Bab 29: Perjamuan Mawar Besi

931 Words
(Bagian 1: Labirin Kemewahan) Macau adalah kota yang tidak pernah tidur, namun di balik hiruk-pikuk kasino yang bising, terdapat sisi lain yang sunyi dan mengintimidasi. Mobil limosin hitam yang membawa kami berhenti di sebuah bangunan bergaya kolonial Portugis yang tersembunyi di balik perbukitan tinggi. Ini bukan hotel biasa; ini adalah kediaman pribadi yang dikenal sebagai Casa da Rosa—Rumah Mawar. Adrian menggandeng tanganku erat saat kami menaiki tangga marmer yang diapit oleh patung-patung malaikat tanpa wajah. Aku bisa merasakan tatapan mata dari balik jendela-jendela tinggi. Penjagaan di sini tidak terlihat mencolok, namun aku tahu setiap jengkal tanah ini dipantau oleh teknologi paling mutakhir. "Jangan tunjukkan rasa takutmu, Arini," bisik Adrian di telingaku. "Mereka memakan ketakutan seperti serigala memakan daging." (Bagian 2: Sang Matriark) Di dalam aula utama yang diterangi oleh lampu gantung kristal raksasa, seorang wanita tua duduk di kursi tinggi kayu jati. Rambutnya putih keperakan, disanggul rapi dengan tusuk konde berbentuk mawar yang terbuat dari berlian hitam. Dia mengenakan cheongsam sutra berwarna abu-abu tua yang memancarkan aura kekuasaan yang mutlak. "Kau sangat mirip dengannya," suara wanita itu tenang namun berwibawa, menggema di ruangan yang luas itu. "Adeline selalu memiliki cara berdiri yang menantang, bahkan saat dia berada di ambang kehancuran." Aku melangkah maju, melepaskan diri dari pegangan Adrian agar tampak lebih mandiri. "Siapa Anda? Dan apa hubungan Anda dengan ibuku, Adeline von Rose?" Wanita itu tersenyum tipis, sebuah senyuman yang tidak mencapai matanya. "Namaku adalah Beatrice von Rose. Aku adalah nenekmu, Arini. Dan kau sedang berada di rumah yang seharusnya menjadi milikmu sejak kau lahir." (Bagian 3: Kebenaran yang Tersembunyi) Duniaku seolah berputar. Nenek? Aku tidak pernah tahu bahwa aku memiliki keluarga lain selain Ayah dan Maya. Adrian tampak sama terkejutnya, namun dia tetap waspada di sampingku. "Jika Anda adalah nenekku, mengapa Anda membiarkan ibuku hidup dalam kemiskinan dan ketakutan?" tanyaku dengan nada yang mulai meninggi. "Mengapa Anda membiarkan Herman Sudirja menyerang adikku?!" Beatrice berdiri perlahan, dibantu oleh tongkat perak berkepala singa. "Adeline mencuri sesuatu yang sangat berharga dari keluarga ini. Dia melarikan diri dengan Casket of Tears—sebuah kotak berisi kode akses ke aset-aset rahasia keluarga von Rose yang tersebar di seluruh Eropa. Dia memilih seorang pria pengurus kebun daripada tanggung jawab besarnya. Dan Herman... dia hanyalah alat yang tidak sabaran yang mencoba mencari muka di hadapanku." (Bagian 4: Kotak Air Mata) Beatrice memberi isyarat kepada pelayannya untuk membawakan sebuah kotak kayu kecil yang tampak sangat tua. Di tengahnya terdapat lubang kunci yang bentuknya sangat kukenal. "Kau membawa kuncinya, bukan? Kunci yang kau temukan di rumah ayah angkatmu," ucap Beatrice. "Buka kotak ini, Arini. Buktikan bahwa kau adalah pewaris yang sah, atau kau akan berakhir seperti ibumu—menjadi catatan kaki yang terlupakan dalam sejarah keluarga kami." Aku menoleh ke arah Adrian. Dia menatapku dengan penuh kekhawatiran. Kami tahu ini bisa jadi jebakan. Jika aku membuka kotak itu, aku mungkin secara resmi masuk ke dalam dunia mereka yang gelap dan penuh intrik. Tapi jika aku tidak membukanya, kami mungkin tidak akan pernah bisa keluar dari Macau dalam keadaan hidup. (Bagian 5: Ancaman di Balik Keramahan) "Dan apa yang terjadi jika aku menolak?" tanyaku, menatap lurus ke mata Beatrice. "Maka Sanjaya Group akan hancur besok pagi," jawab Beatrice tanpa ragu. "Blackwood Corp hanyalah permulaan. Kami memiliki cukup kekuatan finansial untuk membuat nilai saham Adrian menjadi nol dalam waktu hitungan jam. Kami tidak menginginkan perusahaan itu, Arini. Kami hanya menginginkan apa yang ada di dalam kotak ini." Adrian melangkah maju, mencoba menghalangi. "Anda tidak bisa mengancam istri saya seperti ini! Kami akan melaporkan ini ke otoritas internasional!" Beatrice tertawa pelan. "Otoritas? Tuan Sanjaya, di dunia ini, otoritas dibeli dan dijual di meja makan seperti ini. Jangan menjadi naif." (Bagian 6: Keputusan yang Menyakitkan) Aku mengeluarkan kunci mawar dari saku blusku. Logam dingin itu terasa berat di tanganku. Aku teringat pada Bimo yang masih di rumah sakit, dan pada Adrian yang sudah mengorbankan segalanya untukku. Aku tidak bisa membiarkan mereka hancur karena masa lalu yang bahkan tidak kupahami. "Aku akan membukanya," ucapku tegas. Aku memasukkan kunci itu ke dalam lubang kayu tua tersebut. Suara klik yang halus terdengar, dan tutup kotak itu terbuka. Namun, isinya bukan emas atau permata. Di dalamnya hanya ada sebuah mikrofilm tua dan sebuah surat yang ditulis dengan tulisan tangan ibuku yang sangat halus. (Bagian 7: Surat dari Masa Lalu) Aku mengambil surat itu dan membacanya dalam hati. “Untuk putriku, Arini. Jika kau membaca ini, berarti kau sudah berada di tangan Beatrice. Jangan percaya padanya. Kotak ini tidak berisi kode akses. Kotak ini berisi bukti kejahatan perang yang dilakukan keluarga von Rose untuk membangun kekayaan mereka. Gunakan ini sebagai pedangmu, bukan sebagai mahkotamu.” Tanganku gemetar. Aku segera menutup kotak itu kembali sebelum Beatrice bisa melihat isinya. Aku menyadari bahwa ibuku tidak mencuri karena keserakahan; dia mencuri untuk menghentikan kejahatan keluarganya sendiri. (Bagian 8: Permainan Dimulai) "Apa isinya, Arini?" tanya Beatrice dengan nada tidak sabar. Aku menatapnya dengan tatapan yang paling dingin yang pernah kumiliki. "Hanya daftar aset-aset lama yang sudah tidak berguna," bohongku. "Sepertinya Ibu benar-benar ingin memutus hubungan dengan Anda." Beatrice menyipitkan matanya, curiga. "Jangan mencoba membohongiku, gadis kecil. Aku bisa mencium bau kebohongan dari jarak satu mil." Tiba-tiba, alarm keamanan rumah kembali berbunyi. Kali ini, itu bukan polisi. Seseorang sedang menyerang Casa da Rosa. Suara ledakan terdengar dari arah gerbang depan. "Tuan Besar Herman Sudirja sudah kabur dari penjara Jakarta!" teriak seorang penjaga yang berlari masuk dengan wajah berdarah. "Dia membawa tentara bayaran dan dia menuntut kotak itu!" Adrian segera menarikku ke balik pilar besar. "Sepertinya musuh kita bertambah banyak, Arini. Dan kali ini, kita terjebak di tengah-tengah perang dua keluarga gila."
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD