Malam pertama Reinh di Sekandaya Port—atau lebih tepatnya, di dunia Tierias yang kini nyata—dihabiskannya dalam kegelisahan di sebuah lorong sempit antara gudang ikan beraroma tajam dan kedai minum kumuh, The Salty Dog Inn. Aroma amis ikan yang menyengat bercampur dengan bau bir basi dan muntahan menjadi teman tidurnya yang tak diundang. Ia tak punya sepeser pun Copper Piece (Keping Tembaga) untuk menyewa kamar termurah sekalipun. Pakaiannya yang sudah compang-camping semakin kotor, dan dinginnya angin laut malam itu menusuk hingga ke tulang, sensasi yang tak pernah ia rasakan dari efek cuaca di Tale's of Aurora yang hanya berupa animasi rintik hujan atau butiran salju di layar monitornya.
Ketika fajar pertama menyingsing di atas pelabuhan, membiaskan cahaya keemasan pada riak air laut dan menyinari menara-menara pengawas yang menjulang, Reinh terbangun dengan tubuh kaku dan perut keroncongan. Ia menggosok matanya yang kini berwarna kuning cerah, mencoba mengusir sisa-sisa mimpi buruk tentang Yui dan sumpahnya, yang terasa semakin nyata di dunia ini.
Ia bangkit, meregangkan otot-ototnya yang pegal. Sekandaya Port di pagi hari adalah pemandangan yang hidup dan penuh energi, jauh berbeda dari kota statis dengan NPC yang berjalan dalam rute terbatas seperti yang ia ingat dari game. Para nelayan dengan perahu-perahu kecil, yang disebut Sea Skiffs (Sekoci Laut) dan Brine Cutters (Pemotong Air Asin), baru saja kembali dari melaut, membawa hasil tangkapan mereka yang beragam—ikan-ikan perak berkilauan seperti Silverfin Herrings (Hering Sirip Perak), kepiting-kepiting raksasa dengan capit mengancam yang disebut Stoneclaw Crabs (Kepiting Capit Batu), dan kerang-kerang beraneka warna. Suara mereka berteriak menawarkan dagangan, tawar-menawar dengan para pedagang ikan di dermaga Fishmonger's Square (Alun-alun Penjual Ikan), dan derit kayu perahu yang bergesekan dengan dermaga menciptakan simfoni pagi yang bising namun otentik. Anak-anak kecil berlarian di antara kaki-kaki orang dewasa, tertawa riang sambil mengejar Sea Gulls (Camar Laut) yang terbang rendah. Aroma roti segar yang baru dipanggang dari kedai roti "The Rolling Pin Bakery" (Toko Roti Penggiling Adonan) di ujung jalan bercampur dengan aroma laut, menciptakan kontras yang aneh namun membangkitkan selera.
Reinh berjalan tanpa tujuan, mengamati semua detail itu dengan campuran takjub dan keputusasaan. Di game, semua ini hanya fasad, tekstur dan model 3D yang dirancang untuk menciptakan ilusi kehidupan. Di sini, setiap individu memiliki ekspresi, setiap benda memiliki berat dan tekstur, setiap suara memiliki sumber yang jelas. Ia melihat seorang pandai besi, yang avatarnya dulu ia kenal sebagai ‘ForgeMasterJax’, kini dengan nama asli mungkin Theron Ironhand, sedang menempa sebilah pedang di bengkelnya, "The Adamant Anvil" (Landasan Adamantin). Keringat membasahi dahinya, otot-otot lengannya menonjol saat ia menghantamkan palu ke logam membara, percikan api beterbangan—semua detail itu begitu nyata, bukan sekadar animasi berulang.
Namun, keindahan dan realisme dunia baru ini tidak mampu mengusir rasa lapar yang semakin menjadi. Perutnya terasa melilit. Ia harus mencari cara untuk mendapatkan makanan dan, jika mungkin, tempat berteduh yang lebih layak. Pikirannya kembali ke mekanisme dasar game MMORPG: quest (misi). Di Tale's of Aurora, Guild Petualang adalah tempat utama untuk mendapatkan pekerjaan dan imbalan. Mungkin di dunia ini pun sama.
Dengan sedikit harapan, ia bertanya kepada seorang pedagang buah tua yang sedang menata apel-apel merah berkilau, Crimson Apples (Apel Merah Delima), di keranjangnya. “Permisi, Tuan. Bisakah Anda memberitahu saya di mana letak Guild Petualang?”
Pedagang itu, dengan wajah keriput dan senyum ramah, menunjuk ke sebuah jalan yang lebih besar. “Lurus saja ke arah alun-alun utama, Nak. Kau akan melihat bangunan besar dengan lambang perisai dan pedang bersilang, ‘The Valiant Hall’ (Balai Para Pemberani). Itu Guild Petualang kita.”
“Terima kasih, Tuan…”
“Panggil saja Pak Tua Elmsworth,” jawabnya sambil terkekeh.
Reinh mengangguk dan berjalan menuju arah yang ditunjukkan. The Valiant Hall. Nama yang terdengar heroik. Bangunan guild itu memang megah, terbuat dari batu abu-abu solid dengan jendela-jendela melengkung tinggi dan pintu kayu ek ganda yang besar. Lambang perisai dan pedang bersilang terukir jelas di atas pintu masuk. Di game, gedung guild hanyalah titik interaksi, sebuah fasad. Di sini, ia terasa kokoh dan nyata.
Dengan sedikit gugup, Reinh mendorong pintu berat itu dan melangkah masuk. Interiornya luas dan ramai, meskipun tidak seramai lobby guild di game yang dipenuhi ratusan avatar pemain. Beberapa petualang dengan zirah kulit dan s*****a tersandang di punggung sedang berbincang di meja-meja bundar, suara tawa dan denting gelas sesekali terdengar. Dindingnya dihiasi berbagai macam trofi monster—kepala Dire Wolf (Serigala Ganas) dengan taring menguning, tanduk Minotaur Chieftain (Kepala Suku Minotaur) yang melengkung, bahkan sepasang cakar Gryphon Skyhunter (Gryphon Pemburu Langit) raksasa—semua tampak asli dan mengerikan. Papan pengumuman besar dari kayu gelap, yang disebut Quest Board (Papan Misi), tergantung di salah satu dinding, dipenuhi berbagai perkamen berisi tawaran pekerjaan.
Di belakang meja resepsionis yang panjang dan terbuat dari kayu mahoni mengkilap, berdiri seorang wanita muda dengan rambut cokelat muda yang diikat rapi ke belakang dan mata hijau cerah yang menatapnya dengan profesional namun ramah. Reinh tertegun sejenak. Itu Elara, NPC resepsionis guild yang sama persis seperti di game, hingga detail jepit rambut berbentuk bunga kecil yang dikenakannya. Namun, ada sesuatu yang berbeda. Tatapannya lebih hidup, senyumnya lebih tulus, dan ada sedikit kerutan halus di sudut matanya saat ia tersenyum, detail yang tak pernah ada pada model karakter NPC.
“Selamat datang di The Valiant Hall, Guild Petualang Sekandaya Port. Ada yang bisa saya bantu?” sapanya dengan suara merdu.
Reinh masih mencoba memproses ini dalam kerangka “game”, meskipun kesadaran pahit dari hari sebelumnya mulai meresap. Ia mendekati meja, mencoba mengingat dialog standar untuk menerima quest. “Saya… ingin mendaftar sebagai petualang,” katanya, sedikit canggung.
Wanita itu tersenyum. “Tentu saja. Nama saya Livia Thorne, petugas administrasi guild. Siapa nama Anda?”
Livia Thorne? Bukan Elara? Lagi-lagi nama yang berbeda untuk wajah yang sama. Reinh menarik napas. Ia tidak bisa menggunakan nama "Luminere". Nama itu adalah miliknya di Tale's of Aurora, nama seorang Awakener yang kuat dan disegani. Menggunakannya sekarang, dalam kondisi ini, dengan penampilan acak-acakan dan tanpa kekuatan apa pun, terasa seperti sebuah ironi pahit. Nama itu adalah pengingat akan apa yang telah hilang, pengingat akan kebingungan dan keterasingan yang ia rasakan saat pertama kali menyadari perubahan mengerikan di dunia ini, seperti yang ia alami kemarin di hutan dan saat melihat pantulan dirinya yang berbeda. Ia butuh sesuatu yang netral, sesuatu yang tidak membawa beban masa lalu virtualnya. “Reinh,” jawabnya singkat. Ia memutuskan untuk tidak menggunakan nama belakang "Aggna" yang ia sebutkan pada Barnaby. Untuk saat ini, "Reinh" saja sudah cukup.
Livia mengambil selembar perkamen dan pena bulu. “Baik, Reinh. Apakah Anda memiliki pengalaman bertualang sebelumnya? Atau surat rekomendasi dari guild lain?”
Di game, prosesnya hanya beberapa klik. Sekarang, ada formulir dan pertanyaan. “Saya… pernah bertualang cukup lama,” jawab Reinh, tidak yakin bagaimana menjelaskan pengalamannya sebagai pemain level tinggi. “Tapi saya tidak punya surat rekomendasi.”
Livia mengangguk mengerti. “Tidak masalah. Banyak petualang memulai dari sini. Ada biaya pendaftaran sebesar lima Copper Pieces (Keping Tembaga) untuk pembuatan kartu identitas guild dan administrasi awal.”
Lima Copper Pieces. Reinh merogoh sakunya. Kosong. Wajahnya pasti menunjukkan kekecewaan, karena Livia menatapnya dengan sedikit iba. “Apakah ada masalah, Reinh?”
“Saya… saya tidak punya uang saat ini,” aku Reinh malu.
Livia terdiam sejenak, lalu tersenyum maklum. “Begini saja. Ada beberapa pekerjaan sangat mendesak yang tidak memerlukan kualifikasi tinggi. Jika Anda bersedia mengambil salah satunya dan berhasil, biaya pendaftaran bisa dipotong dari imbalan pertama Anda. Bagaimana?”
Ini berbeda dari game, di mana NPC tidak pernah menawarkan keringanan seperti itu. “Itu… sangat membantu, Nona Livia. Terima kasih.”
“Sama-sama. Silakan lihat Quest Board (Papan Misi) di sebelah sana. Pilih pekerjaan dengan tanda bintang perunggu, itu untuk petualang pemula, atau Bronze Rank Quests (Misi Peringkat Perunggu). Setelah Anda pilih, bawa perkamennya kembali ke sini.”
Reinh menuju Quest Board. Perkamen-perkamen itu ditulis tangan dengan rapi, beberapa dengan gambar kasar monster atau lokasi. Judul-judulnya seperti: “Cellar Rat Extermination at The Tipsy Mermaid Tavern (Pemberantasan Tikus Gudang di Kedai Putri Duyung Mabuk) – Imbalan: 10 Copper Pieces”, “Lost Tabby Cat Retrieval for Old Lady Willow (Pencarian Kucing Belang Hilang untuk Nenek Willow) – Imbalan: 7 Copper Pieces, plus pai apel”, “Urgent Scroll Delivery to Old Mill Bridge (Pengantaran Gulungan Mendesak ke Jembatan Kincir Tua) – Imbalan: 15 Copper Pieces”. Ini jauh dari quest epic raid boss (misi bos penyerbuan epik) atau legendary artifact hunt (perburuan artefak legendaris) yang biasa ia pimpin sebagai Luminere.
Ia memilih yang paling terdengar “aman” dan bisa ia kerjakan dengan kemampuan sihir dasar yang tersisa: “Herbalist Elara’s Request: Gather Sunpetal Flowers near Elderwood Grove (Permintaan Herbalis Elara: Kumpulkan Bunga Kelopak Mentari dekat Hutan Elderwood) – Imbalan: 12 Copper Pieces.” Mengumpulkan bunga. Di game, ini hanya berjalan ke titik tertentu di peta dan mengklik objek. Seharusnya mudah. Tunggu, Elara? Nama yang sama dengan NPC resepsionis guild di game, tapi Livia Thorne adalah nama resepsionis di sini. Mungkinkah ada Elara lain, seorang herbalis?
Ia membawa perkamen itu kembali ke Livia. “Saya ambil yang ini.”
Livia mencatatnya. “Baik. Sunpetal Flowers (Bunga Kelopak Mentari) biasanya tumbuh di padang rumput tepat sebelum Hutan Elderwood. Herbalis Elara di The Gilded Mortar (Lumpang Bersepuh Emas) sangat membutuhkannya. Hati-hati dengan Forest Sprites (Peri Hutan) atau Wild Snappers (Penggigit Liar) kecil yang kadang muncul di sana. Bawa kembali minimal selusin bunga yang masih segar sebelum matahari terbenam.”
Forest Sprites? Wild Snappers? Itu monster level 1 atau 2 di game. Tapi peringatan Livia terdengar serius.
Dengan sedikit perbekalan roti sisa dari Barnaby dan tekad baru, Reinh meninggalkan guild. Elderwood Grove tidak terlalu jauh dari gerbang timur kota, Eastgate (Gerbang Timur). Ia berjalan kaki, merasakan setiap kerikil di bawah sol sepatunya yang tipis. Padang rumput itu indah, dipenuhi bunga liar beraneka warna yang belum pernah ia lihat di game. Ia segera menemukan Sunpetal Flowers, bunga kuning cerah dengan kelopak seperti matahari, persis seperti ikonnya di game, namun kini dengan tekstur dan aroma yang nyata. Namun, mengumpulkannya tidak semudah mengklik. Ia harus berjongkok, memilih bunga yang mekar sempurna, dan memetiknya dengan hati-hati agar tidak rusak, merasakan getah lengket di jarinya.
Saat sedang asyik memetik, ia mendengar suara gemerisik dari semak-semak di dekatnya. Seekor Wild Snapper—kura-kura kecil dengan rahang kuat dan cangkang berduri yang berkilau kehijauan—muncul, matanya yang kecil dan hitam menatap Reinh dengan agresif. Di game, ia hanya perlu satu Ignis Minor level rendah untuk mengalahkannya.
Reinh bersiap. “Ignis Minor!” Bola api kecil melesat, namun Wild Snapper itu dengan gesit menghindar ke samping dengan gerakan yang tak terduga, lalu menerjang dengan cepat, mencoba menggigit pergelangan kakinya. Reinh terkejut dengan kecepatan dan agresivitasnya. Ia melompat mundur, lalu mencoba merapal mantra lagi, kali ini lebih fokus. Bola api kedua mengenai cangkang kura-kura itu, membuatnya sedikit berasap tapi tidak melukainya secara signifikan. Kura-kura itu kembali menyerang, suaranya mendesis pelan.
Pertarungan melawan satu monster level rendah ternyata jauh lebih sulit dan melelahkan daripada yang ia bayangkan. Ia harus terus bergerak, menghindari gigitan, sambil mencoba merapal mantra dengan energi yang terbatas. Setiap mantra terasa menguras staminanya. Akhirnya, setelah beberapa kali terkena serangan sihirnya di bagian kepala yang tidak terlindungi cangkang, Wild Snapper itu berhenti bergerak, tergeletak dengan kaki terbalik. Reinh terengah-engah, keringat membasahi keningnya. Ini hanya satu monster kecil. Bagaimana jika ia bertemu sesuatu yang lebih besar, seperti Shadowfang Wolves (Serigala Taring Bayangan) yang disebut Barnaby?
Ia melanjutkan mengumpulkan bunga, kini dengan kewaspadaan lebih tinggi. Setelah mendapatkan lebih dari selusin Sunpetal, ia bergegas kembali ke Sekandaya Port sebelum matahari terbenam.
Livia tersenyum saat melihatnya kembali dengan seikat bunga segar, meskipun pakaian Reinh sedikit lebih kotor dan ada goresan kecil di lengannya. “Kerja bagus, Reinh. Herbalis Elara akan senang. Ini imbalan Anda.” Ia menghitung dua belas Copper Pieces dan menyerahkannya kepada Reinh. Lima koin langsung diambil untuk biaya pendaftaran. Sisanya, tujuh koin tembaga, terasa begitu berat dan berharga di tangannya. Ini adalah uang pertama yang ia hasilkan di dunia ini, dengan jerih payah sungguhan.
“Kartu identitas guild Anda akan siap besok pagi,” kata Livia. “Selamat datang secara resmi di The Valiant Hall, Reinh.”
Dengan tujuh koin itu, Reinh membeli sepotong roti gandum yang lebih besar dan semangkuk sup sayuran hangat, Hearty Vegetable Stew (Sup Sayuran Hangat Mengenyangkan), di kedai makan sederhana dekat pasar, “The Weary Traveler’s Hearth” (Perapian Pelancong Lelah). Rasa makanan itu, meskipun sederhana, adalah yang terenak yang pernah ia rasakan, mungkin karena ia begitu lapar, atau mungkin karena ini adalah hasil usahanya sendiri. Ia juga menyewa kamar terkecil dan termurah di penginapan The Rusty Anchor (Jangkar Berkarat), sebuah ruangan sempit dengan tempat tidur jerami dan satu jendela kecil yang menghadap ke lorong belakang yang bau. Setidaknya, lebih baik daripada tidur di antara gudang ikan.
Malam itu, berbaring di tempat tidur jeraminya yang sedikit tidak nyaman, Reinh menatap langit-langit kayu yang rendah. Ia berhasil bertahan hidup satu hari di dunia ini. Ia mendapatkan makanan, tempat berteduh, dan pekerjaan. Ia bahkan punya nama baru, Reinh Aggna, sebuah identitas kosong yang bisa ia isi. Namun, rasa kesepian itu masih ada, bahkan lebih kuat. Keindahan detail Tierias yang kini bisa ia rasakan dengan semua inderanya—angin laut yang asin, aroma roti panggang, hangatnya sinar matahari, dinginnya malam—semuanya nyata. Tapi, ia sendirian dengan ingatannya. Semua orang yang ia kenal dari Tale's of Aurora kini adalah orang asing. Dunia asalnya terasa begitu jauh, seperti mimpi yang memudar.
Sumpah Yui kembali terngiang di benaknya, bergema dalam kesunyian kamarnya. “…tak ada bahagia yang akan tinggal bersamamu.” Apakah ini awal dari pemenuhan sumpah itu? Terlempar ke dunia asing, sendirian, tanpa kekuatan, tanpa teman. Reinh memejamkan matanya, mencoba mengusir pikiran itu. Besok adalah hari baru. Ia harus terus berjuang, mencari jawaban, dan mungkin… menemukan cara untuk tidak hanya bertahan hidup, tetapi juga menemukan makna di dunia yang terasa begitu nyata namun sekaligus begitu kejam ini.