Bab 19: Dinginnya Dinding Keadilan

954 Words
(Bagian 1: Menghadapi Sang Monster) Dua hari setelah penemuan bukti di bank, aku dan Adrian melangkah masuk ke kantor polisi pusat. Suasananya pengap, berbau asap rokok dan kertas tua. Namun, aku tidak merasa takut lagi. Di dalam tas kulitku, tersimpan flashdisk berisi suara Ayah dan dokumen pemalsuan tanda tangan yang dilakukan Maya. "Anda yakin ingin menemuinya, Nona Arini?" tanya seorang petugas polisi yang mengenali namaku dari berita. "Saya yakin," jawabku tegas. "Ada beberapa hal yang harus diselesaikan secara tatap muka." Adrian menggenggam tanganku sejenak sebelum aku masuk ke ruang kunjungan yang dibatasi oleh kaca tebal. Dia menungguku di luar, memberiku ruang untuk menyelesaikan urusan masa laluku sendiri. (Bagian 2: Air Mata Buaya yang Sia-sia) Maya muncul dari pintu besi dengan seragam tahanan berwarna oranye. Wajahnya yang dulu selalu tertutup make-up mahal kini pucat, kuyu, dan penuh gurat kelelahan. Saat dia melihatku, matanya langsung berkilat marah, namun dia segera memasang wajah memelas. "Arini! Syukurlah kau datang!" dia meratap di balik kaca, mencoba menyentuh pembatas itu. "Kau harus membantuku, Kak. Di sini mengerikan! Katakan pada polisi bahwa kau mencabut tuntutanmu. Kita ini saudara, Arini! Kau tidak tega melihat adikmu sendiri menderita, kan?" Aku duduk dengan tenang, menatapnya tanpa ekspresi. "Saudara? Saudara mana yang mengancam akan membuang obat ayahnya sendiri jika ayahnya tidak memberikan uang untuk judi?" Wajah Maya seketika membeku. "A-apa yang kau bicarakan? Kau bicara sembarangan!" (Bagian 3: Skakmat yang Menghancurkan) Aku mengeluarkan ponselku dan memutar potongan rekaman suara Ayah yang sudah kupindahkan. Suara Ayah yang gemetar menceritakan kekejaman Maya menggema di ruang kecil itu. Maya gemetar hebat, tangannya yang memegang gagang telepon interkom tampak memutih. "Aku sudah menyerahkan bukti aslinya kepada penyidik, Maya. Bukan hanya soal pembakaran apartemenku, tapi soal pencurian dana pensiun Ayah, pemalsuan dokumen, dan penggelapan aset rumah lama yang ternyata milik ibu kandungku, Adeline," lanjutku, suaraku rendah namun mematikan. "Ibu kandung? Adeline?" Maya bergumam, matanya membelalak kaget. "Jadi kau sudah tahu..." "Iya, aku sudah tahu semuanya. Dan kau tahu apa artinya ini? Tuntutanmu bukan lagi sekadar pasal perusakan properti. Kau akan dijerat pasal berlapis dengan hukuman minimal lima belas tahun penjara. Kau tidak akan pernah keluar dari sini untuk waktu yang sangat, sangat lama." (Bagian 4: Kehancuran Total) Maya mulai berteriak histeris, memukul-mukul kaca pembatas dengan tinjunya. "KAU HARUSNYA MATI, ARINI! KAU HARUSNYA MATI BERSAMA IBU KANDUNGMU YANG JALANG ITU! JANGAN PIKIR KAU BISA BAHAGIA!" Aku berdiri, mengenakan kembali kacamata hitamku dengan anggun. "Kebahagiaanku tidak lagi ditentukan oleh kebencianmu, Maya. Mulai detik ini, kau resmi dihapus dari hidupku. Nikmatilah setiap detik di balik dinding dingin ini, karena itulah harga dari setiap air mata yang kau buat Ayah dan aku tumpahkan." Aku berbalik tanpa menoleh lagi, mengabaikan teriakan makian Maya yang semakin menjadi-jadi. Di luar, Adrian sudah menungguku dengan senyum tipis. Dia merangkulku, membawaku keluar menuju udara segar yang terasa begitu manis. Beban yang selama sepuluh tahun ini menghimpit pundakku akhirnya benar-benar terangkat. (Bagian 5: Oksigen Kebebasan) Aku melangkah keluar dari gedung penjara yang lembap itu. Begitu pintu kaca besar terbuka, embusan angin sore menerpa wajahku, membawa aroma aspal panas dan kebebasan yang tak ternilai harganya. Aku menghirup oksigen dalam-dalam, membiarkannya memenuhi paru-paruku yang selama bertahun-tahun terasa sesak oleh beban rahasia dan fitnah. Di parkiran, Adrian berdiri bersandar pada mobil hitamnya. Dia tidak sedang sibuk dengan ponsel atau dokumen bisnisnya. Dia hanya menungguku. Begitu mata kami bertemu, dia tidak bertanya apa yang terjadi di dalam. Dia hanya membuka lengannya, dan aku pun menghambur ke sana. Di pelukan Adrian, pertahananku yang tadi begitu kokoh di depan Maya akhirnya sedikit melonggar. Tubuhku gemetar hebat. Bukan karena sedih, tapi karena adrenalin yang mulai surut. "Aku sudah mengatakannya, Adrian. Aku sudah melepaskan semuanya," bisikku di dadanya yang bidang. "Aku tahu," jawabnya lembut, tangannya mengusap punggungku dengan protektif. "Sekarang, monster itu sudah benar-benar terkunci. Dia tidak akan pernah bisa mengejarmu lagi, Arini. Bahkan dalam mimpimu sekalipun." (Bagian 6: Menghapus Sisa Luka) Kami masuk ke dalam mobil, namun Adrian tidak langsung menjalankan mesinnya. Dia menatapku dengan tatapan yang sangat dalam, seolah mencoba memastikan tidak ada lagi serpihan kaca di dalam hatiku setelah konfrontasi tadi. "Ada satu hal yang mengganjal, Adrian," ucapku sambil meraba liontin perak di leherku. "Maya menyebut ibu kandungku dengan nada benci. Dia seolah-olah tahu lebih banyak daripada yang dia katakan. Mengapa dia begitu membenci seseorang yang bahkan tidak pernah dia temui?" Adrian menghela napas panjang, tangannya menggenggam jemariku. "Orang seperti Maya tidak butuh alasan untuk membenci. Dia membenci Adeline karena Adeline adalah alasan mengapa Ayahmu begitu mencintaimu. Bagi Maya, setiap kasih sayang yang diberikan padamu adalah sesuatu yang dicuri dari porsinya. Dia tidak sadar bahwa cinta bukanlah sebuah kompetisi." Aku menyandarkan kepala di jok kulit yang mewah. "Aku ingin mencari tahu lebih banyak tentang Adeline. Bukan untuk menggali masa lalu, tapi untuk mengenal diriku sendiri. Aku ingin tahu mawar seperti apa yang telah melahirkanku." "Kita akan mencarinya bersama," janji Adrian. "Tapi bukan hari ini. Hari ini, aku ingin membawamu ke suatu tempat di mana tidak ada polisi, tidak ada pengacara, dan tidak ada masa lalu." (Bagian 7: Keputusan Tanpa Ampun) Sebelum mobil melaju, ponselku bergetar. Sebuah pesan singkat masuk dari Ibu. Beliau bertanya apakah aku sudah menemui Maya dan apakah ada harapan untuk keringanan hukuman. Aku menatap layar ponsel itu lama, merasakan sisa-sisa nurani yang dulu selalu membuatku mengalah. Namun, aku teringat suara Ayah yang batuk-batuk di rekaman itu. Aku teringat bagaimana Maya mengancam nyawa pria yang paling kucintai demi uang judi. Jemari tangan kananku bergerak dengan pasti. Aku memblokir nomor Ibu. Aku tidak akan membalasnya. Bukan karena aku ingin menjadi anak durhaka, tapi karena aku sadar bahwa memberi mereka harapan adalah cara tercepat untuk membiarkan mereka menghancurkanku kembali. "Kita pergi sekarang, Adrian," ucapku tegas. Aku tidak lagi melihat ke arah gerbang penjara di spion. Bagiku, mereka semua sudah mati bersama kebohongan yang mereka ciptakan.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD