Sambil mendesahkan tawa, Kara mengamati raut bosnya. "Untuk apa? Mereka justru akan menganggapku pelakor atau perempuan matre yang mengincar hartamu. Isabela atau kakekmu sungguh akan membunuhku." "Kalau kau setuju, aku akan meluncurkan rencanaku besok. Jadi, pada hari pernikahan si berengsek itu, aku bisa mengumumkan kalau kau adalah gadis pilihanku." Akan tetapi, Kara tetap menggeleng. Nyalinya sudah tidak sebesar dulu. "Terima kasih atas niat baikmu, tapi tidak. Aku sama sekali tidak tertarik mengadakan pertunjukan apa pun." Sambil menarik selimut, Kara kembali merebahkan diri. "Sekarang aku sangat lelah. Selamat malam, Frank. Kembalilah ke kamarmu." Namun, alih-alih beranjak, sang CEO masih duduk di situ, mengamati Kara yang memaksakan matanya terpejam. Tak kunjung mendengar suara

