Perlahan-lahan, Kara tertunduk. Ia tidak sanggup menatap mata putranya langsung. “Awalnya, Mama juga terkejut sewaktu bertemu dengannya di kantor.” “Tapi Mama bilang kalau Papa sudah meninggal. Kenapa Mama berbohong? Apakah karena Mama tidak tega memberi tahu kami kalau Papa orang jahat?” Dada Kara mendadak sesak. Ia menarik napas, tetapi paru-parunya malah semakin panas. Ia benar-benar bingung harus menjelaskan dari mana dan bagaimana kepada anak sekecil si Kembar. “Sebetulnya ...,” ia menelan ludah dan memandang ke luar jendela, “pertemuan Mama dengannya tidak disengaja. Waktu itu, kami tidak saling kenal, apalagi saling cinta. Saat dia pergi, kami bahkan belum tahu nama masing-masing.” “Kalian belum sempat berkenalan?” desah Louis dengan mata bulat. Kara menarik napas berat, lalu

