7. Si Tampan Mempesona

1060 Words
Setelah libur tiga hari, akhirnya Rivka kembali bekerja. Usai perdebatan cukup panjang antara dirinya dan kedua orang tuanya, akhirnya Rivka dan Rendy tidak jadi pergi berbulan madu, tetapi Rivka harus pindah dengan Rendy ke rumah baru mereka nanti setelah ia pulang dari kantor. Ya, kedua orang tuanya memberinya pilihan, ingin berbulan madu ataukah pindah ke rumah baru. Rivka yang memang tidak bisa mengambil cuti lebih lama lagi pun mau tak mau memilih opsi yang kedua. Lagipula, ia tidak mau ya berbulan madu bersama Rendy, dipikir mereka ini menikah atas dasar cinta apa? Rivka mengakui kalau mereka memang sudah menikah dan pernikahan mereka pun bukan main-main, tetapi rasanya Rivka belum siap untuk menganggap Rendy sebagai suaminya. Karena Rivka seakan menganggap Rendy itu adalah sahabatnya saja, sama seperti biasanya. Saat berada di kantor, Rivka berdecak sebal ketika para temannya mengejeknya yang sudah menikah dengan Rendy si youtuber terkenal di kalangan anak-anak remaja. Bukan hal itu saja yang membuat Rivka kesal, tetapi lawakan dari teman-temannya itu kadang tidak bisa difilter. Rivka yang sedang pusing pun memilih untuk tak ambil pusing dengan ocehan-ocehan mereka dan lebih memilih untuk duduk di bangku kerjanya kemudian memulai pekerjaannya. "Yaelah, Rivka, belum juga jam kerja ini. Lo udah mulai kerja aja, tunggu dulu kenapa? Gue sama anak-anak yang lain mau ngajak lo ngomong ini." Mbak Cinta—orang tertua yang ada di divisi ini pun bersuara membuat Rivka menoleh sekilas ke arah wanita berusia tiga puluh lima tahun itu. "Kalau yang mau kalian omongin itu tentang pernikahan gue sama Rendy, lebih baik pada ke meja kalian masing-masing aja deh," ujar Rivka. "Lo kenapa sih? Kakaknya sensi amat kalau kita bahas lo sama Rendy. Apa tadi Rendy cari masalah sama lo? Dia nggak mau ngasih lo jatah ya semalam karena dia udah capek ngeladenin lo?" goda Jeki—teman Rivka yang baru dua tahun ini bergabung di divisi ini. "Bisa diam nggak lo, Jek? Omongan lo udah kayak nenek-nenek ngegosip aja!" Rivka yang kesal mendengar perkataan Jeki pun melempar pulpen yang ada di atas mejanya hingga mengenai lengan Jeki. "Aduh, sadis banget nih emak-emak bar-bar," ujar Jeki kemudian menunduk untuk mengambil pulpen yang tadi Rivka lempar di atas lantai. "Lumayan nih dapat pulpen baru." Jeki langsung menyimpan pulpen itu di saku kemejanya. "Hei, Jeki! Balikin nggak itu pulpen gue!?" "Eit, barang yang udah dibuang nggak boleh dibalikin ya," ujar Jeki membuat Rivka kesal. "Jeki, lo—" "Selamat pagi semuanya ...." Perkataan Rivka terhenti ketika tiba-tiba ada tiga orang yang datang, Rivka dan teman-temannya yang lain sontak saja berdiri ketika melihat atasan mereka yaitu Pak Hendra. "Pagi, Pak." "Maaf ya kami datang terlalu pagi," ujar Pak Hendra. Pak Hendra merupakan seorang atasan yang baik, ia tidak pernah marah meskipun terkadang mereka suka melakukan kesalahan. Pak Hendra biasanya akan menasihati agar memperbaiki kesalahan itu daripada memarahi karyawannya. "Iya, Pak, sama sekali tidak masalah." Cinta langsung mendekat ke arah Pak Hendra ketika melihat sosok tampan yang ada di samping Pak Hendra yang desas-desusnya merupakan putra tunggal sang atasan. "Perkenalkan, ini putra saya Bara, mulai hari ini dia akan menggantikan saya seperti rapat kemarin yang sempat kita bahas. Kalian tahu sendiri kalau saya sudah tua, sudah waktunya pensiun dan menikmati kebersamaan saya bersama istri tercinta." Pak Hendra tertawa di akhir kalimatnya. "Bara, ayo sapa mereka. Mereka ini yang akan membantu kamu secara langsung nantinya," ujar Pak Hendra pada putranya yang bernama Bara. "Saya Bara Rivendra, yang akan menggantikan Papa saya untuk menjadi atasan. Jangan anggap saya sebagai seorang atasan ketika di luar, tetapi bersikap professional lah saat kita sedang bekerja. Saya harap kita semua bisa bekerja sama dengan baik," ucap Bara sambil membungkuk sedikit sebagai penghormatan. Semua karyawan khususnya wanita terpana melihat ketampanan juga sikap wibawa dan kesopanan yang Bara miliki. Mereka awalnya sempat was-was kalau nantinya pengganti Pak Hendra akan sangat galak dan menyusahkan mereka, nyatanya seperti peribahasa buah jatuh tak jauh dari pohonnya maka sikap Bara ternyata menurun dari Pak Hendra. Para karyawan wanita yang ada di sana bersorak pelan saat melihat Bara, seakan ada sosok pencuci mata sekaligus penyemangat mereka saat bekerja. Rivka sendiri hanya diam, ia memperhatikan pria yang akan menjadi atasan barunya itu. Sejenak, Rivka terpana melihat sosok Bara, Rivka bahkan tak sadar terus memperhatikan bahkan dari atas kepala sampai ke kakinya. Bara yang merasa diperhatikan seperti itu pun langsung menatap Rivka yang seakan terbengong karena Bara ini benar-benar tipe idamannya sekali. "Yang memakai baju berwarna biru, apa ada yang salah dengan penampilan saya?" tanya Bara membuat semua orang yang di sana langsung menoleh ke arah Rivka karena hanya Rivka saja yang memakai baju berwarna biru. "Riv, lo ditanyain tuh." Jeki yang berada di samping Rivka pun menyenggol lengan Rivka hingga membuat Rivka akhirnya tersadar. "Ah, tidak ada apa-apa, Pak." Rivka yang sempat linglung pun akhirnya berucap sambil tersenyum canggung. "Kalau ada yang ingin ditanyakan tentang saya, silakan tanyakan saja," ujar Bara pada semuanya. "Eum, Pak, Bapak masih single nggak?" Mendesak, pertanyaan itu yang muncul dari seseorang yang berada tak jauh dari Bara yang mereka semua kenal bernama Rindi. "Kalau ditanya soal itu, saya tidak akan menjawab dengan tepat. Tapi saya akan menjawab kalau saya sudah memiliki calon istri ...." Yang bertanya tadi nampak kecewa mendengarnya. "Ah ralat, maksudnya saat ini saya sedang mencari calon istri." Semua wanita yang masih single saling pandang kemudian tersenyum dan merapikan baju mereka, seakan-akan kalau salah satu di antara mereka bisa dipilih oleh Bara menjadi calon istrinya. "Nah, kalian yang mau jadi calon istri anak saya ini harus berusaha. Saya sama sekali tidak pemilih soal menantu, tapi biasanya dia sendiri yang pemilih." Pak Hendra berbicara. "Pak, kalau saya gimana, Pak? Masuk kriteria buat jadi istrinya Pak Bara nggak?" Tiba-tiba saja Cinta berteriak. "Waduh, kalau kamu sih terlalu tua buat anak saya, Cinta," ujar Pak Hendra membuat Cinta kecewa. "Memangnya umurnya Pak Bara berapa ya?" "Kenapa jadi membahas soal umur dan jodoh begini? Ayo, kalian lanjutkan saja lagi pekerjaan kalian," ujar Pak Hendra. "Yaah, Pak. Kami semua mau denger jawaban Pak Bara ...." "Kapan-kapan kalian akan tahu sendiri, selamat bekerja. Ayo, Bara, kamu langsung masuk saja ke ruangan kamu. Kalau kamu masih bingung nanti tanya aja sekretaris baru kamu ini atau kalau tidak ... Rivka!" teriak Pak Hendra memanggil nama Rivka. "Iya, Pak?" "Saya minta tolong kamu ajak berkeliling Bara ya nanti, karena saya masih butuh Dinda hari ini untuk menyelesaikan urusan saya di sini," ujar Pak Hendra. "Baik, Pak." Rivka mengangguk.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD