5. Dunia Terbalik

1062 Words
Rendy duduk di sebuah bangku panjang pinggir lapangan dengan nafas ngos-ngosan, pria itu merasa sangat lelah sekali setelah bermain bola dan lari mengejar bola itu. Ia memang tidak bisa mengalahkan Rivka karena dalam urusan olahraga, Rivka lah pemenangnya. Ia saja yang sok-sokan ingin sekali bermain bersama Rivka walaupun tahu kalau dirinya sendiri tak terlalu mampu untuk bermain. Hingga akhirnya Rendy memilih menyerah, lelaki itu duduk di sini setelah ikut main selama lima belas menit. Menonton Rivka dan anak-anak lainnya yang sedang bermain bola dengan serunya, Rendy tersenyum saat melihat Rivka dengan semangatnya menendang bola. Sedari dulu Rendy sangat kagum sekali dengan Rivka, hal itu lah yang membuat Rendy menyukai Rivka. "Huh, capeknya," keluh Rivka memilih duduk di samping Rendy setelah akhirnya permainan pun selesai. Ia memilih menyudahi permainan bersama bocil-bocil itu karena sudah lelah. "Rivka capek? Mau Rendy pijitin?" tawar Rendy penuh perhatian. Karena sudah beristirahat cukup lama, Rendy sudah tak terlalu lelah saat ini. Ia kasihan saat melihat Rivka yang berkeringat dan nampak kelelahan, sayangnya ia sama sekali tidak membawa sapu tangan atau tissue untuk menghapus keringat di dahi Rivka. Hanya sebuah pijatan lah yang bisa Rendy tawarkan. "Nggak usah, dibawa diam juga pasti ilang ini capek," tolak Rivka. "Lo gimana? Masih mau main bola bareng gue?" tanya Rivka memulai ejekannya pada Rendy yang memang tak becus bermain bola. Rendy mengangguk dengan semangat, meskipun ia sempat merasakan kelelahan, tetapi ia tetap ingin bermain bersama Rivka. "Gue mau cari sarapan, lo mau ikut nggak?" tanya Rivka sambil berdiri. "Mau," jawab Rendy ikut berdiri. Rivka berjalan menghampiri anak-anak itu, begitupun dengan Rendy yang mengekor di belakang Rivka. Seperti seorang anak kecil yang mengikuti ibunya. "Mbak balik dulu ya, mau cari makan. Belum sarapan soalnya," ujar Rivka pada bocil-bocil itu. "Iya, Mbak, kalau ada waktu main lagi ya. Bentar lagi bakalan ada lomba antar sekolah di sekolah kami, kami mau supaya kami menang. Mbak jangan lupa ngelatih kami ya," balas Anton. "Iya, siap laksanakan!" Semuanya tertawa kecuali Rendy yang tak mengerti apa-apa. "Eh, Mbak, tapi jangan ajak lagi Kak Rendy ah. Dia payah mainnya, tadi tim Anton jadi kalah," ujar Anton membuat Rendy cemberut. "Itu karena Rivka terlalu hebat, makanya Rendy nggak bisa ngalahin." Rendy nampak membela dirinya. "Udah-udah, Mbak pergi dulu ya. Kalian semangat latihannya!" Rivka melerai pertengkaran yang hampir terjadi itu. "Siap, Mbak!" "Ayo, Ren!" Karena Rendy hanya diam saja, Rivka menarik tangan Rendy agar mau mengikutinya, tanpa sadar kalau Rivka terus menarik tangan Rendy sepanjang mereka berjalan. Melihat tangannya yang ditarik oleh Rivka, Rendy jadi tersenyum-senyum sendiri. Hatinya terasa senang ketika Rivka melakukan hal yang menurutnya sangat manis ini, kalau sedang tidak sadar begini Rivka bisa membuatnya senang dengan hal-hal kecil seperti ini. Ya, sesederhana itu Rendy, ia merasa senang apabila itu berhubungan dengan Rivka. "Lo mau ikut gue cari sarapan atau lo mau pulang duluan? Barangkali lo mau buat konten tuh sama Mbak Kia," ujar Rivka yang akhirnya melepaskan tangan Rendy. "Aku mau ikut Rivka aja," balas Rendy. "Oke." Rivka berjalan terlebih dulu dengan langkah lebarnya, membuat Rendy sedikit kewalahan dengan langkah cepatnya Rivka. "Rivka, jangan cepat-cepat. Rendy ketinggalan!" ujar Rendy sambil berlari mengejar Rivka yang meninggalkannya. Rivka menoleh sekilas ke arah Rendy, "Bukan gue yang kecepatan, tapi lo yang lambat." Setelah itu ia kembali melanjutkan jalannya. Rendy cemberut, lelaki itu berlari hingga akhirnya sejajar dengan Rivka. Tiba-tiba saja tanpa Rivka duga, Rendy menggandeng Rivka seperti seorang anak yang menggandeng ibunya karena tidak ingin hilang. "Eh apaan ini? Lepasin," ujar Rivka saat ia hendak menepis tangan Rendy, Rendy malah mengeratkan rangkulan di tangan Rivka. "Rendy nggak mau jauh dari Rivka, gini aja supaya Rendy nggak ketinggalan Rivka lagi." Rivka menghela napasnya mendengar perkataan Rendy, Rendy ini benar-benar. Ia sampai malu karena ada beberapa orang yang sempat melirik ke arah mereka sambil tersenyum geli, Rivka tahu arti senyuman mereka itu. Rivka tidak suka karena ia merasa kalau ia seakan diejek. "Lepasin nggak, Ren? Atau lo mau gue cubit sekarang?" ancam Rivka membuat Rendy langsung melepaskan tangannya. Rendy selalu takut kalau Rivka sudah mengancamnya dengan sebuah cubitan, itu semua karena Rivka dulu pernah mencubitnya hingga memerah dan itu rasanya sangat sakit sekali. "Takut kan lo," ujar Rivka sambil tersenyum geli. "Rivka mau ke mana!?" "Mau nyebrang." Mendengar itu, Rendy langsung berlari merapat pada Rivka hingga akhirnya medianya menyeberangi jalan raya berdua. "Kebalik nih, harusnya lo yang di depan. Katanya lo imam gue, masa nemenin gue nyebrang aja malah kayak gue yang lagi nuntun lo?" Mulut julid Rivka kembali beraksi membuat Rendy terdiam. "Itulah yang bikin gue nggak mau nikah sama lo, gue tahu lo nggak akan mampu bertindak sebagai imam yang baik. Pernikahan kita ini bagai dunia terbalik tahu nggak?" "Rivka kenapa ngomong kayak gitu?" "Gue ngomong kayak gini karena gue nggak suka nikah sama lo, lo sama sekali nggak cocok jadi suami gue. Lo aja masih suka bergantung sama gue, lo cocoknya jadi adik gue. Tapi sayangnya para orang tua entah kenapa tuh maksa mulu," ujar Rivka kasih menyesali pernikahannya dan Rendy. "Rendy akan buktikan kalau Rendy layak jadi suaminya Rivka!" tekad Rendy mantap. "Coba aja kalau bisa." Rivka nampak meremehkan Rendy. "Rivka kenapa nggak ngasih semangat ke Rendy? Kenapa Rivka malah ngejek Rendy kayak gini?" "Ya gue nggak cuma mau bilang faktanya aja, lo bisa apa ngga? Dasar adik kecil!" Rivka mencubit pipi Rendy dengan gemas kemudian masuk ke dalam tenda penjual nasi uduk. Rendy cemberut, tetapi tak urung ia menyusul Rivka yang sudah duduk manis di sebuah bangku. Rendy menatap sekelilingnya, nampak tidak terlalu menyukai tempat ini. "Rivka, kenapa kita ke tempat ini? Kenapa nggak ke restoran aja?" tanya Rendy. "Memangnya kenapa sama tempat ini?" "Kelihatannya kotor, Rendy nggak mau makan di tempat kotor." Rendy nampak jijik dengan tempat sederhana ini, Rendy terbiasa hidup mewah dan apa-apa makanannya serba di restoran. Berbeda dengan Rivka yang meskipun hidup berkecukupan, tetapi masih suka jajan di tempat seperti ini. "Siapa bilang lo yang makan? Kan tadi lo udah sarapan, yang mau makan itu gue. Kalau lo nggak mau makan dan nggak suka di tempat ini, lo boleh pergi. Tuh, Mbak Kia pasti nungguin lo, gih sana pergi ...." Rendy menggelengkan kepalanya. "Eh, itu bukannya Rendy? Si YouTube ganteng yang mukanya mirip artis Korea?" tanya salah seorang gadis SMA ketika melihat ke arah tenda, di mana Rendy dan Rivka ada di sana. Rivka yang mendengarnya hanya bisa memutar kedua bola matanya jengah, mulai deh, batinnya yang seakan sudah terbiasa dengan hal seperti ini.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD