Bab 1: Sisa Uang di Amplop Lusuh
Malam ini, hanya suara detak jam dinding tua yang menemani kesunyian di dapur. Aku duduk terpaku di meja kayu yang sudah lapuk, menatap sebuah amplop cokelat lusuh di depanku. Dengan tangan gemetar, aku mengeluarkan isinya dan mulai menghitung.
Satu lembar, dua lembar... totalnya tidak seberapa. Uang ini adalah hasil lemburku selama sebulan penuh, menahan kantuk dan rasa lelah yang luar biasa di pabrik. Aku menghela napas panjang. Jika aku membayar uang sekolah si bungsu dan membeli obat jantung Ibu, maka uang ini akan habis tak bersisa. Artinya, aku harus menunda lagi niatku membeli sepatu kerja baru, padahal alas sepatuku yang sekarang sudah bolong dan sering membuat kakiku lecet.
"Tak apa," bisikku pada diri sendiri sambil menyeka peluh di dahi. "Yang penting mereka bisa makan dan sekolah."
Aku menatap pantulan diriku di kaca kusam. Di usia 28 tahun, wajahku terlihat jauh lebih tua dari seharusnya. Lingkaran hitam di bawah mata dan kulit yang kusam menjadi saksi bisu betapa kerasnya aku membanting tulang. Aku sudah melupakan apa itu hobi, apa itu bersenang-senang, bahkan apa itu cinta. Seluruh hidupku telah kuserahkan untuk menjadi tulang punggung keluarga ini.
Tiba-tiba, suara tawa renyah terdengar dari arah ruang tamu. Itu suara adik perempuanku, Maya. Dia baru saja pulang dengan membawa kantong belanjaan baru di tangannya. Aku tahu, uang yang dia pakai adalah uang kiriman bulanan dariku yang seharusnya digunakan untuk keperluan kuliahnya.
Melihatnya bersenang-senang saat aku harus mengikat perut, ada sedikit rasa nyeri di hatiku. Namun, aku segera menepisnya. Aku tidak tahu bahwa malam ini adalah awal dari kehancuranku. Aku tidak menyangka bahwa di balik tawa manisnya itu, Maya sedang menyusun sebuah fitnah keji yang akan membuat seluruh keluarga membenciku.
Aku bangkit dari kursi dapur dan melangkah menuju ruang tamu. Di sana, Maya sedang sibuk mengeluarkan sepasang sepatu hak tinggi yang tampak mahal dari kotak bermerek.
"Maya, itu sepatu baru lagi?" tanyaku pelan, berusaha menahan getaran di suaraku.
Maya menoleh, dia tidak merasa bersalah sedikit pun. Ia justru memutar bola matanya dengan bosan. "Cuma diskon kok, Kak. Lagipula, teman-teman kampusku semuanya pakai barang bermerek. Aku malu kalau harus pakai barang pasar."
Aku mengelus dadaku yang terasa sesak. "Tapi uang itu... bukannya untuk bayar praktikum? Kakak harus lembur sampai pagi supaya bisa kasih kamu uang itu, Maya. Ibu juga butuh obat."
Maya membanting kotak sepatunya ke atas sofa. "Duh, Kakak mulai lagi deh! Selalu saja mengungkit-ungkit pengorbanan. Aku kan adikmu, sudah tugas Kakak membiayai aku, kan? Kenapa jadi perhitungan begini? Kalau Kakak nggak ikhlas, ya sudah, tidak usah kasih!"
Dia kemudian masuk ke kamarnya dan membanting pintu dengan keras. Aku terdiam di tengah ruang tamu yang remang-remang. Air mataku luruh tanpa suara. Bukan karena uangnya, tapi karena rasa sakit ketika ketulusanku dianggap sebagai beban oleh orang yang paling kusayangi.
Malam itu, di balik pintu kamarnya, aku tidak tahu bahwa Maya sedang memegang ponselnya. Dia mulai mengetik pesan singkat di grup keluarga besar, sebuah pesan yang akan mengubah hidupku menjadi neraka di esok hari.