Tiba-tiba, Wela mengangkat kedua tangan sejajar pundak lalu terpejam. “Pikirkan apa yang paling kita inginkan sewaktu kita masih kecil.” Selang beberapa saat, ia membuka mata lagi. “Bukankah kita hanya ingin bersenang-senang dengan orang-orang yang kita sayangi?” Kara dan Frank kembali saling lirik. Gerak-gerik mereka membuat Wela gemas. “Ayolah, Frankie. Tunggu apa lagi? Putuskan tunanganmu itu, lalu lamarlah Kara. Setelah kalian menikah nanti, kujamin Emily tidak akan mengalami demam psikogenik lagi. Sudah saatnya kau berkumpul dengan anak-anakmu.” Bola mata Kara nyaris melompat keluar. Sambil mengalahkan kekakuan rahangnya, ia bergumam, “A-apa maksud Anda, Dokter? Saya sungguh tidak mengerti.” Sementara Frank ternganga tanpa kata, Wela menyentuh pundak sang sekretaris. “Aku seorang

