namun nadanya menuntut penjelasan. Ghyfin menoleh, matanya yang merah menyala karena marah. “Penyihir! Katakan pada ksatria sok tahu ini untuk tidak ikut campur urusanku!” Lios, dengan zirah lengkapnya dan perisai Guardian's Aegis (Aegis Sang Penjaga) tersandang di punggungnya, balas menatap Ghyfin dengan tak kalah sengit. “Aku hanya ingin membantu! Dan aku punya hak untuk tahu apa yang sebenarnya terjadi denganmu dan Penyihir itu!” “Hak apa? Kau baru kami kenal beberapa hari!” sergah Ghyfin. “Aku berhutang nyawa padanya, dan mungkin juga padamu!” balas Lios, menunjuk Reinh. “Dan aku tidak akan diam saja melihat kalian berdua berjalan menuju bahaya tanpa penjelasan!” Reinh melangkah di antara mereka. “Tenanglah kalian berdua. Apa yang sebenarnya kalian perdebatkan?” Lios menatap Reinh, ekspresinya sedikit melunak namun tetap tegang. “Reinh, aku harus tahu. Sejak aku bertemu denganmu, mimpi-mimpi aneh itu semakin jelas. Aku terus melihat… makhluk bercahaya, roh penjaga, yang menyuruhku untuk mencarimu. Mencari seorang penyihir bernama… Luminere.” Saat menyebut nama itu, mata Lios menatap Reinh dengan penuh selidik. “Dan sihir yang kau gunakan saat melawan Golem Batu itu… Crashing Down… persis seperti yang kulihat dalam mimpiku, digunakan oleh penyihir berjubah megah yang auranya sangat mirip denganmu. Katakan padaku, Reinh, siapa kau sebenarnya? Dan apa hubunganmu dengan semua ini?” Reinh terdiam, terkejut dengan pengakuan Lios. Nama Luminere. Mimpi tentang Key of Aura. Ini lebih dari sekadar kebetulan. Lios jelas memiliki semacam koneksi dengan masa lalu, atau setidaknya dengan sisa-sisa energi dari Tale's of Aurora. Ghyfin memandang Lios dengan skeptis, meskipun bisikan Kanae di benaknya bergejolak. “Dia… dia juga merasakan sesuatu… ikatan lama…” “Mimpi? Kau membuat keputusan berdasarkan mimpi, Ksatria? Itu konyol!” kata Ghyfin, mencoba terdengar meremehkan, meskipun dalam hatinya ia juga merasakan keanehan yang sama sejak Kanae masuk ke dalam dirinya. Ia merasa lebih protektif terhadap Reinh, dan kehadiran Lios yang terus mendesak terasa mengancam rahasia yang bahkan ia sendiri belum pahami. “Ini bukan mimpi biasa, Ghyfin!” sergah Lios, frustrasi. “Ini seperti… panggilan. Sesuatu yang harus kulakukan. Aku merasa ada tujuan yang lebih besar di balik semua ini, dan itu melibatkan kalian berdua.” Ia kembali menatap Reinh. “Aku ingin bergabung dengan kalian. Apapun yang kalian hadapi, aku siap.” Reinh menatap Lios, lalu ke Ghyfin. Ia melihat kesungguhan di mata Lios, dan ia juga merasakan ada sesuatu yang menghubungkannya dengan petarung perisai itu. Mungkin Lios adalah bagian dari jawaban yang ia cari. Dan memiliki sekutu yang kuat seperti Lios pasti akan sangat berguna. “Baiklah, Lios,” kata Reinh akhirnya, membuat keputusan. “Kau boleh bergabung dengan kami.” Wajah Lios langsung bersinar lega. “Sungguh? Terima kasih, Reinh! Aku tidak akan mengecewakanmu!” Ghyfin mendengus, namun tidak membantah. Ia melipat tangannya di d**a. “Hmph. Asal kau tidak merepotkan, Ksatria.” “Kalau begitu,” kata Reinh, mencoba mencairkan suasana. “Bagaimana jika kita merencanakan misi party pertama kita untuk besok? Kita bisa melihat Quest Board di The Sea Serpent's Roost pagi-pagi.” Lios mengangguk antusias. “Ide bagus! Aku akan bersiap.” Ia tersenyum lebar, lalu menatap Master Finnigan yang masih gemetaran. “Maaf atas keributannya, Tuan.” Ia meletakkan beberapa keping tembaga di atas meja bar sebagai ganti rugi, lalu pamit kembali ke kamarnya untuk beristirahat, semangatnya membara. Setelah Lios pergi, Ghyfin menatap Reinh dengan ekspresi serius. Ruang makan penginapan terasa sunyi, hanya suara lilin yang berkeretak dan debur ombak samar dari kejauhan. “Reinh,” panggil Ghyfin, kali ini menggunakan nama aslinya, nadanya lebih lembut. “Kau benar-benar percaya pada cerita mimpinya?” Reinh mengangkat bahu. “Aku tidak tahu apa yang harus kupercaya lagi, Ghyfin. Tapi aku merasakan ada sesuatu yang tulus darinya.” “Dan nama ‘Luminere’ yang ia sebut?” lanjut Ghyfin, matanya yang merah menatap Reinh dengan intens, mencari jawaban. “Kau terlihat terkejut saat dia mengucapkannya. Apakah kau mengenali nama itu, Penyihir?” Reinh mengalihkan pandangannya sejenak, menatap nyala lilin yang bergoyang. Nama Luminere. Nama itu adalah dirinya yang dulu, dirinya yang kuat, dirinya yang bebas dari sumpah Yui, dirinya yang hidup dalam ilusi game. Mengakui nama itu sekarang sama saja dengan membuka kotak Pandora berisi masa lalu yang ingin ia kubur, setidaknya untuk saat ini. Ia belum siap berbagi beban itu, belum siap menjelaskan kegilaan tentang dunia game yang menjadi nyata. “Luminere…” ulang Reinh pelan, seolah mencoba mengingat sesuatu yang jauh. “Aku pernah mendengar nama itu dalam legenda-legenda kuno. Seorang penyihir hebat dari masa lalu, katanya. Mungkin mimpi Lios hanya menangkap gema dari cerita-cerita itu.” Ia berusaha terdengar biasa saja, menyembunyikan debaran jantungnya. Ghyfin menatapnya lekat, seolah mencoba membaca pikirannya. Ia tahu Reinh menyembunyikan sesuatu. Bisikan Kanae di benaknya semakin kuat, “Dia berbohong… tapi ada alasan di baliknya… Utusan memiliki beban berat…” “Legenda kuno, ya?” kata Ghyfin, nadanya sedikit skeptis namun ia tidak mendesak lebih jauh. “Baiklah, Penyihir. Aku tidak akan bertanya lagi untuk saat ini.” Ia mendekat beberapa langkah. “Aku… aku juga merasakan banyak hal aneh sejak… kau tahu.” Ia menyentuh dadanya sendiri, tempat ia merasakan kehadiran Kanae. “Bisikan-bisikan, dorongan-dorongan… dan saat aku di dekatmu, Penyihir… aku merasa… aman.” Pengakuan itu keluar begitu saja, mengejutkan dirinya sendiri. “Meskipun kau penuh rahasia dan sering bertindak bodoh, ada sesuatu yang membuatku merasa… nyaman. Perasaan yang sudah lama tidak kurasakan.” Reinh tertegun mendengar pengakuan Ghyfin. Kehangatan yang aneh menjalar di dadanya, sesuatu yang belum pernah ia rasakan sejak perpisahannya dengan Yui. Ia ingin mengatakan sesuatu, mungkin berbagi sedikit tentang bebannya, namun Sumpah Yui kembali terngiang, seperti bisikan dingin yang memperingatkannya. “…tak ada bahagia yang akan tinggal bersamamu.” Ia hanya bisa menatap Ghyfin, ada kelembutan di matanya yang biasanya dingin dan analitis. “Aku… aku juga merasa lebih baik saat kau ada di dekatku, Ghyfin.” Hanya itu yang bisa ia ucapkan, sebuah kejujuran kecil di tengah lautan rahasia. Ghyfin tersenyum tipis, senyum pertama yang benar-benar tulus yang Reinh lihat darinya. “Kalau begitu, kita hadapi saja semua ini bersama-sama, ya? Kau, aku, dan Ksatria Pemimpi itu. Mungkin kita benar-benar bisa menemukan jawaban atas semua kegilaan ini.” Reinh mengangguk. Bersama-sama. Mungkin, hanya mungkin, ia tidak sepenuhnya sendirian di dunia ini. Meskipun bayangan sumpah itu masih menggelayut, secercah harapan kecil mulai tumbuh di hatinya yang hampa.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD