Semua orang sontak menoleh. Saat itulah, Susan masuk sambil membawa beberapa tas. "Kalau begitu, mari kita lihat apakah rencanamu itu hanya sekadar omongan atau tidak." "Nenek!" Emily berlari memeluk Susan. Bukannya ikut menyapa, Louis malah mengerucutkan bibir dan mempertegas gerak kepalanya. "Itu bukan hal yang sulit, Nek. Tunggu dan lihat saja nanti.” “Baiklah ....” Sambil terkekeh, Susan mengelus kepala cucu yang masih mendekap kakinya. " Tuan Putri, apakah kamu sudah lapar? Maaf Nenek agak terlambat." Emily menggeleng pelan seakan takut rambutnya berantakan. "Perawat yang mengantarkan makanan untuk Louis tadi memberiku s**u. Dia fan baruku. Aku harus menghargai pemberiannya. Jadi, aku langsung meminumnya sampai habis." "Fan baru?" Susan menaikkan alis dan melirik putrinya. K

