Matahari pagi menembus jendela besar kamar tamu Adrian, menyinari wajahku yang masih terasa berat. Namun, saat aku membuka mata, aku tidak lagi merasakan kesedihan yang melumpuhkan seperti kemarin. Ada tekad yang membatu di dadaku.
Pintu kamar diketuk pelan. Seorang wanita paruh baya dengan pakaian rapi masuk membawa sebuah kotak besar. "Nona Arini, Tuan Adrian meminta saya menyiapkan ini untuk Anda. Beliau menunggu Anda di ruang makan dalam tiga puluh menit."
Aku membuka kotak itu. Di dalamnya terdapat sebuah setelan kerja yang sangat elegan berwarna hitam pekat dengan potongan yang sempurna. Saat aku memakainya, aku terpaku di depan cermin. Garis wajahku terlihat lebih tegas. Rambutku yang kemarin kusut kini telah dirawat dan jatuh dengan indah di bahuku. Aku bukan lagi Arini si buruh pabrik yang kusam. Aku terlihat seperti wanita karier kelas atas yang siap menaklukkan dunia.
Aku melangkah menuju ruang makan. Adrian sedang duduk di sana, membaca tablet di tangannya sambil menyesap kopi hitam. Dia mendongak, dan untuk sesaat, matanya terpaku padaku. Ada kilat kepuasan di sana.
"Duduklah, Arini," ucapnya dengan suara bariton yang menenangkan. "Mulai hari ini, identitasmu bukan lagi seorang pengangguran yang difitnah. Kau adalah asisten pribadiku. Kau akan ikut ke mana pun aku pergi, termasuk ke pertemuan bisnis malam ini."
"Pertemuan bisnis?" tanyaku ragu.
Adrian tersenyum tipis, sebuah senyuman yang terlihat sangat berbahaya. "Pertemuan itu dihadiri oleh beberapa investor besar. Dan salah satunya adalah perusahaan tempat Adrian, mantan kekasihmu, bekerja. Aku juga mendengar bahwa Maya akan hadir di sana sebagai pendamping salah satu tamu."
Jantungku berdegup kencang. Tanganku mengepal di bawah meja. Ini terlalu cepat, namun dendam di hatiku berteriak setuju.
"Jangan takut," Adrian mengulurkan tangannya, menyentuh jemariku yang gemetar. "Kau tidak akan datang untuk memohon. Kau akan datang untuk menunjukkan pada mereka, bahwa saat mereka membuangmu ke lumpur, kau justru ditemukan oleh seseorang yang jauh lebih berkuasa daripada yang bisa mereka bayangkan. Biarkan mereka melihat 'perempuan simpanan' versi imajinasi mereka berubah menjadi wanita yang bisa membeli harga diri mereka."
Aku menarik napas panjang, menatap Adrian dengan mata yang kini berkilat tajam. "Aku siap, Tuan Adrian. Mari kita tunjukkan pada mereka siapa yang sebenarnya berada di posisi yang hina."
Membunuh Rasa Takut
Aku terdiam menatap piring porselen di depanku yang masih penuh. "Tapi Tuan, bagaimana jika mereka mempermalukanku lagi? Bagaimana jika Maya kembali menyebarkan foto-foto itu di depan rekan bisnismu?"
Adrian meletakkan cangkir kopinya dengan dentingan pelan namun tegas. Dia berdiri dan berjalan memutari meja, lalu berhenti tepat di belakang kursiku. "Arini, dengarkan aku. Fitnah hanya akan bekerja jika korbannya terlihat kalah. Jika kau datang dengan kepala tertunduk, mereka akan merasa benar. Tapi jika kau datang dengan dagu terangkat dan berdiri di sampingku, mereka akan mulai meragukan kebohongan mereka sendiri."
Dia memberi isyarat kepada pelayan untuk membawakan sebuah map hitam. Adrian membukanya di depanku. Isinya adalah data keuangan sebuah perusahaan kecil yang baru saja bangkrut. "Ini adalah perusahaan tempat Adrian, pria yang mengkhianatimu itu, menaruh seluruh sahamnya. Perusahaan ini sedang di ujung tanduk. Dengan satu kata dariku, aku bisa menghancurkan sisa hidupnya. Tapi aku tidak akan melakukannya sendiri. Aku ingin kau yang melakukannya."
Tanganku gemetar saat menyentuh lembaran kertas itu. Kekuatan ini... kekuatan yang diberikan Adrian padaku terasa begitu besar dan menakutkan. Selama ini aku hanya terbiasa mengemis kasih sayang dari keluarga, namun sekarang aku memegang kendali atas nasib orang yang telah membuangku.
"Belajarlah cara menatap mata lawan bicaramu, Arini. Jangan tunjukkan satu detik pun keraguan," bisik Adrian tepat di telingaku. "Malam ini, kau bukan lagi Arini yang malang. Kau adalah wanita yang memegang kunci masa depan mereka."
Aku memejamkan mata sejenak, membayangkan wajah Ibu yang mengusirku dan tawa kemenangan Maya. Saat aku membuka mata, rasa takut itu perlahan menguap, digantikan oleh kedinginan yang luar biasa. Aku meraih pulpen di atas meja dan menandatangani dokumen pengangkatanku sebagai asisten pribadi Adrian.
"Baik, Tuan Adrian. Aku akan menjadi senjata yang kau butuhkan," ucapku dengan suara yang kini tidak lagi bergetar.
Melihat keberanian di mataku, Adrian tersenyum puas. "Bagus. Sekarang, habiskan sarapanmu. Kita punya banyak hal yang harus dipersiapkan sebelum pesta itu dimulai. Dunia harus melihat betapa bersinarnya berlian yang baru saja mereka buang ke selokan."