“Halo, Bu?” sapa Kara, tergesa-gesa. “Maafkan Ibu, Nak ....” Dada Kara berdenyut nyeri mendengar isak tangis sang ibu. Mulutnya kering dan lidahnya kelu. “A-ada apa, Bu? Kenapa Ibu meminta maaf?” “Ibu hanya pergi sebentar untuk menemui perawat. Tapi, sewaktu Ibu kembali, Emily dan Louis sudah tidak ada di kamar.” Dunia serasa berguncang. Kara tidak mampu lagi berdiri tegar. Kalau saja Frank tidak sigap menangkapnya, ia pasti sudah mendarat di lantai. “Kara ... astaga!” Frank bergegas menggendong dan membawanya ke sofa. Tanpa menunggu perintah, Jeremy mengambil alih gagang telepon. Setelah mendengar penjelasan lebih lanjut dari Susan, ia menyusul ke ruang CEO. Frank sedang mengusap-usap lengan Kara. Perempuan itu terpejam di pundaknya, berusaha mengatur napas. Dengan wajah seputih

