"Nona Hall?" desah Kara dengan mata terbuka maksimal. Secepat kilat, ia bangkit duduk. Selimut mereka tak sengaja tersingkap. Lengan Frank yang masih melingkar di pinggang Kara pun terungkap. Melihat itu, darah Isabela semakin meletup-letup. "Dasar perempuan tak tahu malu! Beraninya kau tidur dengan calon suamiku!" Kepalan tinjunya seketika berubah menjadi cakar, bersiap untuk menyerang. Namun, melihat seorang pelayan datang membawakan pesanannya, ia langsung meraih cangkir itu dan membawanya menuju Kara. "Dasar perempuan murahan!" Beruntung, Frank sigap mengangkat selimut. Teh panas itu tidak setetes pun menyentuh Kara. "Kau gila? Kau mau mengirimnya ke rumah sakit dengan lepuhan?" bentak Frank sambil menggertakkan rahang. "Dia memang pantas mendapatkan itu! Kalau perlu, sekali

