(Bagian 1: Desing Peluru di Keheningan Salju)
Suara tembakan pertama memecah kesunyian pegunungan Alpen, memantul di dinding-dinding marmer sanatorium yang megah. Kaca jendela besar di koridor hancur berkeping-keping, menghujani lantai dengan kristal tajam yang berkilauan di bawah lampu remang. Aku tersentak, namun tangan Adrian segera menarikku ke balik dinding beton yang kokoh.
"Tetap menunduk, Arini! Jangan lepaskan tanganku!" perintah Adrian. Suaranya tidak lagi lembut; itu adalah suara seorang pria yang siap berperang.
Aku bisa melihat napas kami yang menguap di udara dingin. Di luar, siluet pria-pria berpakaian taktis hitam bergerak cepat menembus badai salju. Mereka bukan polisi; mereka adalah tentara bayaran yang dikirim oleh Hendrawan. Mereka tidak datang untuk menyelamatkan Nyonya Victoria, mereka datang untuk memastikan tidak ada saksi yang tersisa dari pertemuan hari ini.
(Bagian 2: Pengkhianatan Terakhir)
Di dalam kamar, Nyonya Victoria masih duduk di kursi rodanya, menatap kekacauan itu dengan senyum getir yang mengerikan. Dia tidak tampak takut. "Lihat itu, Adrian," suaranya parau namun penuh ejekan. "Anjing-anjing yang kupelihara di Dewan Direksi akhirnya menggigit tanganku sendiri. Mereka belajar dariku... mereka tahu bahwa tidak boleh ada bukti yang tertinggal."
"Diam, Nenek!" bentak Adrian sambil memeriksa amunisi senjatanya. "Kau yang memulai semua kegilaan ini!"
Adrian menoleh padaku, matanya berkilat penuh tekad. "Ada jalur evakuasi darurat di sayap barat. Kita harus mencapai helipad dalam sepuluh menit sebelum mereka mengepung seluruh gedung. Arini, kau harus berani."
Aku mengangguk kuat. Rasa takut yang tadinya melumpuhkanku kini berubah menjadi kemarahan yang membara. Aku tidak akan membiarkan hidupku berakhir di sini, bukan setelah semua yang kulalui untuk menemukan kebenaran.
(Bagian 3: Labirin Maut)
Kami berlari menelusuri koridor yang panjang. Setiap langkah kaki kami bergema, diikuti oleh suara sepatu bot berat dari arah belakang. Adrian melepaskan beberapa tembakan balasan untuk menghambat mereka. Aku bisa merasakan panas dari selongsong peluru yang jatuh di dekat kakiku.
Di tengah pelarian, kami melewati ruang medis. Aku melihat sebuah tabung oksigen besar. Sebuah ide gila muncul di kepalaku. "Adrian! Tembak tabung itu saat kita melewati tikungan!" teriakku.
Adrian segera mengerti. Begitu kami berbelok, dia membidik tabung oksigen tersebut. Sebuah ledakan hebat mengguncang lorong, menciptakan tabir asap dan api yang menghalangi jalan para pengejar kami. Ledakan itu memberi kami waktu tambahan yang sangat berharga.
(Bagian 4: Pengorbanan Sang Nyonya)
Namun, saat kami mencapai pintu sayap barat, langkah kami terhenti. Nyonya Victoria, yang entah bagaimana berhasil menggerakkan kursi roda elektriknya mengikuti kami, tertahan di depan pintu otomatis yang macet akibat ledakan.
"Tinggalkan aku!" teriak Victoria. Wajahnya yang keriput kini tampak sangat pucat. "Ambil kunci ini, Adrian. Ini kunci brankas nomor satu di Sanjaya Group. Isinya adalah rekaman pengakuan Hendrawan tentang penggelapan pajak sepuluh tahun lalu. Hancurkan dia... hancurkan mereka semua!"
Dia melempar sebuah kunci kecil berukir singa ke arah Adrian. "Pergilah! Biarkan aku menyambut mereka di sini. Setidaknya, biarkan aku mati sebagai seorang Sanjaya, bukan sebagai tahanan mereka."
Adrian ragu sejenak. Bagaimanapun, wanita itu adalah darah dagingnya. Namun, suara tembakan yang semakin mendekat memaksanya membuat pilihan. "Maafkan aku, Nek," bisik Adrian sebelum menarikku masuk ke lorong menuju helipad.
(Bagian 5: Pertarungan di Helipad)
Udara dingin Alpen langsung menusuk tulang saat kami keluar ke area terbuka. Angin kencang menerbangkan salju, mengaburkan pandangan. Helikopter milik Adrian sudah menyalakan mesinnya, baling-balingnya berputar menciptakan suara yang memekakkan telinga.
Namun, di depan helikopter, Tuan Hendrawan sudah berdiri di sana bersama dua orang pengawal bersenjata. Dia memegang sebuah detonator.
"Selamat siang, Tuan Sanjaya. Dan Nona Arini yang terhormat," sapa Hendrawan dengan senyum licik. "Sayang sekali perjalanan romantis kalian harus berakhir seperti ini. Helikopter ini sudah dipasangi bahan peledak. Satu tekan, dan kalian akan menjadi kembang api di atas pegunungan ini."
(Bagian 6: Keberanian Arini)
Adrian mencoba membidik, namun pengawal Hendrawan lebih cepat mengarahkan senapan ke d**a Adrian. Aku tahu, jika aku tidak bertindak, kami akan mati.
"Tunggu, Tuan Hendrawan!" aku melangkah maju, keluar dari bayang-bayang Adrian. Aku mengangkat liontin mawar perak itu tinggi-tinggi. "Anda menginginkan kekuasaan, kan? Anda ingin saham Adeline yang sah? Saya punya dokumennya di sini!"
Aku berbohong. Aku hanya memegang surat wasiat yang sebenarnya tidak memberikan hak suara secara langsung tanpa proses hukum. Tapi Hendrawan adalah pria yang rakus, dan orang rakus selalu bisa dijebak oleh umpan.
"Berikan padaku, dan aku akan membiarkan pria itu hidup!" teriak Hendrawan, matanya berkilat penuh ketamakan.
Aku berjalan perlahan ke arahnya, tangan kananku memegang liontin, sementara tangan kiriku menyembunyikan sebuah alat kejut listrik kecil yang kusembunyikan di saku blus sejak dari vila. Saat jarak kami hanya selangkah, aku tidak menyerahkan liontin itu.
(Bagian 7: Detik-Detik Penentuan)
"Ini untuk ayahku!" teriakku sambil menghujamkan alat kejut itu ke leher Hendrawan.
Hendrawan tersentak hebat, tubuhnya kaku dan detonator itu terlepas dari tangannya. Di saat yang sama, Adrian beraksi. Dia melumpuhkan kedua pengawal itu dengan tembakan yang presisi. Hendrawan jatuh tersungkur di atas salju, mengerang kesakitan.
Adrian segera memungut detonator itu dan menonaktifkannya. Dia menarikku masuk ke dalam helikopter. "Terbang sekarang!" perintahnya kepada pilot.
(Bagian 8: Meninggalkan Luka)
Saat helikopter mulai terangkat, aku melihat ke bawah. Bangunan sanatorium itu perlahan mengecil. Aku melihat api mulai berkobar di sayap barat. Nyonya Victoria, Hendrawan, dan semua ambisi gelap mereka kini tertinggal di bawah sana, terkubur oleh putihnya salju Alpen yang abadi.
Aku jatuh terduduk di kursi helikopter, seluruh tubuhku lemas. Adrian memelukku sangat erat, mencium keningku berulang kali. "Kau menyelamatkan kita, Arini. Kau luar biasa."
Aku menutup mata, merasakan getaran mesin helikopter. "Aku hanya ingin pulang, Adrian. Aku ingin menjemput Bimo dan memulai hidup di mana tidak ada lagi yang harus mati demi sebuah rahasia."
Di atas langit Swiss yang biru pucat, aku menyadari bahwa Arini yang lama telah benar-benar mati di pegunungan itu. Arini yang sekarang adalah wanita yang telah menghadapi maut dan menang. Kami membawa pulang kemenangan, namun yang lebih penting, kami membawa pulang kebenaran yang kini tak lagi bisa menyakiti kami.