Bab 27: Di Liang Singa

1456 Words
Bab 27: Di Liang Singa (Bagian 1: Kegelapan yang Menyesakkan) Dunia di sekitarku berguncang seiring dengan laju mobil van yang tidak beraturan. Mataku tertutup kain hitam, dan tangan serta kakiku terikat kuat dengan kabel plastik yang menyayat kulit. Bau apak dan oli mesin menyerbu penciumanku, menandakan aku dibawa ke kawasan industri tua di pinggiran Jakarta. Pikiranku terus melayang pada Adrian yang tersungkur di lantai hotel dan Bimo yang terbaring lemah di rumah sakit. Rasa takut sempat mencoba melumpuhkanku, namun amarah yang lebih besar membakarnya hingga habis. Jika aku harus mati hari ini, aku bersumpah tidak akan mati sebagai korban yang lemah. Mobil berhenti. Aku diseret keluar dengan kasar, kakiku tersandung kerikil tajam hingga lututku perih. Saat penutup mataku dibuka, cahaya lampu neon yang berkedip-kedip menyilaukan mataku. Aku berada di sebuah gudang tua yang dipenuhi oleh peti-peti kayu kosong. Di depanku, duduk seorang pria tua dengan wajah yang dipenuhi bekas luka bakar di satu sisi—Herman Sudirja. (Bagian 2: Dendam Puluhan Tahun) "Akhirnya kita bertemu, pewaris Adeline," suara Herman parau, seperti gesekan amplas di atas kayu. Di sampingnya, Clarissa berdiri dengan senyum puas, seolah ia baru saja memenangkan lotre. "Lepaskan adikku, Herman," desisku, mencoba menjaga suaraku agar tidak bergetar. "Kau menginginkan saham Sanjaya? Ambillah. Tapi jangan sentuh anak kecil yang tidak tahu apa-apa." Herman tertawa, sebuah suara kering yang tidak menyenangkan. "Saham? Nona Arini, kau pikir aku menghabiskan sepuluh tahun di penjara hanya untuk angka-angka di atas kertas? Aku ingin melihat kehancuran total. Aku ingin William Sanjaya melihat dari liang kuburnya bagaimana keturunannya memohon nyawa di kakiku." Dia melemparkan sebuah tablet ke arahku. Layarnya menampilkan siaran langsung dari kamar Bimo. Seorang pria berbaju perawat berdiri di sana, memegang sebuah jarum suntik berisi cairan berwarna hitam pekat tepat di atas selang infus Bimo. (Bagian 3: Permainan Kucing dan Tikus) "Satu instruksi dariku, dan adikmu akan tertidur selamanya," ucap Herman sambil memutar-mutar ponselnya. "Tapi aku memberimu pilihan. Tanda tangani dokumen pengalihan aset ini, dan aku akan membiarkan adikmu hidup—setidaknya sampai besok pagi." Aku menatap dokumen di atas meja kayu yang kotor. Itu bukan hanya pengalihan saham, tapi juga pengakuan palsu bahwa Adrian telah melakukan penggelapan dana selama bertahun-tahun. Mereka ingin menghancurkan reputasi Adrian secara permanen sebelum membunuh kami. "Arini, jangan lakukan itu!" sebuah suara terdengar dari arah kegelapan di belakang gudang. Aku menoleh dan melihat Adrian. Wajahnya berdarah, kemeja putihnya robek, dan dia dikelilingi oleh tiga pria bersenjata. Ternyata mereka juga membawa Adrian ke sini. (Bagian 4: Kekuatan dari Kelemahan) "Adrian!" teriakku. Melihatnya terluka membuat hatiku hancur, namun melihatnya masih hidup memberiku secercah harapan. Clarissa melangkah maju dan menampar pipiku dengan keras. "Diam! Kau tidak punya hak untuk bicara!" Aku memalingkan wajah kembali ke arah Herman. Aku menarik napas panjang, mencoba mengingat semua yang diajarkan ayah angkatku tentang keberanian. "Herman, kau pikir kau orang paling pintar di ruangan ini? Kau lupa satu hal tentang orang yang tidak punya apa-apa sepertiku." Aku menatap kamera CCTV di sudut gudang. "Pak Baskoro, sekarang!" (Bagian 5: Serangan Balik yang Terencana) Tiba-tiba, suara sirine polisi meraung-raung dari segala penjuru. Lampu sorot raksasa menembus jendela-jendela gudang yang pecah. Herman terlonjak berdiri, wajahnya penuh amarah. "Apa yang kau lakukan?!" "Aku tidak datang ke hotel itu sendirian," ucapku dengan senyum dingin. "Saat aku bicara dengan Clarissa, aku sudah mengaktifkan pelacak sinyal di liontin mawar perakku—yang sengaja kubiarkan jatuh di dekat Adrian agar tim keamanannya bisa melacak koordinat van ini secara real-time." Ternyata, liontin yang putus itu adalah bagian dari rencana daruratku bersama Pak Baskoro. Aku tahu mereka akan menculikku, dan aku menjadikanku diriku sendiri sebagai umpan hidup. (Bagian 6: Detik-Detik Menegangkan) Kekacauan pecah. Anak buah Herman mulai menembaki arah luar, sementara tim elit Sanjaya bersama kepolisian merangsek masuk melalui atap. Di tengah baku tembak, Clarissa mencoba meraih pistol dari meja, namun aku menendang kakinya hingga dia terjatuh. Adrian berhasil melepaskan diri dari penjaganya dan berlari ke arahku. Dia menggunakan badannya untuk melindungiku saat peluru mulai beterbangan. "Bimo aman, Arini! Tim keamanan sudah mengamankan rumah sakit sebelum perawat itu sempat bertindak!" teriaknya di telingaku. Herman, yang menyadari dunianya runtuh untuk kedua kalinya, mencoba menekan tombol di ponselnya untuk meledakkan gudang ini. "Jika aku kalah, kalian semua harus ikut denganku!" (Bagian 7: Pilihan Terakhir) Tanpa pikir panjang, aku menerjang Herman. Berat tubuhku membuatnya terjatuh sebelum jarinya sempat menekan tombol detonator. Kami bergulat di lantai yang kotor. Herman mencekik leherku dengan tangannya yang kuat, membuatku sulit bernapas. "Kau... hanya... buruh... sampah!" geramnya. Aku meraih sebuah potongan besi tajam di dekatku dan menghujamkannya ke lengannya. Herman mengerang kesakitan dan melepaskan cekikannya. Di saat itulah, pasukan polisi berhasil mengepung kami. "Angkat tangan! Jangan bergerak!" (Bagian 8: Cahaya di Ujung Terowongan) Herman Sudirja dan Clarissa akhirnya diringkus. Saat mereka diseret keluar, aku jatuh terduduk di pelukan Adrian. Seluruh tubuhku gemetar hebat. Adrenalin yang tadi memompa jantungku kini menguap, meninggalkan rasa lelah yang luar biasa. Adrian memelukku sangat erat, seolah takut aku akan menghilang lagi. "Kau gila, Arini. Benar-benar gila. Tapi kau menyelamatkan kita semua." "Aku hanya melakukan apa yang harus kulakukan, Adrian," bisikku sambil terisak. "Aku lelah menjadi mangsa. Aku ingin menjadi pemburu." Malam itu, di bawah langit Jakarta yang mulai memerah karena fajar, aku menyadari bahwa menara kebohongan itu kini benar-benar telah rata dengan tanah. Tidak ada lagi Blackwood, tidak ada lagi Herman, dan tidak ada lagi rasa takut yang menghantui langkahku. (Bagian 9: Dialog Maut) Herman Sudirja menatapku dengan kebencian yang seolah-olah bisa membakar udara di antara kami. "Kau tahu, Arini," ia meludah ke samping, "ibumu, Adeline, memiliki mata yang sama dengannmu. Mata yang penuh dengan harapan palsu. Dia pikir cinta William bisa melindunginya dari hukum alam dunia ini. Dia salah, dan kau pun salah." Aku menahan rasa sakit di pergelangan tanganku yang terikat. "Ibu tidak salah karena mencintai, Herman. Dia hanya salah karena berada di lingkungan orang-orang serakah seperti kalian. Kau menyebut ini hukum alam? Tidak, ini hanya kegilaan seorang pria tua yang tidak bisa menerima kenyataan bahwa dunia sudah berubah." Clarissa tertawa di belakangku, tangannya memainkan sebilah pisau kecil yang ia gunakan untuk memotong ujung rambutku. "Dunia tidak berubah, sayang. Orang kaya tetap berkuasa, dan orang miskin tetap menjadi alas kaki. Kau hanyalah alas kaki yang kebetulan sedang dipakai oleh Adrian. Tapi malam ini, kami akan membuang kalian berdua ke tempat sampah sejarah." (Bagian 10: Ketegangan di Ambang Ledakan) Suara deru helikopter polisi mulai terdengar sangat dekat, membuat debu-debu di langit-langit gudang berjatuhan. Herman tampak gelisah. Ia tahu waktunya tidak banyak. Ia meraih kerah bajuku dan menarikku berdiri hingga aku nyaris tercekik. "Panggil mereka kembali, Arini! Beritahu polisi itu bahwa ini hanya kesalahpahaman, atau aku bersumpah jarum itu akan masuk ke pembuluh darah adikmu sekarang juga!" Herman berteriak tepat di wajahku. Bau napasnya yang busuk membuatku mual. "Sudah terlambat, Herman," jawabku dengan sisa tenaga. "Sinyal di rumah sakit sudah diputus oleh tim IT Adrian sejak sepuluh menit yang lalu. Perawat gadunganmu itu sekarang sedang diinterogasi oleh polisi." Wajah Herman berubah dari kemerahan menjadi abu-abu. Ia menyadari bahwa gertakannya tidak lagi memiliki taring. Di saat itulah, pintu utama gudang meledak hancur akibat serangan bom asap dari tim gegana. (Bagian 11: Detik-Detik Penentuan) Dalam kabut asap yang putih dan menyesakkan, aku merasakan tarikan pada kabel plastik di tanganku. Seseorang memotongnya dengan cepat. Itu Adrian. Meskipun wajahnya bengkak dan penuh memar, matanya bersinar dengan kemarahan yang tenang. "Lari ke arah belakang, Arini! Sekarang!" teriaknya sambil mendorongku ke balik tumpukan peti. Aku melihat Adrian menerjang Herman yang mencoba meraih detonator cadangan di saku jasnya. Mereka bergulat di atas lantai semen yang kasar. Herman, meski sudah tua, memiliki kekuatan orang gila yang tidak terduga. Ia berhasil meraih sebuah balok kayu dan menghantamkannya ke arah Adrian. "TIDAK!" aku berteriak dan tanpa pikir panjang, aku mengambil sebuah kaleng cat bekas yang berat dan melemparkannya ke arah kepala Herman. Kaleng itu mengenai sasarannya, membuat Herman goyah sejenak, cukup bagi Adrian untuk melancarkan pukulan telak yang membuat pria tua itu pingsan. (Bagian 12: Akhir dari Kegelapan) Pasukan polisi bersenjata lengkap merangsek masuk, mengamankan Clarissa yang berteriak histeris dan mencoba melawan. Aku merangkak menuju Adrian yang terengah-engah di lantai. Kami berdua bersimbah debu, darah, dan air mata. "Kita melakukannya..." bisik Adrian sambil menarikku ke dalam pelukannya. Tubuhnya bergetar, bukan karena takut, tapi karena kelegaan yang luar biasa. "Ya, Adrian. Semuanya sudah berakhir," jawabku, membenamkan wajahku di pundaknya yang lebar. Di luar gudang, cahaya biru dan merah dari lampu polisi berputar-putar, menerangi malam yang kelam. Untuk pertama kalinya dalam hidupku, aku tidak lagi merasa seperti buronan. Aku tidak lagi merasa seperti Arini yang ketakutan. Saat petugas medis membantuku naik ke ambulans, aku menatap langit fajar yang mulai menyingsing di ufuk timur. Mawar perak di leherku terasa hangat, seolah-olah menyerap cahaya matahari pertama. Kami telah melewati liang singa, dan kami keluar darinya bukan hanya sebagai pemenang, tapi sebagai manusia yang akhirnya bebas dari rantai masa lalu.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD