Mimpi itu kembali menghantuinya, seperti selalu. Hujan deras, taman kota yang basah, dan wajah Yui yang berurai air mata, mengucapkan sumpah yang mengiris jiwa. “Di setiap jejak yang kau tapaki dan cinta yang kau rengkuh, ingatlah—tak ada bahagia yang akan tinggal bersamamu.” Kata-kata itu bergema, dingin dan menusuk, bahkan ketika kesadarannya mulai ditarik dari kegelapan tidur.
Reinh mengerang, kepalanya terasa berat seolah dihantam godam, persis seperti setelah sesi grinding semalaman di depan layar komputernya. Tubuhnya letih luar biasa, setiap sendi berteriak protes. Aroma tanah basah yang pekat dan wangi dedaunan pinus yang menusuk hidungnya, begitu nyata, begitu asing—di Tale's of Aurora yang ia mainkan di PC, hutan hanya memiliki aroma generik "hutan" yang dideskripsikan dalam teks atau paling banter disuguhkan melalui efek suara berkualitas tinggi, tidak pernah sedetail dan sekuat ini. Perlahan, ia membuka matanya. Bukan langit-langit kamarnya yang remang-remang yang menyambut, bukan pula cahaya monitor komputer yang setia menemaninya hingga larut. Yang dilihatnya adalah kanopi pepohonan hijau lebat, menjulang tinggi menembus cahaya mentari pagi yang menyelinap malu-malu di antara celah dedaunan yang bergerak ditiup angin—sebuah detail visual dan fisika lingkungan yang jauh melampaui grafis ultra-setting game PC manapun.
Ia terbaring di atas hamparan rumput lembap, dinginnya tanah meresap melalui kemeja kremnya yang kini tampak lusuh dan sobek di beberapa bagian. Celana panjang hitamnya kotor oleh lumpur. Di mana aku? Pikirannya masih berkabut, mencoba mencerna sensasi yang terlalu nyata ini. Sekilas, kepanikan dingin menyergap. Mungkinkah ia meninggal dalam tidurnya karena kelelahan? Terlalu banyak malam tanpa istirahat, terlalu banyak kafein, terlalu banyak tekanan untuk menembus level 91 di Tale's of Aurora.
Dengan susah payah, Reinh mencoba bangkit, menyandarkan tubuhnya pada sebatang pohon besar dengan kulit kasar yang terasa nyata dan berserat di telapak tangannya—bukan tekstur 3D yang halus dan berulang seperti yang biasa ia lihat di layar monitor. Ia memandang sekeliling. Hutan lebat membentang sejauh mata memandang, jenis pepohonan yang terasa familier namun sekaligus berbeda. Ini… ini seperti Hutan Oakwood dekat Sekandaya Port, kota awal di Tale's of Aurora. Tapi, kenapa begitu nyata? Cahaya matahari yang menembus dedaunan menciptakan pola bayangan yang bergerak dinamis di tanah dengan kompleksitas yang tak mungkin dirender real-time oleh kartu grafisnya.
Reinh meraba wajahnya. Rambutnya terasa lebih panjang dan lengket oleh keringat dan embun. Ia mencoba mengakses menu game, sebuah refleks yang sudah mendarah daging setelah ribuan jam menatap layar dan mengklik mouse. Tangannya bergerak seolah mencari hotkey di keyboard atau mengklik ikon di layar. Tidak ada. Kosong. Perintah mental untuk memunculkan user interface—bilah status, peta mini, jendela inventaris—tidak menghasilkan apa-apa. Tidak ada tampilan transparan yang biasa muncul di sudut atau tengah layarnya.
Jantungnya mulai berdegup kencang. Ini aneh. Sangat aneh. Jangan-jangan… ia teringat novel-novel dan anime isekai yang sering ia baca dan tonton di sela-sela grinding. Apakah ia berpindah ke dunia lain? Terlempar ke dalam dunia Tale's of Aurora itu sendiri? Pikiran itu terasa konyol, namun sensasi nyata di sekelilingnya—angin yang membelai kulitnya, aroma hutan, rasa sakit di tubuhnya—semuanya mendukung kemungkinan gila tersebut.
Kegugupan mulai menjalari dirinya. Jika ini benar-benar dunia lain, bagaimana cara kembali? Atau… apakah ia sudah mati di dunianya sendiri dan ini adalah semacam akhirat? Pikiran tentang kematian membuatnya merinding. Ia mencoba lagi, lebih panik, mengulang-ulang perintah mental untuk memunculkan menu, menekan tombol escape imajiner. Hasilnya tetap nihil. Bahkan harapan untuk menemukan tombol logout yang menjadi harapan terakhirnya pun sirna.
“Ini tidak mungkin…” gumamnya, suara serak. Kepanikan mulai merayap lebih kuat. Mungkinkah ini update game yang sangat ekstrem? Atau servernya diretas dan ia terjebak dalam semacam simulasi aneh? Tapi, levelnya… ia merasakan kekosongan aneh dalam dirinya, seolah semua kekuatan Luminere, sang Awakener level 90 lebih dengan skill tree yang hampir penuh dan deretan equipment legendaris, telah di-reset kembali ke nol. Perasaan lemah dan rentan ini sudah lama tidak ia rasakan, sejak ia masih menjadi newbie yang mati-matian mengumpulkan copper coins di Tale's of Aurora.
Jika ini memang dunia Tale's of Aurora, maka Key of Aura miliknya… Sebagai Luminere, ia memiliki beberapa Key of Aura yang sering ia gunakan, meskipun di game mereka lebih berfungsi sebagai buff atau summon sementara. Ia mencoba mengingat nama salah satu Key of Aura yang paling sering ia andalkan untuk pertahanan, sebuah roh elemen tanah bernama Terra Minor. “Terra Minor, kumohon, datanglah!” serunya, mengulurkan tangan, mencoba merasakan koneksi yang biasa ia rasakan saat memanggil roh itu di game. Hening. Tidak ada partikel cahaya yang berkumpul, tidak ada suara gemuruh kecil yang menandakan kedatangan sang roh. Hanya suara angin yang berdesir di antara dedaunan. Ia mencoba lagi, dengan nama Key of Aura lain yang ia ingat, Sylphwing, roh angin kecil. Hasilnya sama. Kosong. Tidak ada respons. Key of Aura miliknya tidak muncul. Ini semakin memperkuat dugaan bahwa ia tidak lagi berada dalam sistem game yang ia kenal.
Ia teringat pada skill dasar yang ia kuasai sebagai Luminere. Dengan sedikit keraguan, ia mengulurkan tangannya, mencoba memfokuskan sisa-sisa energi yang ia rasakan, mengingat kombinasi tombol atau urutan mantra yang biasa ia gunakan. “Ignis Minor!” serunya, lebih pelan dari yang ia niatkan, menggunakan nama skill api level rendah. Ajaibnya, sebuah percikan api kecil muncul di telapak tangannya, lalu membesar menjadi bola api seukuran kepalan tangan, memancarkan kehangatan yang nyata. Namun, sensasinya berbeda. Ia merasakan energi terkuras dari tubuhnya, sebuah kelelahan fisik yang nyata, bukan sekadar pengurangan angka di bar MP berwarna biru di layar. Bola api itu melesat dan menghantam pohon di depannya, meninggalkan bekas hangus kecil dan aroma kayu terbakar yang tajam. Berhasil. Tapi… ini aneh. Proses merapal mantra terasa lebih rumit, membutuhkan fokus mental dan gestur tangan yang lebih presisi, bukan hanya menekan '1' di keyboard atau mengklik ikon skill.
Ia mencoba lagi. “Glacies Scutum!” Kali ini, butuh usaha lebih besar. Udara di sekitarnya mendingin, dan sebongkah perisai es transparan terbentuk di hadapannya, memancarkan hawa dingin yang membuat kulitnya meremang. Lagi-lagi, rasa lelah yang nyata menyergapnya. Ini bukan lagi sekadar menekan tombol dengan cooldown timer yang jelas. Ini membutuhkan konsentrasi, energi, dan terasa begitu… fisik. Dulu, ia bisa merapal puluhan skill tanpa merasa seletih ini, selama persediaan mana potion virtualnya cukup. Sekarang, dua skill dasar saja sudah membuatnya terengah.
“Apa yang terjadi?” Reinh bertanya pada kehampaan hutan. Ia berjalan tanpa tujuan, mencoba mencari tanda-tanda peradaban atau pemain lain. Hutan ini, meskipun mirip dengan area pemula di Tale's of Aurora, terasa lebih liar, lebih padat, dan suara-suara di dalamnya lebih beragam—kicau burung dengan melodi kompleks yang tak pernah ia dengar dari sound effect library game, gemerisik dedaunan yang tertiup angin dengan pola acak dan tak terduga, suara serangga yang berdengung dengan frekuensi berbeda, bahkan langkah kakinya sendiri di atas ranting kering menghasilkan suara yang terlalu jernih dan spesifik. Tidak ada lagi musik latar epik atau atmosferik yang biasa menemaninya bertualang, hanya kesunyian alam yang diselingi suara-suara natural.
Setelah berjalan selama mungkin satu jam, tersandung akar pohon yang menonjol (yang di game mungkin hanya bagian dari tekstur tanah) dan menghindari semak berduri yang benar-benar bisa menggores kulitnya dan meninggalkan rasa perih (tidak seperti aset game yang hanya dilewati tanpa efek fisik), Reinh melihat secercah harapan. Asap tipis mengepul di kejauhan. Dengan langkah dipercepat, ia menuju sumber asap itu. Ia menemukan sebuah dusun kecil yang tersembunyi di antara pepohonan, hanya terdiri dari tiga atau empat gubuk kayu sederhana dengan atap jerami. Mungkin ini hidden village seperti Dusun Elderwood atau Desa Stillwater yang belum pernah ia temukan di game meskipun telah menjelajahi peta berkali-kali.
Seorang wanita paruh baya dengan rambut cokelat dikepang dan celemek kotor sedang menjemur pakaian di depan salah satu gubuk. Reinh mendekat dengan hati-hati. “Permisi…”
Wanita itu menoleh, matanya yang hijau menatap Reinh dengan campuran rasa ingin tahu dan waspada yang manusiawi, bukan tatapan NPC yang terpaku menunggu pemain berinteraksi untuk memicu dialogue tree. “Ya, Nak? Kau tersesat?” suaranya ramah, namun ada nada hati-hati. Ini Elara the Fletcher, pikir Reinh, NPC penjual panah di Sekandaya Port yang model karakternya cukup detail. Tapi, wajahnya lebih berkerut, ada garis-garis halus di sekitar matanya yang menunjukkan usia dan pengalaman, ekspresinya lebih hidup dan berubah-ubah, tidak kaku seperti NPC yang biasa ia temui di layar monitor.
“Saya… saya rasa begitu, Puan,” jawab Reinh, masih mencoba mencerna. “Ini di mana ya? Apakah ini masih bagian dari wilayah Sekandaya?”
Wanita itu tersenyum tipis. “Kau jauh dari Sekandaya, Nak. Ini Dusun Oakhaven. Kau pasti sangat lelah. Mari, duduklah sebentar.” Ia menunjuk bangku kayu kasar di dekat gubuknya.
Reinh ragu sejenak, lalu mengangguk. Ia tidak punya uang sepeser pun – inventory-nya kosong, tidak ada gold coins yang biasa ia kumpulkan. Pakaiannya compang-camping. Ia pasti terlihat seperti pengemis. “Terima kasih, Puan… Elara?”
Wanita itu mengerutkan kening, sebuah ekspresi kebingungan yang tulus. “Namaku Martha, Nak. Bukan Elara. Mungkin kau salah orang.”
Jantung Reinh berdegup kencang. Martha? Bukan Elara? Tapi wajahnya, postur tubuhnya… hampir identik dengan model karakter Elara. Ia duduk di bangku, pikirannya semakin kacau. Martha masuk ke dalam gubuk dan kembali dengan secangkir air dari tempayan tanah liat dan sepotong roti gandum yang keras. Air itu terasa sejuk dan segar, bukan seperti air virtual yang tak berasa atau hanya ikon di inventory. Roti itu, meskipun keras, memiliki rasa gandum yang kuat dan aroma khas panggangan.
“Ini saja yang kupunya, Nak. Makanlah.”
Sambil mengunyah roti, Reinh melihat genangan air sisa hujan semalam di dekat kakinya. Dengan rasa penasaran yang bercampur cemas, ia menunduk. Pantulan dirinya di permukaan air itu mengejutkannya. Rambut hitamnya yang biasa dipotong undercut rapi di dunia nyata kini telah berubah menjadi cokelat muda, lebih panjang dan kusut, persis seperti warna rambut avatar Luminere-nya, namun terasa seperti rambut sungguhan. Dan matanya… pupil cokelat gelapnya kini bersinar dengan warna kuning cerah yang intens, hampir seperti mata kucing di kegelapan—warna mata yang ia pilih untuk Luminere. Ini bukan lagi sekadar melihat avatar di layar character creation atau inventory screen. Ini adalah dirinya, tubuhnya, yang berubah. Perubahan fisik ini semakin menambah kebingungannya dan rasa tidak nyata.
“Terima kasih banyak, Puan Martha,” ucap Reinh tulus, menerima makanan itu dengan tangan gemetar. Rasa lapar tiba-tiba mendera perutnya, sensasi fisik yang jauh lebih kuat daripada indikator hunger bar yang mungkin ada di beberapa game survival. Ia makan dengan lahap, sementara Martha memperhatikannya dengan tatapan iba.
“Kau datang dari mana? Pakaianmu… sepertinya kau mengalami kesulitan,” tanya Martha lembut, suaranya penuh simpati yang tak pernah ia dengar dari NPC yang dialognya terbatas dan berulang.
Reinh bingung harus menjawab apa. Mengatakan ia datang dari dunia lain? Atau dari game PC yang ia mainkan semalaman? Itu akan terdengar gila. “Saya… saya tidak begitu ingat, Puan. Semuanya terasa kabur.”
Seorang pria tua dengan janggut putih panjang dan tongkat kayu berukir sederhana keluar dari gubuk sebelah. Matanya yang biru, yang kini terlihat lebih redup karena usia dan memiliki kerutan di sekitarnya, menatap Reinh dengan tajam. “Anak muda, kau terlihat seperti baru saja bergulat dengan Grondal Hutan Belantara. Beruntung kau masih hidup.” Grondal Hutan Belantara? Di game, itu monster level rendah yang mudah dikalahkan dengan beberapa klik mouse dan skill. Tapi dari nada bicara pria tua ini, sepertinya itu adalah ancaman nyata yang bisa merenggut nyawa.
“Ayah, jangan menakutinya,” tegur Martha. “Dia tersesat.”
Pria tua itu, yang mirip dengan Old Man Hemlock, NPC pemberi quest pengumpulan herbal di game yang selalu berdiri di titik yang sama, mendekat. “Namaku Barnaby. Siapa namamu, Nak?”
“Reinh, Tuan. Reinh…” Ia ragu sejenak, lalu menambahkan, “…Luminere.” Nama avatarnya di game, satu-satunya identitas yang masih terasa melekat dan memiliki kekuatan di dunia yang ia kenal.
Barnaby dan Martha saling pandang, ekspresi yang sulit diartikan, bukan sekadar animasi wajah NPC yang terbatas. “Luminere? Nama yang terdengar… agung. Tapi, selamat datang di Oakhaven, Reinh Luminere. Istirahatlah. Jika kau mau, kau bisa membantu menebang kayu besok pagi dengan kapak Ironwood Chopper milikku—ini kapak sungguhan, bukan item dengan statistik—sebagai ganti makanan dan tempat berteduh malam ini.”
Reinh mengangguk. Tidak punya uang, tidak punya tujuan jelas, tawaran itu adalah berkah. Malam itu, ia tidur di lantai jerami yang sedikit gatal dan berbau khas di sudut gubuk Barnaby, pikirannya dipenuhi pertanyaan. NPC ini… mereka bukan lagi NPC. Mereka hidup, memiliki nama berbeda, keluarga, dan emosi yang nyata. Mereka menawarkan bantuan tanpa imbalan quest item atau experience points. Dunia ini beroperasi dengan aturan yang sama sekali berbeda.
Keesokan paginya, setelah membantu Barnaby menebang kayu dengan kapak yang terasa berat dan tumpul (bukan kapak ber-efek khusus seperti di game yang bisa meningkatkan strength), yang membuat tangannya lecet dan berkeringat deras, Reinh berpamitan. Barnaby memberinya sedikit roti lagi dan petunjuk arah menuju jalan utama yang katanya bisa membawanya ke Sekandaya Port, meskipun butuh seharian berjalan kaki. “Hati-hati di jalan, Nak. Hutan Whispering Woods ini banyak bahayanya jika kau tak waspada. Ada laporan tentang gerombolan Shadowfang Wolves akhir-akhir ini.” Nama-nama itu, Whispering Woods, Shadowfang Wolves, semuanya ada di game, tapi kini disebut dengan nada penuh kewaspadaan nyata.
Perjalanan menuju Sekandaya Port terasa panjang dan melelahkan. Reinh melewati padang rumput luas yang dipenuhi bunga-bunga liar dengan warna dan aroma yang tak pernah bisa dicium melalui monitor, dan menyeberangi sungai kecil yang airnya jernih dan dingin menusuk di kakinya. Ia melihat beberapa hewan liar yang mirip dengan monster-monster level rendah di Tale's of Aurora—Forest Boars dengan taring lebih panjang dan mata lebih buas yang mendengus marah saat melihatnya, Giant Spiders yang jaringnya lengket dan kuat saat tak sengaja ia sentuh—namun mereka tampak lebih nyata, lebih mengancam, dan bergerak dengan insting hewani, bukan pola serangan AI yang bisa diprediksi. Ia mencoba menghindari konfrontasi, menyadari bahwa tanpa skill tree yang lengkap, mana potions yang tak terbatas dari item shop, dan epic equipment yang biasa ia kenakan sebagai Luminere, ia sangat rentan.
Menjelang sore, gerbang kayu besar Sekandaya Port akhirnya terlihat di kejauhan. Kota pelabuhan itu tampak persis seperti dalam ingatannya di game: tembok batu yang kokoh, menara pengawas yang menjulang, dan dermaga yang ramai. Namun, saat ia semakin dekat, detail-detail kecil mulai terasa berbeda. Bendera-bendera dengan lambang singa laut berwarna perak yang tak ia kenali berkibar di atas gerbang, kainnya bergerak realistis ditiup angin laut. Para penjaga yang berdiri di gerbang mengenakan zirah besi kusam dengan ukiran yang berbeda dan tampak berat, dan wajah mereka… beberapa ia kenali sebagai avatar pemain-pemain dari guild-nya dulu, ‘Crimson Vanguard’, atau pemain lain yang sering ia lihat di papan peringkat. Tapi, tatapan mereka kosong dari pengenalan, seolah ia orang asing.
Seorang penjaga berambut pirang dengan bekas luka di pipi, yang dulu Reinh kenal sebagai ‘Sir Kaelen the Valiant’, seorang ksatria tangguh dari guild rival ‘Azure Dragons’, menghentikannya. “Berhenti! Siapa kau dan apa urusanmu di Sekandaya Port?” suaranya tegas dan dingin, tidak ada lagi sapaan ramah antar pemain atau tantangan duel yang biasa terjadi melalui jendela chat atau emote.
“Saya Reinh. Saya… seorang petualang,” jawab Reinh, mencoba terdengar percaya diri.
Penjaga itu, Kaelen—atau siapapun dia sekarang, mungkin bernama Kapten Gareth atau Sersan Alaric—memandangnya dari atas ke bawah dengan curiga. “Petualang? Kau lebih terlihat seperti gelandangan dari Rawa Berkabut. Dari mana asalmu?”
“Saya… dari hutan. Saya tersesat.”
Penjaga lain, seorang wanita dengan rambut merah menyala yang dulu dikenal sebagai ‘Lady Vixen the Sorceress’, tertawa sinis, suara yang kini lebih serak dan kurang angkuh. “Hutan mana yang memuntahkan orang sepertimu? Kau tidak membawa s*****a, pakaianmu compang-camping. Apa kau mata-mata dari Kerajaan Es Frostfell di Utara?”
Kerajaan Es Frostfell? Di game, itu adalah raid dungeon level tinggi yang terkenal sulit, diakses melalui portal. Sekarang menjadi sebuah kerajaan sungguhan yang ditakuti?
“Saya bukan mata-mata,” kata Reinh tegas. “Saya hanya mencari tempat untuk beristirahat dan mungkin… pekerjaan.”
Setelah interogasi singkat dan pemeriksaan seadanya (mereka tidak menemukan apa-apa padanya, bahkan kantong koin virtualnya pun tidak ada), Kaelen akhirnya mengizinkannya masuk, namun dengan peringatan. “Jangan membuat masalah, orang asing. Hukum di Sekandaya Port ditegakkan dengan pedang Justice's Edge. Mata kami mengawasimu.”
Reinh melangkah melewati gerbang, jantungnya berdebar. Ia berada di Sekandaya Port, kota yang begitu ia kenal seluk-beluknya dari peta game. Namun, semuanya terasa asing. Udara dipenuhi aroma ikan asin yang menyengat, garam laut, ter, dan suara riuh pedagang yang meneriakkan barang dagangan mereka dalam bahasa yang ia pahami namun dengan aksen dan istilah lokal yang baru, bukan sekadar voice lines NPC yang berulang. Orang-orang berlalu lalang, wajah-wajah yang sebagian ia kenali sebagai avatar pemain, kini hidup sebagai pedagang ikan dengan tangan kapalan, pengrajin dengan pakaian ternoda, pelaut dengan kulit terbakar matahari, atau sekadar penduduk kota biasa yang sibuk. Mereka tertawa, berdebat, bertransaksi, menjalani kehidupan mereka sendiri, tanpa sedikit pun tanda bahwa mereka pernah menjadi ‘pemain’ dari dunia lain yang menghabiskan malam suntuk untuk grinding atau raid boss di depan monitor.
Ia melihat seorang wanita muda dengan rambut biru dikepang, yang dulu adalah ‘AquaMarine’, seorang healer terkenal di servernya. Kini, ia sedang menawar harga sayuran dengan seorang pedagang tua yang galak, raut wajahnya menunjukkan kekesalan yang tulus. Di sebelahnya, seorang pria kekar berjanggut lebat, dulu ‘IronBeard the Unbreakable’ sang tanker legendaris, sedang menggendong anak kecil perempuan yang tertawa riang sambil memegang permen lolipop, senyumnya penuh kehangatan seorang ayah. Mereka memiliki keluarga, kehidupan, silsilah di Tierias ini.
Reinh berjalan menuju alun-alun utama, tempat di mana dulu para pemain berkumpul untuk membentuk party atau sekadar memamerkan armor set terbaru mereka di depan layar. Kini, tempat itu dipenuhi penduduk lokal yang sibuk dengan aktivitas mereka—anak-anak bermain kejar-kejaran dengan tawa riang yang nyata, para wanita bergosip di dekat sumur sambil membawa ember sungguhan, dan beberapa musisi jalanan memainkan melodi yang asing namun merdu dengan instrumen yang terbuat dari kayu dan kulit hewan, menghasilkan musik yang mengalun indah, bukan looping background music. Ia duduk di tepi air mancur batu berukir naga laut yang sama persis seperti di game, namun kini airnya terasa lebih dingin menyegarkan saat ia mencelupkan tangannya, dan lumut hijau yang tumbuh di bebatuannya terasa nyata dan sedikit licin saat disentuh.
Sebuah kesadaran yang dingin dan menakutkan mulai merayapinya, menusuk hingga ke tulang. Ini bukan patch baru. Ini bukan event game. Ini adalah kenyataan yang berbeda. Dunia Tale's of Aurora yang ia kenal dari layar PC-nya telah menjadi nyata, atau ia yang terlempar ke dalamnya. Dan yang lebih mengerikan, hanya dirinya yang mengingat segalanya. Ingatan tentang dunia asalnya, tentang game, tentang identitasnya sebagai Luminere, sang Awakener. Para pemain lain, teman-temannya, rivalnya… mereka semua telah melupakan segalanya, terlahir kembali sebagai penduduk asli dunia ini.
Para Key of Aura—roh penjaga sakti yang dulunya dalam game adalah item atau skill yang bisa dipanggil dari random map drop atau item summoning scroll untuk bertempur, memberikan buff beragam dan mengikuti pemain sebagai partikel cahaya atau wujud mini yang terlihat di layar—kini pasti menjadi entitas liar, kehilangan arah dan tujuan setelah ditinggalkan oleh para pemain yang menjadi "tuan" atau "pemanggil" mereka. Mereka adalah manifestasi kekuatan surgawi Tierias atau makhluk buas dari alam gelap Pandemonium, yang dulunya dalam lore game terikat pada Utusan Dewi Sifa untuk berperang bersama. Sekarang, mereka bebas, berkesadaran, dan mungkin berbahaya.
Ia sendirian. Terasing. Dengan ingatan yang menjadi beban. Ia adalah The Last Awakener, yang terakhir dari para Utusan yang masih sadar.
Kehampaan yang selama ini merongrong jiwanya di dunia nyata kini terasa semakin pekat di dunia mimpi yang telah menjadi kenyataan ini. Sumpah Yui kembali berdengung di telinganya, seolah menemukan panggung baru untuk menghantuinya. Di tengah keramaian Sekandaya Port, Reinh merasa lebih kesepian dari sebelumnya. Apa yang harus ia lakukan di dunia tanpa sistem ini, di mana ia adalah satu-satunya yang mengingat kebenaran?