Bab 6: Mendadak Tunangan

1025 Words
"Kemarin masih jomblo dan dalam semalam status lo udah berubah jadi tunangan orang. Mbak secepat itu?" Aghnya duduk disamping Azura. Menatap cincin berlian di dalam kotak perhiasan di atas meja. Cincin itu baru saja dikirim langsung oleh Eyang Kakung. Azura berpikir ketantrumannya malam itu sudah membuat keluarga Pramugara itu membencinya namun ternyata mereka tetap melanjutkan perjodohannya dengan Ocean bahkan tanpa sepengetahuan Azura dia sekarang tiba-tiba sudah menjadi tunangan Ocean. Azura tidak menyangka kehidupannya akan berakhir selucu ini. Azura memang memiliki hak untuk menentukan jalan hidupnya sendiri namun Azura lupa jika sampai saat ini dia masih milik kedua orang tuanya yang mana mereka jauh lebih memiliki hak atas kehidupannya secara harfiah. Yang dikatakan oleh kebanyakan orang selama ini Azura rasa benar. Anak akan selamanya menjadi milik orang tuanya sebelum menikah. Dan orang tua Azura benar-benar mengartikan kata milik itu dengan sempurna. Mereka mengatur pertunangannya dengan Ocean bahkan tanpa persetujuannya. "Tante kayaknya memang udah ngebet banget pengen lihat lo nikah, Mbak." Azura menutup kotak cincin itu kemudian berdiri. Raut wajahnya penuh dengan emosi. Aghnya sampai terkejut dengan gerakan tiba-tiba Azura. "Mbak, lo mau kemana?" "Rumah Pramugara. Gue akan membatalkan pertunangan dengan Ocean. Bagaimanapun caranya. Pertunangan ini harus batal." *** "Mas Ocean kalau hari kerja gini jarang pulang ke rumah utama, Mbak." Azura menarik nafasnya. Azura sudah datang ke rumah pribadi Ocean namun Azura hanya bertemu dengan mbak yang bekerja disana sedangkan pria itu entah kemana. "Dimana gue bisa ketemu sama Ocean?" Azura menerima orange Juice yang diberikan oleh Orion. Saat Azura datang ke rumah utama Pramugara ini. Azura bertemu dengan Orion di gerbang depan kemudian pria itu membawanya ke sini. Halaman belakang. "Kerja. Lagi sibuk-sibuknya mas Ocean. Baru pulang dari Amrik soalnya jadi banyak pekerjaanya yang tertunda." Azura menatap sekelilingnya. Ruang belakang ini sangat nyaman. Suasana nya lebih adem dibandingkan di depan yang cenderung mencekam. "Tempat nongkrong lo?" "Lebih tepatnya tempat nongkrong muda-mudi nya Pramugara sih, Mbak. Kalau di depan banyak tamu Eyang Kakung sama bapak dan ibu. Jadi disini tempat paling aman dan nyaman. Biasanya mas Ocean kalau pulang juga nongkrong disini. Mas Lintang sama mbak Nayuma juga kalau lagi ke rumah utama." Azura menganggukkan kepalanya pelan-pelan sambil terus meminum orange juice nya. "Mbak Nayuma dan mas Lintang itu suami istri." Azura kembali mengangguk. Tanpa Orion menjelaskan pun Azura sudah tahu pasangan ini. Pasangan nggak jelas sekali tujuan pernikahannya. Walaupun Azura tahu alasan Nayuma menikah dengan Litang namun tetap saja Azura tidak pernah berhasil memahami makna pernikahan keduanya. "Mbak perlu gue telponin mas Ocean?" "Perlu." Azura menjawab tanpa berpikir panjang. "Segitu pengennya lo ketemu mas Ocean setelah tunangan, Mbak?" "Iya, gue mau membatalkan pertunangan nggak jelas ini secepat mungkin." Azura memicingkan matanya. Menatap Orion penuh selidik. "Keluarga lo punya niat jahat apa sama gue sampai ngebet banget gue nikah sama Ocean-Ocean itu?" Orion tersenyum, "Nggak ada, Mbak. Harusnya lo merasa beruntung karena Eyang Kakung sesuka itu sama lo sampai dia pengen banget liat mas Ocean nikah sama lo bahkan setelah lo teriak-teriak di meja makan. Itu hal paling terlarang di keluarga Pramugara." "Gue nggak butuh di sukain sama Eyang Kakung lo itu." "Tapi kalau disukai sama mas Ocean mau, Mbak?" "Ogah. Gue nggak mau." "Kamu ngapain datang ke sini?" Suara berat dan serak itu berhasil membuat Azura melepaskan tatapannya dari Orion. Azura langsung berdiri. Menghampiri Ocean tanpa ragu. "Lo sebenarnya punya niat apa?" "Kamu ikut sama saya" *** "Makan Anindya." Azura menatap Ocean ogah-ogahan bahkan nafsu makan Azura entah hilang kemana sampai ia tidak merasa tertarik untuk menyentuh hidangan mewah di hadapannya padahal restoran yang dipilih oleh Ocean adalah salah satu restoran yang masuk dalam wishlist Azura saat keuntungan Hidden Grace Bakery berkali lipat. Karena makan disini tidaklah murah. "Lo nggak lupa ingatan kan kalau kita baru kenal satu minggu lebih tiga hari." "Saya ingat Anindya." "Lo nggak mengenal gue dan gue juga nggak kenal sama lo." "Saya tahu, makanya saya mau kenal sama kamu." Azura duduk semakin tegak. Greget sekali dengan Ocean-Ocean ini. Pria ini sangat tenang. Benar-benar tenang sampai membuat Azura ingin misuh-misuh. "Gue nggak mau kenal sama lo. Itu adalah point utamanya. Dan pertunangan ini tentu saja hal gila. Terjadi tanpa persetujuan gue dan gue yakin lo juga nggak setuju dengan pertunangan ini." "Saya setuju, Anindya." Azura mengepalkan kedua tangannya di atas meja. Rahang Azura mengetat. Keinginan Azura untuk menonjok wajah Ocean semakin besar. "Lo punya niat jahat apa sama gue?" "'Saya nggak punya Anindya." Azura menarik nafas kemudian menghembuskannya kasar bahkan hembusan nafas perempuan itu terdengar begitu jelas sampai membuat beberapa orang melirik ke arahnya namun Ocean masih saja duduk dengan tenang. "Lo menyetujui pertunangan ini karena permintaan Eyang Kakung lo itu kan? Nggak mungkin banget karena keinginan lo sendiri." "Kamu berpikir seperti itu?" "Kalau begitu sesuai dengan apa yang kamu pikirkan saja tapi ingat Anindya manusia bisa hancur karena pikirannya sendiri." Azura meneguk air mineral yang ada di sampingnya. Meneguknya dengan begitu rakus. Berbicara dengan Ocean ternyata melelahkan. Azura baru kali ini juga merasakan hal seperti itu. Biasanya Azura lah yang selalu menang dalam perdebatan dalam bentuk apapun. "Gue kembalikan cincin pertunangannya sama lo." Ocean menatap Azura cukup lama kemudian menatap kotak cincin yang ada di atas meja. "Saya nggak bisa terima itu. Kalau kamu ingin mengembalikannya. Kembalikan ke Eyang Kakung atau ke orang tua kamu." Azura memejamkan makanya. Dia menarik piringnya mendekat. Menyantap setiap hidangan di atas meja dengan rakus. Azura sudah kehabisan seluruh tenaganya untuk berbicara dengan Ocean namun hasilnya tidak ada. "Ini yang terakhir kalinya. Setelah malam ini gue berharap nggak ketemu lagi sama lo dan lo bisa cari perempuan lain untuk dijadikan istri." "Bagaimana kalau takdir justru mengatakan sebaliknya?" Azura melepaskan sendoknya. Mengangkat sedikit kepala supaya bisa menatap Ocean dengan begitu jelas. "Gue nggak ngerti apa yang ada di otak lo sekarang tapi satu hal yang harus lo tahu Ocean. Gue bukan orang yang bisa lo kendalikan." "Saya tidak ingin mengendalikan kamu, Anindya. Saya ingin hidup berdampingan sama kamu." Jika pria yang mengatakan itu adalah orang yang Azura sukai mungkin Azura akan merasa sangat senang namun ketika Ocean Ringguna Pramugara yang mengatakannya Azura merasa sangat kesal bahkan rasanya Azura ingin melemparkan piring-piring di atas meja ini ke wajah Ocean. "Sayangnya gue nggak mau hidup berdampingan sama lo!"
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD