Begitu membuka foto pertama, pertahanan Frank langsung goyah. Ia bahkan nyaris tidak bisa bernapas. Kara tampak kurus meskipun perutnya agak menggendut. Ia memang tersenyum, tetapi kantong matanya melukiskan kepedihan. Di foto kedua, berat badannya bahkan berkurang drastis. Riasan tipis di wajahnya tak mampu menutupi lelah dan yang lebih menusuk hati, ia mengenakan seragam pelayan restoran. "Kara bekerja saat hamil?" Frank sontak mendongak dan menghela napas. Ia berharap tekanan dalam dadanya dapat berkurang. Namun, desakannya malah mendatangkan air mata. "Kalau saja aku tidak meninggalkannya, dia tidak perlu banting tulang begini." Frank menelan ludah, tetapi mulutnya kering. Kerongkongannya kini terasa pedih. Sambil mengepalkan tangan, ia berusaha untuk tetap tegak dan menyimak f

