Kara mendongak, berusaha mengumpulkan kekuatan. Begitu kepalanya kembali tegak, ia meraih tangan sang ibu, mencoba menyampaikan ketulusannya. “Tapi sekarang dia sudah kembali, Bu,” tuturnya lirih. “Dia juga sudah menyesal. Coba Ibu ingat apa yang sudah dia lakukan untuk kita belakangan ini. Kita masih bisa bertahan berkat gaji darinya. Kita masih bisa bersama si Kembar juga berkat pertolongannya. Dia yang sudah menyelamatkan si Kembar dari penculikan.” Kara mengguncang lengan Susan, mencoba menyadarkan sang ibu. Akan tetapi, wanita paruh baya itu malah membuang muka. “Dan Ibu ingat betapa bahagianya Louis dan Emily saat mereka bermain bersamanya? Kapan Ibu pernah melihat mereka tertawa begitu lepas? Kapan Ibu pernah melihat mereka tidur begitu nyenyak?” Susan tiba-tiba mengangkat tan

