“Apakah mereka sudah tidur?” gumam Frank dari pinggir pintu. Matanya yang menyusuri kamar bernuansa langit itu tampak berkaca-kaca. Malam ini, ia seharusnya duduk di sana, membacakan buku dongeng atau artikel teknologi, bukannya meratapi. Dengan langkah lesu, ia beralih ke kamar sebelah. Ketika tatapannya jatuh pada selimut berbulu yang biasa dipeluk Emily, desakan dalam d**a tidak lagi tertahankan. Napasnya mulai bergemuruh dan tangannya terkepal erat. “Kalau saja Isabel tidak mengacau, anak-anak masih akan tertawa bersamaku. Sekarang, menatapku saja mereka tidak mau.” Sambil terpejam, Frank berusaha meredakan gejolak hatinya. Saat itu pula, ponsel dalam sakunya berdering. Melihat nama asistennya pada layar, ia pun menjawab tanpa suara. “Lapor, Tuan. Semua sudah saya urus. Berita it

