Hari-hari berikutnya di Sekandaya Port berlalu dengan rutinitas yang monoton namun melelahkan bagi Reinh. Tidur di kamar penginapan The Rusty Anchor (Jangkar Berkarat) yang sempit dan berbau apak, bangun pagi dengan perut keroncongan, lalu menuju The Valiant Hall (Balai Para Pemberani) untuk mencari Bronze Rank Quests (Misi Peringkat Perunggu) rendahan yang bisa ia kerjakan. Imbalannya pas-pasan, cukup untuk makan sekali sehari—biasanya semangkuk Fisherman's Stew (Sup Nelayan) yang hambar atau beberapa potong Hardtack Biscuits (Biskuit Keras)—dan membayar sewa kamar.
Ia telah menyelesaikan beberapa misi lagi: mengusir Wharf Rats (Tikus Dermaga) yang mengganggu gudang penyimpanan seorang pedagang garam bernama Master Borin Saltbeard, mengantarkan surat ke sebuah desa nelayan kecil bernama Prawn** (Desa Udang Windu) yang terletak beberapa mil di sepanjang pesisir—sebuah perjalanan yang membuatnya basah kuyup oleh ombak dan hampir tersesat di antara tebing-tebing pantai yang curam. Ia juga mencoba membantu seorang wanita tua bernama Mistress Hettle mencari kucingnya yang hilang, Ser Pounce-a-lot, namun kucing itu ternyata lebih lincah darinya dan kembali dengan sendirinya setelah Reinh menghabiskan setengah hari mencarinya di lorong-lorong sempit Sekandaya. Setiap misi, sekecil apa pun, terasa nyata bahayanya. Tikus-tikus gudang itu ternyata seukuran kucing kecil dan gigitannya menyakitkan. Perjalanan ke Prawn** membuatnya berhadapan dengan Giant Crabs (Kepiting Raksasa) yang capitnya bisa mematahkan kayu.
Meskipun fisiknya mulai terbiasa dengan kerasnya kehidupan di Tierias, dan sihir dasarnya seperti Ignis Minor (Api Kecil) dan Glacies Scutum (Perisai Es) mulai bisa ia kendalikan dengan lebih baik (meskipun tetap menguras staminanya dengan cepat), Reinh merasa frustrasi. Ini bukan kehidupan yang ia inginkan. Ia adalah Luminere, sang Awakener, salah satu penyihir terkuat di Tale's of Aurora. Sekarang, ia direduksi menjadi petualang rendahan yang berjuang untuk sesuap nasi.
Ingatan akan kekuatannya yang hilang, skill-skill dahsyat seperti Meteor Fall (Hujan Meteor) atau Chain Lightning (Petir Berantai) yang dulu bisa ia rapalkan dengan mudah, kini hanya menjadi angan-angan pahit. Setiap kali ia mencoba mengakses kekuatan yang lebih besar, kepalanya terasa pening dan dadanya sesak, seolah ada dinding tak kasat mata yang menghalangi. Levelnya yang di-reset bukan hanya menghilangkan statistiknya, tetapi juga koneksinya dengan esensi sihir yang lebih dalam.
Suatu pagi, setelah sarapan roti keras dan air putih, Reinh kembali ke The Valiant Hall. Ia menatap Quest Board dengan tatapan bosan. Misi-misi perunggu itu terasa seperti penghinaan. Ia butuh tantangan yang lebih besar, sesuatu yang bisa menguji batas kemampuannya yang tersisa, dan mungkin, hanya mungkin, memicu kembali sebagian kecil dari kekuatannya yang hilang. Ia juga butuh uang lebih banyak. Hidup dari tujuh atau sepuluh Copper Pieces per hari terasa menyiksa.
Matanya tertuju pada bagian papan yang sedikit lebih tinggi, di mana perkamen-perkamen dengan tanda bintang perak—Silver Rank Quests (Misi Peringkat Perak)—digantung. Misi-misi ini biasanya untuk petualang yang lebih berpengalaman, dengan imbalan yang jauh lebih besar, namun juga risiko yang lebih tinggi.
Salah satu perkamen menarik perhatiannya: “Urgent: Clear Shadowfen Den of Giant Spiders (Mendesak: Bersihkan Sarang Laba-laba Raksasa di Rawa Shadowfen) – Imbalan: 75 Copper Pieces. Peringatan: Sangat Berbahaya. Diperlukan party minimal 3 orang.”
Shadowfen Den. Reinh mengingat tempat itu dari game. Sebuah rawa gelap dan berkabut di pinggiran Hutan Whispering Woods, dipenuhi laba-laba beracun dan monster rawa lainnya. Dulu, ia bisa membersihkan tempat itu sendirian dalam hitungan menit. Sekarang? Ia tidak yakin. Tapi imbalan 75 Copper Pieces sangat menggiurkan. Itu cukup untuk makan enak selama seminggu dan mungkin membeli tongkat sihir yang lebih baik dari Simple Wooden Staff (Tongkat Kayu Sederhana) yang ia gunakan, yang ia pungut dari tumpukan kayu bakar Barnaby.
Ia mengambil perkamen itu, mengabaikan peringatan "diperlukan party". Ia akan melakukannya sendiri. Ia harus membuktikan pada dirinya sendiri bahwa ia masih memiliki sesuatu yang tersisa dari Luminere.
Livia Thorne menatapnya dengan alis terangkat saat Reinh menyerahkan perkamen misi perak itu. “Reinh, ini misi Peringkat Perak. Biasanya untuk petualang yang sudah memiliki reputasi dan perlengkapan yang lebih baik. Dan tertulis jelas, dibutuhkan party.”
“Saya mengerti, Nona Livia. Tapi saya ingin mencobanya,” kata Reinh dengan nada datar namun tegas.
Livia menghela napas. “Baiklah. Tapi jika terjadi sesuatu padamu, Guild tidak bertanggung jawab. Shadowfen Den terkenal mematikan. Bahkan party berpengalaman pun kadang kesulitan di sana. Ada laporan tentang Venomfang Broodmother (Induk Taring Berbisa) yang sangat besar baru-baru ini.”
Reinh hanya mengangguk. Ia sudah mengambil keputusan.
Perjalanan menuju Shadowfen Den memakan waktu beberapa jam berjalan kaki ke arah barat daya Sekandaya Port, melewati ladang-ladang gandum yang mulai menguning dan beberapa dusun kecil yang tampak miskin seperti Dusun Willow Creek dan Hamlet Batu Pecah. Penduduknya menatapnya dengan campuran rasa ingin tahu dan kasihan, melihat pakaiannya yang masih belum layak disebut pakaian petualang.
Semakin dekat ia ke Shadowfen, udara semakin lembap dan berbau tanah busuk. Pepohonan menjadi lebih rapat dan gelap, cabangnya meliuk-liuk seperti tangan-tangan kerangka. Kabut tipis mulai turun, membatasi jarak pandang. Suara-suara serangga malam mulai terdengar meskipun hari masih sore. Ini persis seperti atmosfer Shadowfen yang ia ingat, namun kini dengan sensasi dingin dan bau yang nyata.
Ia memasuki area rawa. Tanah di bawah kakinya becek dan berlumpur, membuat langkahnya berat. Pohon-pohon bakau kerdil tumbuh di sana-sini, akarnya mencuat dari air keruh. Jaring laba-laba raksasa, tebal dan lengket, menggantung di antara pepohonan seperti tirai menyeramkan. Beberapa di antaranya sebesar seprai.
Tak lama, serangan pertama datang. Seekor Shadowfen Stalker (Penguntit Shadowfen)—laba-laba seukuran anjing besar dengan bulu hitam legam dan delapan mata merah menyala—melompat dari balik pohon, mencoba menerkamnya.
Reinh sigap menghindar. “Ignis Minor!” Bola api menghantam tubuh laba-laba itu, membuatnya menjerit kesakitan (suara melengking yang tak pernah ada di game) dan mundur beberapa langkah, bulunya sedikit hangus. Tapi ia tidak mati. Laba-laba itu kembali menyerang, kali ini menyemburkan jaring lengket dari mulutnya. Reinh berhasil menghindar lagi, namun sebagian jaring mengenai tongkat kayunya, membuatnya terasa lengket dan berat.
“s**l!” umpat Reinh. Ia merapal Ignis Minor lagi, kali ini membidik kaki-kaki laba-laba itu. Beberapa kakinya terbakar, memperlambat gerakannya. Reinh memanfaatkan kesempatan itu untuk menghantamkan tongkatnya ke kepala laba-laba itu dengan sekuat tenaga. Ada suara retak pelan, dan laba-laba itu ambruk.
Satu lawan satu, dan ia sudah kelelahan. Bagaimana jika ada lebih banyak?
Seolah menjawab pertanyaannya, dua Shadowfen Stalker lagi muncul dari balik semak-semak, bergerak cepat mengepungnya. Reinh mengutuk dalam hati. Ia merapal Glacies Scutum untuk menahan serangan satu laba-laba, lalu berbalik dan menembakkan Ignis Minor ke laba-laba lainnya. Pertarungan menjadi kacau. Ia harus terus bergerak, menghindari taring beracun dan semburan jaring, sambil mencoba mencari celah untuk menyerang. Tongkat kayunya terasa tidak berguna melawan eksoskeleton keras laba-laba itu.
Setelah pertarungan yang terasa seperti selamanya, kedua laba-laba itu akhirnya berhasil ia kalahkan, namun dengan harga mahal. Pakaiannya semakin sobek, ada beberapa goresan berdarah di lengannya, dan napasnya tersengal-sengal. Ia duduk bersandar di pohon, mencoba mengatur napas. Ini jauh lebih sulit dari yang ia perkirakan. Keangkuhannya sebagai mantan pemain level tinggi mulai terkikis.
Tiba-tiba, tanah di bawahnya bergetar. Dari balik rumpun semak raksasa, muncul sesosok makhluk yang jauh lebih besar. Venomfang Broodmother yang disebutkan Livia. Laba-laba itu sebesar kuda kecil, dengan perut buncit berwarna hijau kehitaman dan taring-taring panjang yang meneteskan cairan beracun berwarna ungu. Delapan matanya yang majemuk menatap Reinh dengan kebencian murni. Di belakangnya, belasan Shadowfen Hatchlings (Anakan Shadowfen) seukuran kucing mulai merayap keluar.
Reinh menelan ludah. Ini buruk. Sangat buruk. Ia tidak mungkin bisa melawan induk laba-laba sebesar ini dan semua anaknya sendirian. Ia mencoba merapal Ignis Major (Api Besar), sebuah skill yang sedikit lebih kuat, namun energi yang dibutuhkan terlalu besar. Yang keluar hanya bola api yang sedikit lebih besar dari Ignis Minor, tidak cukup untuk mengancam sang Induk.
Sang Induk menjerit melengking, lalu menerjang ke arah Reinh dengan kecepatan mengerikan. Reinh hanya bisa memejamkan mata, mengangkat tongkatnya dengan sia-sia untuk menahan serangan yang tak terhindarkan.
SRIING! s***h!
Tepat sebelum taring beracun itu mencapai wajahnya, dua kilatan perak melintas di udara. Ada suara daging terpotong dan jeritan kesakitan dari sang Induk Laba-laba. Reinh membuka matanya, terkejut.
Di depannya, berdiri seorang wanita dengan rambut cokelat yang diikat ekor kuda, bergerak dengan kelincahan luar biasa. Di kedua tangannya tergenggam sepasang pedang pendek yang berkilau, Twin Daggers of the Swiftwind (Belati Kembar Angin Cepat) atau mungkin Shadowdancer Blades (Bilah Penari Bayangan), pikir Reinh cepat. Wanita itu menari di antara serangan Induk Laba-laba dan anak-anaknya, pedangnya menebas dan menusuk dengan presisi mematikan. Setiap gerakannya efisien, setiap serangannya mengenai titik lemah. Itu Ghyfin.
Induk Laba-laba itu meraung marah, beberapa kakinya terluka parah oleh serangan Ghyfin. Ia mencoba menyerang Ghyfin, namun wanita itu terlalu cepat, menghindar dengan mudah lalu melancarkan serangan balasan. Anak-anak laba-laba yang mencoba membantu induknya ditebas satu per satu oleh Ghyfin tanpa kesulitan berarti.
Reinh terpaku, menyaksikan pertunjukan keahlian bertarung yang luar biasa. Ghyfin bergerak seperti badai, pedangnya menjadi perpanjangan dari lengannya. Ia tidak menggunakan sihir, murni keahlian fisik dan kecepatan.
Dalam beberapa menit yang terasa menegangkan, Induk Laba-laba itu akhirnya ambruk dengan beberapa luka menganga di tubuhnya, mengeluarkan cairan hijau kental. Ghyfin berdiri di atas bangkai laba-laba itu, napasnya sedikit terengah, namun tatapannya tetap tajam. Ia membersihkan darah laba-laba dari pedangnya dengan gerakan cepat, lalu menyarungkannya kembali ke pinggangnya.
Ia menoleh ke arah Reinh yang masih terduduk lemas. “Kau baik-baik saja?” tanyanya, suaranya tenang namun ada sedikit nada tidak sabar.
Reinh hanya bisa mengangguk, masih terlalu terkejut untuk berbicara.
Ghyfin mendekat, mengamati Reinh dari atas ke bawah. “Kau nekat sekali datang ke Shadowfen Den sendirian. Apalagi dengan perlengkapan seperti itu.” Ia menunjuk tongkat kayu Reinh dengan dagunya. “Kau penyihir, kan? Tapi cara bertarungmu… aneh. Terlalu mengandalkan mantra dasar, kurang taktis.”
Reinh merasa sedikit tersinggung, namun ia tahu Ghyfin benar. “Saya… masih beradaptasi,” jawabnya lirih.
Ghyfin mendengus pelan. “Beradaptasi atau bunuh diri. Di Tierias, batasnya tipis.” Ia mengulurkan tangannya. “Bisa berdiri?”
Reinh menerima uluran tangan Ghyfin dan bangkit, kakinya masih sedikit gemetar. “Terima kasih. Kau… menyelamatkan nyawaku.”
“Lain kali, jangan mengambil misi yang jelas-jelas di luar kemampuanmu sendirian,” kata Ghyfin, nada suaranya sedikit lebih lembut, namun tetap tegas. “Keberuntungan tidak selalu datang dua kali.”
Ada keheningan canggung di antara mereka. Reinh tidak tahu harus berkata apa lagi. Ghyfin menatap sekeliling, memastikan tidak ada lagi ancaman.
“Sebaiknya kau segera kembali ke Sekandaya,” kata Ghyfin akhirnya. “Tempat ini bukan untuk petualang solo sepertimu. Setidaknya, belum.”
“Bagaimana denganmu?” tanya Reinh.
“Aku punya urusan lain di sekitar sini.” Ghyfin tidak menjelaskan lebih lanjut. Ia berbalik, siap untuk pergi.
“Tunggu!” seru Reinh. “Siapa namamu?” Meskipun ia sudah tahu, ia merasa harus bertanya.
Ghyfin menoleh sedikit. “Ghyfin.” Lalu, tanpa menunggu jawaban Reinh, ia melompat ke atas dahan pohon besar dan menghilang di antara lebatnya dedaunan dengan kelincahan yang membuat Reinh kembali ternganga.
Reinh berdiri sendirian di tengah rawa yang kini sunyi, hanya suara erangan Induk Laba-laba yang sekarat yang terdengar. Ia merasa campuran antara lega, malu, dan rasa ingin tahu yang besar terhadap Ghyfin. Wanita itu kuat, misterius, dan baru saja menyelamatkannya. Ia berhutang nyawa padanya. Dan ia bahkan belum sempat menanyakan kenapa Ghyfin ada di tempat berbahaya ini sendirian.
Dengan sisa tenaga yang ada, Reinh memotong beberapa taring beracun dari bangkai Induk Laba-laba sebagai bukti misinya, lalu bergegas meninggalkan Shadowfen Den sebelum malam benar-benar turun atau monster lain muncul. Pertemuannya dengan Ghyfin meninggalkan lebih banyak pertanyaan daripada jawaban di benaknya.