Kara masih menghadap pintu. Pandangannya kabur. Air mata belum mau berhenti mengucur. “Apa yang akan Frank lakukan? Bisakah dia menangani semua kekacauan ini?” Sambil mendesah pasrah, Kara pun berbalik, hendak memeriksa si Kembar. Namun, belum sempat ia bergerak dari posisinya, pintu kamar Susan terbuka. “Ibu?” Kara menelan ludah. Lewat gerak kepalanya, Susan mengisyaratkan sang putri untuk masuk. Kara pun menurut. “Kau menangis untuk laki-laki itu?” tanya Susan seraya berjalan menuju kursi. Ketika berbalik, ia melanjutkan, “Kenapa?” Kara berusaha mengatur napas. Kepalanya bergerak-gerak mengimbangi desakannya. “Aku juga tidak tahu, Bu. Pikiran itu datang begitu saja, sama seperti perasaan ini. Aku juga tidak mengerti.” “Sadarlah, Kara. Laki-laki itu sudah menghancurkan hidupmu.

