Bab 2: Badai di Pagi Hari

715 Words
Sinar matahari yang masuk melalui celah jendela tua biasanya memberikan ketenangan, namun pagi ini, suasana terasa sangat berbeda. Belum sempat aku membasuh muka, ponsel bututku di atas nakas terus-menerus bergetar. Bunyi notifikasi itu terdengar seperti rentetan tembakan yang memekakkan telinga. Dengan nyawa yang belum terkumpul sepenuhnya, aku meraih ponsel itu. Mataku yang masih perih karena kurang tidur seketika terbelalak melihat ratusan pesan masuk di grup w******p keluarga besar kami. "Tidak tahu malu! Ternyata selama ini uang yang dia kasih ke Ibu itu hasil mencuri?" tulis bibiku di grup itu. "Padahal kita semua mengira dia kakak yang teladan. Ternyata dia menyimpan simpanan pria kaya di kota untuk membiayai gaya hidupnya yang tersembunyi," sahut sepupuku yang lain. Tanganku bergetar hebat. Jantungku berdegup kencang hingga dadaku terasa sesak. Apa yang mereka bicarakan? Aku segera menggulir pesan ke atas, mencari awal dari semua kekacauan ini. Di sana, aku menemukan sebuah foto yang dikirim oleh Maya tadi malam. Itu adalah foto saat aku sedang berdiri di depan sebuah mobil mewah beberapa hari yang lalu—saat aku sebenarnya sedang bekerja sampingan sebagai pembersih kaca di sebuah gedung perkantoran mewah. Namun, Maya menuliskan keterangan yang sangat keji: "Akhirnya ketahuan juga, Kakakku ternyata punya simpanan om-om kaya. Pantas saja dia selalu sok pahlawan membiayai rumah, ternyata uangnya haram." "Maya..." bisikku dengan suara parau. Air mata mulai menggenang di pelupuk mataku. Bagaimana bisa adik yang kurawat sejak kecil, yang uang kuliahnya kubayar dengan darah dan keringat, sanggup menuliskan dusta sejahat ini? Tiba-tiba, pintu kamarku didobrak kasar. Ibu berdiri di sana dengan wajah memerah dan mata yang penuh amarah. Di tangannya, ada sebuah amplop cokelat—amplop yang kusiapkan tadi malam untuk obat jantungnya. "Ibu, ini tidak seperti yang mereka katakan—" "Cukup!" Ibu melempar amplop itu tepat ke wajahku. Uang-uang di dalamnya berhamburan ke lantai. "Aku lebih baik mati karena sakit jantung daripada harus minum obat yang dibeli dari uang hasil menjual diri! Pergi kamu dari rumah ini! Jangan kotori nama baik keluarga kita lagi!" Duniaku runtuh saat itu juga. Ibu, orang yang paling kuperjuangkan hidupnya, lebih percaya pada fitnah Maya daripada padaku yang sudah sepuluh tahun menjadi tulang punggung. Di sudut pintu, aku melihat Maya berdiri dengan senyum tipis yang penuh kemenangan. Dia benar-benar telah merampas satu-satunya hal yang kumiliki: keluargaku. Aku jatuh terduduk di atas lantai yang dingin, mengumpulkan lembaran uang yang berceceran dengan tangan yang terus gemetar. Di ambang pintu, Ibu sudah pergi dengan langkah penuh emosi, meninggalkan aroma kekecewaan yang menyesakkan d**a. Namun, saat aku baru saja hendak menyeka air mataku, aku melihat sepasang kaki kecil berdiri di balik bayangan pintu yang setengah terbuka. Itu adalah Bimo, adik bungsuku yang baru berusia tujuh tahun. Dia berdiri diam di sana, memeluk sebuah buku gambar kusam yang pernah kubelikan dari sisa uang makanku setahun lalu. Matanya yang bulat tampak berkaca-kaca, menatapku dengan tatapan yang sulit diartikan. "Kak..." suaranya sangat lirih, hampir tenggelam oleh suara hujan yang tiba-tiba turun di luar. Aku mencoba tersenyum di balik tangis, meski rasanya wajahku kaku seperti batu. "Bimo, masuk ke kamar ya. Belajar yang rajin." Bimo tidak bergerak. Dia justru melangkah mendekat dengan sangat pelan, seolah takut akan ketahuan oleh Maya atau Ibu. Dia berjongkok di depanku, lalu tangannya yang mungil meraih satu lembar uang di lantai dan memberikannya padaku. "Aku tahu Kakak nggak bohong," bisiknya dengan suara yang bergetar. "Tadi malam aku lihat Kak Maya ambil HP Kakak waktu Kakak tidur di dapur. Kak Maya ketawa-ketawa sendiri." Jantungku seperti berhenti berdetak sesaat. Jadi, Bimo melihatnya? Tapi apa gunanya? Anak sekecil ini tidak akan didengar suaranya oleh Ibu yang sedang kalap, apalagi oleh keluarga besar yang sudah haus akan gosip. Bimo kemudian mengeluarkan sesuatu dari balik bukunya. Sebuah permen cokelat yang sudah agak meleleh. "Ini buat Kakak. Jangan nangis lagi. Nanti kalau Bimo sudah besar, Bimo yang akan jaga Kakak." Aku memeluk Bimo dengan sangat erat, menumpahkan segala sesak yang sejak tadi kupendam. Di rumah yang penuh racun ini, ternyata masih ada satu hati kecil yang tetap bersih. Namun, pelukan itu terlepas paksa saat suara teriakan Maya kembali menggema dari ruang tengah, memanggil Bimo agar menjauh dariku. Aku tahu, jika aku tetap tinggal, Bimo juga akan terpengaruh oleh kebencian mereka. Aku harus pergi, bukan hanya untuk menyelamatkan diriku, tapi agar suatu saat aku bisa kembali dengan kekuatan yang cukup untuk menjemput Bimo dari neraka ini.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD