10. Permintaan Rendy

1032 Words
Saat ini Rendy dan Rivka tengah bersantai di kamar mereka usai memantau para pengangkut barang yang mengantar barang-barang yang tadi mereka beli di mall. Mereka akan melanjutkan beres-beres besok pagi karena hari sudah malam dan fisik pun sudah cukup lelah. Rendy sedang berada di atas ranjang dengan kegiatannya yang seperti biasanya yaitu tengah menonton drama Korea. Berbeda dengan Rendy, Rivka sendiri baru keluar dari kamar mandi usai mencuci mukanya. Wanita itu langsung duduk di tepi ranjang tepat di samping Rendy, ia yang melihat keseriusan Rendy dalam menonton drama itu hanya bisa geleng-geleng kepala. Entah apa yang membuat Rendy menyukai drama semacam itu, mungkin saja Mbak Kia yang sudah meracuni Rendy dengan drama itu. "Gue mau tidur, bisa nggak lo kecilin itu volume suara hape lo?" tanya Rivka pada Rendy yang masih sedang serius-seriusnya. Rivka berdecak kesal ketika Rendy hanya diam saja, lelaki itu malah mengabaikan Rivka. Hal itu membuat Rivka memukul kepala Rendy sampai Rendy mengaduh kesakitan sambil mengusap kepalanya yang habis dipukul oleh Rivka. "Aduh, sakit. Rivka kenapa pukul kepala Rendy!" tanya Rendy. "Salah lo, gue ngomong nggak ditanggapin sama lo!" tukas Rivka ketus. "Tadi Rivka ngomong apa sama Rendy? Maaf, Rendy nggak dengar. Tadi Rendy lagi fokus," ujar Rendy membuat Rivka memutar kedua bola matanya jengah. "Kecilin itu volume suaranya, gue mau tidur! Atau kalau perlu matiin aja deh, nanti lo mewek gangguin gue lagi!" Rivka sepertinya tidak bisa santai saat berbicara dengan Rendy, ya bagaimana ya. Melihat wajah polos Rendy bukannya merasa gemas, Rivka malah merasa sebal dan ingin rasanya memukul kepala lelaki itu. "Ini ceritanya lucu, nggak ada sedih-sedihan. Rendy nggak akan nangis kok, Rivka kalau mau bobo nggak apa-apa. Biar Rendy jagain," ujar Rendy. "Gaya lo mau jagain gue, palingan nanti kalau ada kecoa lo malah bangunin gue dan suruh gue buang itu kecoa," balas Rivka sambil tersenyum sinis. "Kalau kecoa pengecualian, Rivka 'kan tahu sendiri kalau Rendy nggak suka sama kecoa." Sudah Rivka duga kalau Rendy pasti akan membela dirinya. "Terserah lo aja deh, gue mau tidur! Pokoknya lo jangan sampai bangunin gue!" Rivka langsung mengambil posisi berbaring di samping Rendy, wanita itu terbaring dengan posisi memunggungi Rendy. Rivka berusaha untuk tidur, wanita itu memejamkan matanya dan tak butuh waktu lama ia hampir menuju alam mimpi. Namun, tiba-tiba saja sebuah suara terdengar hingga membuat mata Rivka yang terpejam pun kembali terbuka. "Hihihi ...." Rendy cekikikan saat menonton adegan lucu di drama komedi yang ia tonton. "Orangnya kenapa bisa begitu? Aneh banget malah nggak minggir, kan jadi ketabrak," ujar Rendy mengomentari adegannya. Rivka mengepalkan tangannya kuat-kuat, berdecak kesal karena Rendy mengganggu tidur indahnya. Wanita itu menarik baju Rendy hingga membuat Rendy terkejut sampai berteriak, "Ahhh ... setan!" pekik Rendy segera menepis tangan Rivka. "Ini gue Rivka, bukan setan!" Rivka bersuara membuat Rendy menoleh ke arahnya. "Rivka bangun? Kenapa? Apa Rivka mau nonton bareng Rendy? Dramanya seru, bikin Rendy ketawa terus dari tadi," ujar Rendy masih dengan tampang polosnya. Tak menyadari kalau singa betina di sampingnya tengah menampilkan wajah marahnya. "Rendy, kalau lo mau nonton bisa nggak ingat waktu? Ini udah jam berapa?" tanya Rivka berusaha sabar walau sedang menahan gemas. "Jam sebelas malam," jawab Rendy. "Pintar, jam segini itu waktunya buat apa ya, Rendy? Bisa nggak lo kasih gue jawaban?" "Buat nonton! Eh, itu buat Rendy ding karena Rendy suka nonton jam segini. Soalnya malam-malam nontonnya 'kan seru," ujar Rendy. "Ren, kalau lo mau lanjut nonton mending keluar aja deh! Gue nggak bisa tidur dengar cekikikan kayak kunti yang nggak jelas itu. Gue tadi udah mau tidur tapi gara-gara lo, hilang sudah rasa kantuk gue! Udah sana lo keluar!" Rivka memang tidak pantas berkata dengan lembut, buktinya baru beberapa kata ia berkata lembut, kata-kata sengaknya kembali terucap. "Rivka usir Rendy? Rendy nggak mau keluar, Rendy mau di sini temenin Rivka. Nanti kalau ada setan gimana? Pasti Rivka ketakutan." "Kebalik! Bukan gue yang takut tapi lo! Bilang aja lo takut kalau setan tiba-tiba muncul di luar!" Rendy hanya menyengir saat Rivka mengatakan itu, Rivka sangat tahu sekali dirinya. "Kalau lo masih di sini, lebih baik lo matiin itu hape lo. Ini udah waktunya tidur, kalau udah waktunya tidur itu ya tidur bukan ngelakuin hal lain. Bocah kayak lo itu nggak pantas begadang cuma buat nonton drama nggak penting itu!" Rendy cemberut ketika Rivka mengatainya bocah. "Rivka jangan panggil Rendy bocah, Rendy bukan bocah lagi. Kalau Rendy bocah, berarti Rivka juga bocah. Rivka sama Rendy 'kan seumuran," ujar Rendy. "Nggak, tuaan gue ya. Ya walaupun cuma selisih berapa bulan doang dong, eh tapi tingkah lo itu emang kayak bocah. Jadi, wajar dong gue ngatain lo gitu." Sama sekali tidak ada yang mewajarkan sikap Rivka pada Rendy saat ini karena sikap seorang istri tak seharusnya begini, tetapi berhubung Rendy itu polos, tentu saja ia tidak mengatakan apa-apa. "Mending Rendy tidur daripada Rivka usir," ujar Rendy. Rendy mematikan ponselnya, menaruhnya di atas nakas kemudian berbaring di samping Rivka yang masih duduk. "Nah gini 'kan enak, selamat bobok ya bayik!" Rivka menyelimuti tubuh Rendy sebatas pinggangnya kemudian ia pun ikut berbaring di samping Rendy. "Rivka ... Rivka ...." panggil Rendy sambil mendekat pada Rivka. "Hmm." Rivka hanya bergumam pelan. "Rendy suka sama Rivka," ujar Rendy. "Iya gue tahu, lo udah sering bilang gitu ke gue." Rivka merespon dengan mata yang terpejam. Cup. Rivka terkejut ketika tiba-tiba saja Rendy mengecup pipinya, matanya sontak terbuka hingga terlihatlah wajah Rendy yang saat ini sedang tersenyum kepadanya. "Rendy sayang Rivka," ujar Rendy kemudian kembali berbaring sambil memeluk Rivka. "Lama-lama tubuh gue ini jadi bonekanya lo ya, sering banget lo pelukin," tutur Rivka. "Rivka anget, Rendy suka meluk Rivka. "Tapi gue nggak suka karena ini bikin gue risih." Rivka melepaskan tangan Rendy dari pinggangnya membuat lelaki itu cemberut ketika guling hidup kesayangannya tak mau dipeluk. "Rivka, apa Rendy boleh minta sesuatu?" tanya Rendy. "Apa? Jangan minta yang aneh-aneh." Rivka sudah memberi ultimatum sebelum Rendy mengatakan permintaannya. "Rendy mau adik bayi, Rivka," ujar Rendy. "Hah? Lo mau punya adik? Mana mungkin bisa, Mama lo udah tua gitu lo suruh buat ngelahirin lagi. Tega banget lo, Ren," ujar Rivka. "Bukan, Rendy maunya dari Rivka sama Rendy, seorang anak," tutur Rendy malu-malu membuat Rivka hampir saja terjungkal ke bawah tempat tidur karena refleks menjauhi Rendy. Permintaan Rendy benar-benar membuatnya kaget.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD