Azura tidak tahu harus melakukan apa. Rasanya yang terjadi malam ini sangat mengejutkan untuknya. Ocean yang tiba-tiba menjemputnya saja sudah sangat mengejutkan namun melihat siapa yang duduk di meja makan panjang kediaman Pramugara lebih mengejutkan Azura.
Kedua orang tuanya. Azura bahkan sudah cukup lama tidak bertemu dengan mereka. Terakhir kalau Azura tidak salah ingat saat tahun baru. Itupun Azura hanya pulang satu hari saja kemudian kembali ke rumah pribadinya di beli dengan cara kredit dengan jangka dua puluh tahun. Azura memang seingin itu hidup mandiri. Azura akan melakukan apapun untuk itu. Padahal jika Azura ingin. Dia bisa saja meminta dibelikan rumah pada keluarganya terutama nenek namun Azura memilih untuk tidak melakukannya.
"Mama sama papa ngapain disini? Ikut dituntut sama keluarga ini?"
Azura memang tidak mengenal yang namanya basa-basi. Azura selalu jujur. Mengatakan apa yang ia pikirkan. Tidak heran jika ia langsung mendapatkan tatapan penuh peringatan dari kedua orang tuanya. Wajar juga mereka seperti itu karena memang meja panjang itu sudah di isi oleh para Pramugara. Untung saja tidak ada Nayuma dan Lintang. Kalau tidak rahasia Azura akan terbongkar. Rahasia dia memanfaatkan Nayuma untuk bertemu dengan Eyang Kakung Pramugara yang duduk di ujung meja. Menjadi pusat semua orang.
"Anindya perhatikan kata-kata kamu."
Azura masih berdiri. Menatap satu persatu wajah Pramugara yang sangat asing baginya. Wajah mereka mirip-mirip semua namun Azura bahkan tidak mau repot-repot untuk tersenyum atau menyapa mereka ramah karena Azura merasa dia tidak harus melakukannya.
"Apa yang harus aku perhatikan. Mama sama papa juga ngapain ada disini? Aku tidak melakukan kesalahan apapun. Aku melaporkan Ocean ke polisi karena dia memang merugikan aku. Bakery aku hampir bangkrut karena tingkah kurang kerjaannya. Sekarang semua masalahnya sudah selesai. Dia sudah membayar kompensasi senilai yang aku minta dan aku sudah mencabut laporannya. Kesimpulannya aku sudah tidak memiliki urusan lagi dengan keluarga ini begitu juga mama dan papa. Sekarang kita pulang."
Azura ingin mendekati kedua orang tuanya namun Ocean sudah lebih dulu menarik pergelangan tangannya. Azura menepis tangan pria itu. Tetap menolak untuk duduk di meja makan. Tidak peduli dengan tatapan penuh penilaian orang-orang disana. Sudah Azura katakan. Dia tidak pernah peduli dengan penilaian orang lain terhadap dirinya apalagi orang itu pernah merugikannya.
"Anindya duduk!" Suara tegas sang papa berhasil membuat Azura melepaskan tatapan sinisnya.
"Papa saja yang duduk. Aku pulang. "
"Azura dengarkan apa yang saya katakan kalau kamu tidak ingin bakery mu itu benar-benar bangkrut."
Azura pada akhirnya duduk tepat di samping Ocean dan disampingnya lagi ada pria muda yang ia yakin baru berusia di awal dua puluhan. Menatapnya dengan tatapan penasaran.
"Mbak Azura keren. Nggak ada yang berani ngomong selancang dan sepanjang itu di hadapan Eyang Kakung selama ini, Mbak." Bisik pria itu padanya. Azura hanya bersikap santai saja. "Kenalin Mbak nama gue Orion. Lo harus ingat nama gue dengan baik." Lanjut pria yang ternyata bernama Orion itu. Di saat semua orang menggunakan pakaian semi formal hanya Orion yang memakai kaos dan celana jeans sobek-sobek di tambah dengan kalung. Kelihatan serampangan. Mungkin Orion inilah gambaran produk gagal Pramugara.
"Azura, Eyang mewakili semua terutama Ocean untuk minta maaf sama kamu karena seharusnya Ocean memang tidak melakukan hal rendahan seperti itu." Eyang Kakung membuka suara setelah lama diam. Azura langsung menatap pria itu kemudian mengangguk tanpa mengatakan apapun.
"Kehadiran orang tua kamu disini malam ini karena Eyang yang mengundangnya secara langsung. Ocean pasti sudah menyampaikan maksudnya. Karena itu orang tua kamu ada disini."
Azura menggelengkan kepalanya pada kedua orang tuanya namun keduanya justru pura-pura tidak melihatnya membuat Azura mendengus.
"Saya memang meminta Ocean untuk bertanggung jawab atas hidup dan masa depan saya. Sekarang hidup dan masa depan saya sudah kembali karena Hidden Grace Bakery saya sudah beroperasi secara normal seperti sebelum ada kasus ini. Ocean juga sudah bertanggung jawab dan membayar kompensasi kepada saya. Jadi masalahnya sudah selesai. Saya rasa sudah cukup sampai disini saja. Tidak perlu ada pernikahan!"
Azura sadar betul' setelah mengatakan itu. Semua tatapan orang tertuju padanya. Azura menatap mereka satu per satu tanpa gentar.
"Saya menolak menikah dengan Ocean." Azura memperjelas semuanya. Tatapan orang tuanya sinis, Orion di sampingnya kelihatan sekali menahan tawa sedangkan Ocean tetap duduk tenang.
"Tidak perlu menikah buru-buru. Kalian boleh saling mengenal satu sama lain—"
"Dengan tujuan tetap menikah?" Azura memotong ucapan Eyang Kakung membuat tangannya digenggam cukup erat oleh Ocean namun Azura dengan cepat melepaskan genggaman tangan pria itu.
Azura bisa melihat dengan begitu jelas ekspresi wajah Eyang Kakung berubah drastis. Rahang pria itu mengetat namun Azura tidak merasa terintimidasi sedikitpun. "Saya tidak ingin menikah dalam waktu dekat ini dan Ocean juga tidak perlu membuang-buang waktunya pada saya." Azura tetap melanjutkan ucapannya walaupun suasana meja makan itu sudah berubah menjadi tegang dan dingin.
"Saya tidak bisa di paksa oleh siapapun. Saya juga tidak bisa dikendalikan. Bukannya dua point ini sudah membuat saya gagal jadi menantu Pramugara?"
Azura tersenyum ketika semua orang tetap diam. Dia memilih berdiri kemudian sedikit menunduk ke arah Eyang Kakung.
"Eyang Kakung maaf karena lancang tapi dengan cara seperti ini saya mempertahankan diri saya. Eyang tidak perlu lagi merasa terbebani dengan apa yang pernah saya katakan karena memang masalah saya dan Ocean sudah selesai. Kehidupan saya sudah kembali normal seperti sebelumnya."
Azura berdiri. Mengukir senyum tipis kemudian pergi meninggalkan ruang makan Pramugara dengan begitu santai. Tidak peduli mama nya memanggil namanya. Azura hanya ingin hidup dengan caranya sendiri tanpa di atur oleh orang lain.
***
"Menikah di umur tiga puluh tahun. Itu janji kamu sama mama sebelum pindah rumah. Sekarang umur kamu bahkan sudah lewat enam bulan dari tiga puluh tahun namun dengan kurang ajarnya kamu menolak pinangan keluarga Pramugara?"
"Mama ngapain kesini? Pulang aja. Aku lagi nggak mau bicara."
"Anindya, Ocean Ringguna Pramugara itu suami ideal untuk kamu. Anaknya baik, sopan, tegas, dewasa dan berpendidikan."
"Kalau memang dia seperti itu. Dia nggak mungkin menulis komentar jahat di toko orang berulang kali."
Mamanya berdecak namun Azura tidak peduli. "Apapun yang terjadi kamu tetap harus menikah dengan Ocean."
"Selagi aku calon pengantinnya maka pernikahan itu tidak akan pernah terjadi."
Azura tahu mamanya hampir meledak namun perihal pernikahan dan keputusan hidupnya Azura tidak ingin siapapun ikut campur di dalamnya. Azura akan menikah jika ia sudah siap dan bertemu dengan orang yang cocok.
"Ocean tiba-tiba menikah ntar kamu nyesel."
"Kayak ada aja orang yang mau nikah sama dia."
"Anindya!"
"Udah, mama pulang aja. Kasihan suaminya udah tunggu diluar sejak tadi."
"Anindya, itu papa kamu."
"Labelnya doang tapi nggak pernah ngerasa perannya jadi buat apa?"
"Anindya!"
"Udah mama pulang aja. Aku mau istirahat."
"Menikah dengan Ocean. Kamu nggak akan hidup miskin seperti sekarang."
"Aku nggak miskin. Ma, pulang aja."
Azura menarik nafas kemudian menghembuskannya perlahan ketika mama sudah pergi meninggalkannya. Azura akhirnya bisa istirahat dengan tenang tanpa huru-hara pernikahan.