Azura tahu banyak sekali orang gila di dunia ini namun Azura tidak percaya ada orang segila Ocean Ringguna Pramugara. Masalah Hidden Grace Bakery memang sudah selesai bahkan kondisi toko kembali seperti dulu sebelum adanya hate komen dari akun Ocean R. Pramugara namun pria ini memberikan Azura masalah baru.
Ocean benar-benar mengajaknya menikah. Pria itu tidak bercanda sedikitpun membuat Azura merasa semakin gila.
Yang dikatakan Nayuma sepertinya benar. Sekalinya terlibat dengan Pramugara maka tidak akan pernah ada jalan keluar namun menikah dengan orang asing apalagi Pramugara bukanlah hal yang Azura inginkan. Melihat bagaimana kondisi rumah tangga Nayuma yang kacau balau sudah membuat Azura kesal. Azura tidak bisa membayangkan bagaimana jika ia benar-benar masuk dalam keluarga itu. Azura mungkin akan darah tinggi.
"Power nya keluarga Pramugara memang sekuat itu ya, Mbak?" Aghnya menghampiri Azura yang sejak tadi duduk dibalik meja kasir.
"Mas Ocean bisa mengembalikan keadaan dalam satu hari sampai bagian dapur kita keteteran lagi karena banyaknya pesanan."
Azura menatap ponselnya. Sejak tadi sibuk menghitung nol di bukti transfer yang baru saja dikirim oleh Ocean. Aghnya ikut mengintip.
"Mbak enam ratus juta rupiah? Ganti rugi dari mas Ocean?"
Aghnya syok berat. Tidak berbeda dari Azura yang sampai termenung. Azura hanya meminta ganti rugi sekitar dua ratus juta. Azura menghitung semua itu dari pendapatan normal Hidden Grace Bakery selama enam bulan.
"Mas Ocean membayar kompensasi tiga kali lipat, Mbak? Serius? Demi apa? Dalam semalam? Sekaya apa itu orang?" Aghnya sangat histeris membuat Azura menarik tangan gadis itu. Aghnya langsung duduk di sampingnya.
"Nggak usah histeris. Jumlah uang segini nggak akan asing buat lo kalau lo nggak kabur dari rumah bokap sama nyokap lo."
Aghnya mengerucutkan bibirnya kemudian kembali sibuk melayani pelanggan bersama beberapa karyawan Hidden Grace Bakery yang sudah kembali bekerja.
"Mbak, coba lo pikirin lagi ajakan nikah mas Ocean." Aghnya mengangkat sebelah alisnya. Menatap Azura menggoda. Azura menatap gadis itu sinis.
"Nggak ada yang mau gue pikirin. Gue nggak mau hidup menderita kayak Nayuma. Nikah tapi berasa udah cerai. Pramugara najis."
Azura memilih untuk menyimpan ponselnya kemudian kembali ke bagian dapur. Menyelesaikan berbagai pesanan yang sudah menumpuk di berbagai marketplace.
Perihal Ocean. Azura sudah mentransfer kembali uang pria itu. Azura hanya mengambil dua ratus juta saja seperti yang seharusnya.
***
"Kenapa uangnya kamu kembalikan?" Azura hampir saja menjatuhkan cheesecake nya saat Ocean muncul begitu saja di depan pintu dapur. Pria itu masih terlihat sangat rapi dengan kemeja slim fit dan celana kainnya bahkan rambut Ocean masih terlihat sangat rapi. Pria ini sepertinya memang sangat memperhatikan penampilan.
Penampilan Ocean berbanding terbalik dengan Azura yang malam ini sudah acak-acakkan. Apron nya penuh tepung sedangkan rambutnya sudah di cepol tinggi. Sudah tidak beraturan.
"Gue cuma minta dua ratus juta. Lo aja yang berlebihan." Azura menarik kursi. Duduk disana kemudian menikmati cheesecake nya dengan begitu santai. Hidden Grace Bakery sudah tutup. Para karyawan sudah pulang hanya tersisa Azura saja.
"Saya kasih buat kamu." Ocean ikut menarik kursi di seberang Azura. Menatap Azura yang menikmati cheesecake itu dengan lekat.
"Gue nggak akan mengambil sesuatu yang bukan punya gue. Lo simpan sendiri aja uang lo itu."
Azura berdiri. Mengambil smoothies nya di atas meja bar kemudian kembali duduk.
"Kamu nggak ada niat mau nawarin saya cheesecake yang kamu makan dan minuman?"
"Bukannya kata lo rasa kue gue hidden banget nggak ada rasa?"
"Saya belum pernah coba kue buatan kamu, Anindya." Azura menaruh sendoknya. Menatap Ocean kesal.
"Lo belum pernah coba kue gue tapi lo udah memberikan komentar jahat? Ocean lo benar-benar gila ya?"
"Bukan saya yang berkomentar, Anindya. "
"Terus menurut lo gue akan percaya dengan apa yang lo katakan. Lo komen berulang kali. Gue masih punya buktinya kalau lo mendadak lupa ingatan."
"Benar-benar bukan saya, Anindya."
Azura menatap Ocean cukup lama kemudian berdiri dan kembali lagi membawa smoothies dan sendok.
"Ini cheesecake terakhir. Lo makan aja seadanya."
"Dan smoothies nya nggak rasa garam?"
Azura terbatuk mendengar pertanyaan Ocean. Azura berpikir pria itu memang mati rasa namun ternyata dia sadar juga.
"Aman. Sama kayak yang gue minum."
Azura menjawab dengan begitu santai. Tidak merasa bersalah sedikitpun dengan apa yang dia lakukan kemarin. Lagipula untuk apa melakukannya. Ocean bahkan tidak meminta maaf atas apa yang pria itu lakukan padanya.
"Lo ngapain datang kesini malam-malam?"
"Saya mau bukti kamu udah cabut laporannya."
"Gue udah kirim ke lo."
"Saya mau bukti langsung."
"Tunggu besok."
"Saya nggak butuh berkasnya, Anindya."
"Terus lo butuh apanya?" Azura menatap Ocean kesal. Dia melepas apron penuh dengan tepungnya kemudian mengikat rambutnya seperti ekor kuda. Azura melakukan semua itu dihadapan Ocean. Dengan begitu santai. Tidak peduli dengan Ocean yang menatapnya. Image nya di hadapan pria ini sudah terlanjur buruk. Azura merasa tidak perlu lagi bersikap baik.
"Terus lo butuh apa? Cepat bilang. Gue mau pulang."
"Besok kamu ketemu sama Eyang Kakung. Kamu kasih tahu langsung sama dia kalau kamu sudah cabut laporannya."
"Anindya sesuai dengan perjanjian. Saya sudah memenuhi permintaan kamu. Kamu juga harus memenuhi permintaan saya."
"Gue udah memenuhi permintaan lo. Urusan kita sudah selesai." Anindya berdiri. Membereskan barang-barangnya. Mematikan lampu Hidden Grace Bakery. Tidak peduli dengan Ocean yang masih duduk di sana.
"Anindya besok saja jemput kamu jam tujuh malam."
Azura yang selesai mengunci pintu menatap Ocean sengit. Tidak suka dengan cara pria itu memaksanya.
"Gue bukan orang yang bisa lo kendalikan Ocean. Gue tidak akan pergi."
Azura masuk ke dalam mobilnya.
"Saya jemput kamu jam tujuh malam, Anindya."
Azura menatap Ocean sinis. Azura pikir selama ini dia adalah orang paling keras kepala namun masih ada manusia yang jauh lebih keras kepala dibandingkan dirinya. Pria itu bernama Ocean Ringguna Pramugara.
"Saya antar kamu pulang. "
"Gue pakai mobil. Nggak usah ribetin diri sendiri. Kurang kerjaan lo?"
"Saya ikuti kamu dari belakang."
Azura menatap Ocean semakin sinis.
"Ocean, apapun rencana licik yang ada di kepala lo sekarang. Gue nggak mau nikah sama lo."
"Saya tetap antar kamu dan jemput kamu besok jam tujuh malam Anindya."
Azura menarik nafasnya. Membuka kaca mobilnya lebih lebar.
"Ocean, b*****t lo anjing!"
"Anindya, perhatikan kata-kata kamu."
"Lo yang harus memperhatikan kata-kata lo. Ocean, lo gila? Gue dan lo baru ketemu kemarin dan lo ngajak gue nikah. Anjirlah. Ogah banget gue!"
"Udah kamu nggak usah marah-marah. Saya antar kamu pulang."
"Gue bilang nggak usah."
"Saya antar kamu, Anindya."
Azura mendengus. "Terserah lo!"