Hae Ri mencengkram pergelangan Boona dengan kasar, membuat Boona meringis kesakitan dan berteriak sekuat tenaga. Semua orang mulai menatap ke arah mereka bertiga, sedikit merasa kasihan dengan Boona. Atau mungkin mereka lebih kasihan dengan Do Jun yang diperlakukan seperti itu. Padahal semua orang tidak tahu permasalahan yang terjadi, dan langsung menyalahkan Boona begitu saja. Memang, sikap Boona seperti anak kecil. Seharusnya dia membiarkan mereka berdua begitu saja tanpa mengotori tangannya sama sekali.
“Hentikan!” teriak Hae Ri, menarik tubuh Boona, menyeretnya keluar restoran dengan gerakan kasar. Boona hanya pasrah, menahan napas beberapa detik untuk mengumpulkan tenaga. Siapa tahu Hae Ri mengajaknya berduel di luar restoran. “Apa yang kamu lakukan, hm?”
“Ha?” Boona meninggikan suara, meletakan sebelah tangan di pinggang. “Seharusnya aku yang bertanya seperti itu! Apa yang kamu lakukan dengan Do Jun di tempat itu!”
“Tentu saja makan malam.” Hae Ri pria yang b******k, menjawab dengan nada santai sambil memasukkan sebelah tangan ke saku celana. Boona mengepalkan sebelah tangan, ingin ia ayunkan ke wajah Hae Ri yang tidak merasa bersalah. Oh Tuhan, sepertinya Boona harus rajin ke Gereja atau Kuil, meminta kebahagiaan dalam hidupnya. Boona menganggukkan kepala, mengerti sekarang. Hae Ri dengan terang-terangan menyakitinya di depan umum, tentu saja dia ingin putus. Boona tidak peduli. Yang perlu wanita itu lakukan sekarang adalah, mengayunkan tangan yang sudah mengepal sedari tadi, ke arah wajah Hae Ri.
Hell! Hae Ri yang sudah mengetahui pergerakan Boona, menangkis, membuat tubuh Boona tidak seimbang. Akhirnya Hae Ri menampar wajah Boona, menimbulkan bunyi yang keras. Wanita yang sudah hilang keseimbangan sebelumnya, langsung jatuh tak berdaya. Boona mengusap pipinya, merasakan panas menjalar di wajahnya. Melihat kekasihnya, mungkin sekarang mantan kekasihnya, Hae Ri membungkuk, mendekatkan wajahnya ke Boona. Boona sedikit mendongakkan kepala, menatap Hae Ri penuh memelas. Berharap pria yang pernah mencintainya itu membantu Boona berdiri.
Rupanya tidak sama sekali. Hae Ri malah meraih dagu Boona, semakin mendekatkannya ke wajahnya. Boona bisa merasakan napas hangat Hae Ri. Napas yang sekarang tidak hangat baginya.
“Aku sudah muak denganmu!” Bisik Hae Ri, setelah menempelkan bibirnya ke telinga Boona. Wanita itu hanya mengangguk pasrah, menerima keadaan. Misi yang akan dilakukan sebelum masuk ke restoran gagal. Dia tidak berhasil menghajar Hae Ri maupun Do Jun, malah dia yang dipermalukan di depan umum oleh Hae Ri. Sedangkan Do Jun, wanita itu sekarang berdiri di belakang Hae Ri, memperhatikan setiap perlakuan kasar Hae Ri ke Boona. Mungkin dibalik wajah Do Jun yang sedikit merasa iba kepada Boona, tersimpan kebahagiaan yang luar biasa karena sudah merebut Hae Ri dari Boona.
Apa dia tidak tahu malu, sudah merebut kekasih teman kerjanya? Bagaimana besok kalau dia harus berurusan dengan Do Jun di kantor. Boona menggeleng tidak setuju, berharap dia dipisahkan oleh Do Jun, wanita tidak tahu diri itu!
Setelah Hae Ri berbisik, ia membuang dan mendorong wajah Boona dengan kasar. Rambut panjang Boona menutupi wajahnya akibat gerakan tersebut. Saat Boona berusaha menyibakkan rambut ke belakang, Hae Ri dan Do Jun sudah pergi, berjalan bergandengan tangan. Dasar tidak tahu diri.
“Hei! Aku akan membalas kalian berdua!” Teriak Boona, membuat Do Jun menoleh ke belakang sambil melemparkan senyum licik. Melihat sikap Do Jun, Boona meraih sepatu Heels yang ia kenakan, melemparkannya sekuat tenaga ke arah Do Jun. Tapi sayang, sepatu itu tidak mengenai ke tubuh Do Jun. Sepatupun enggan berpihak pada Boona.
Dengan terpaksa, Boona berdiri menghampiri sepatunya dengan langkah satu kaki. Setelah berhasil mendapatkan sepatu yang tak jauh dari tempat sebelumnya, dia menghela napas panjang. Menundukkan kepala. Semua sudah berakhir. Bahkan sepatu yang ia kenakan adalah pemberian dari Hae Ri. Terlalu banyak barang yang diberikan pria itu kepada Boona. Mulai sekarang Boona harus membuang, dan membeli yang baru. Boona menggelengkan kepala, merasa tidak setuju dengan rencananya. Dia harus melunasi tagihan di awal Bulan, dan harus membayar sewa rumah. Terpaksa dia harus mengenakan barang-barang dari Hae Ri. Boona harus menahannya sampai dia memiliki simpanan uang lebih.
Hari sudah mulai malam, keadaan langit terlihat mendung. Boona yang merasa tidak baik-baik saja pergi ke swalayan membeli beberapa kaleng bir dan soju. Setelah membayar semua, Boona berjalan menelusuri tepian sungai Han. Lalu, dia duduk di bawah jembatan seorang diri sambil menikmati pemandangan sungai yang sebentar lagi akan dipenuhi oleh pantulan cahaya lampu. Boona menjatuhkan tubuhnya ke rerumputan setelah berhasil menghabiskan tiga kaleng bir, sesekali dia mengerjapkan kelopak mata. Semua sudah berakhir. Hubungannya dengan Hae Ri berakhir. Pria yang ia kenal sejak duduk di bangku kuliah, sudah tidak akan masuk ke dalam hidupnya lagi. Padahal dia berjanji akan menikahi Boona beberapa tahun lagi. Entah kenapa Tuhan tidak merestui hubungan mereka, sehingga memberikan masalah yang sangat luar biasa, yang harus disyukuri oleh Boona.
***
Wanita itu berusaha mengambil sisi baiknya dari kejadian tadi. Ya, dia memang harus merelakan Hae Ri, pria b******k itu! sampah memang seharusnya disatukan dengan sampah. Boona mendengus kesal, mendengar bunyi ponsel. Itu pasti Sun Ryu. Melihat keadaannya sekarang, Boona tidak ingin berbicara dengan siapapun, termasuk sahabatnya sendiri. Dia hanya ingin memeluk Ibunya, dia ingin pulang ke rumah. Tapi Boona harus bekerja besok pagi, sedangkan waktu tidak memungkinkan untuk pulang ke rumah, terlebih lagi Boona sedikit mabuk.
Boona berusaha beranjak berdiri, tapi tiba-tiba saja tangannya menyentuh suatu barang keras yang bersembunyi di rerumputan. Dengan rasa penasaran, Boona mengambil barang itu dan menemukan sebuah gelang berwarna putih emas. Boona tersenyum, melihat keindahan gelang itu. Sangat cantik dan berkilau meskipun sekitar minim cahaya. Tak lama kemudian, gelang itu sudah terpasang di pergelangan tangan kanan Boona. Setidaknya malam ini, Boona menemukan sebuah barang yang membuatnya bahagia. Dengan bersemangat, Boona berdiri dan berjalan ke arah rumah sambil menggoyangkan tubuhnya. Sesekali Boona bersenandung, melebar sedikit senyum selama perjalanan.
***
Tae Eul tersesat di sebuah pusat kota. Pakaiannya yang serba hitam membuat orang-orang melirik dengan pandangan aneh ke arah Tae Eul. Bahkan beberapa orang melemparkan tawa menghina. Tae Eul hanya menaikkan bahu, tidak peduli sama sekali. Bagaimana bisa Dewa membiarkan tubuh Tae Eul terlihat oleh manusia-manusia di bumi ini. Dan dimana dia harus mencari keberadaan roh jahat itu.
Saat Tae Eul berjalan menuju kuil, dia bertemu dengan hantu wanita berpakaian gaun putih panjang, sedang duduk di bangku taman. Tae Eul mendekati hantu itu, ingin menanyakan tentang keberadaan roh jahat.
“Hei, malaikat! Apa kamu akan menangkapku, hm?” Protes hantu itu, tidak terima saat Tae Eul mendekatinya. Hantu itu langsung melirik pergelangan tangan Tae Eul, lalu dia tertawa terbahak-bahak. Malaikat tanpa gelang, berarti dia tidak memiliki kemampuan apapun. Bahkan untuk menangkap roh jahat sekalipun. “Aku belum berubah menjadi roh jahat. Aku juga masih ingin menjadi hantu. Pergi sana!”
“Bisakah kamu mengecilkan suaramu, hm?” Tae Eul mengusap-usap daun telinga, merasa suara hantu itu mengganggu pendengarannya. “Apa kamu melihat roh jahat yang kabur dari neraka?”
“Oh.. ternyata malaikat yang menjaganya itu kamu?” Sekali lagi hantu wanita yang berparas ayu itu menertawakan kecerobohan Tae Eul dengan puas sambil memegangi perutnya. Sebuah kecerobohan yang sudah menyebar di seluruh dunia. “Bukankah kamu malaikat senior, kenapa bisa kalah dengan roh jahat?”
“Entahlah. Aku sedang sial!” Tae Eul mulai ketus karena diremehkan seorang hantu kurang ajar.
Hantu itu mulai berhenti tertawa, lalu menepuk permukaan bangku kosong, di sampingnya. Dia menyuruh Tae Eul duduk disana.
“Ngomong-ngomong, dimana gelangmu? Gelang yang selalu dipakai oleh semua malaikat? Baru kali ini aku melihat malaikat tidak mengenakan gelang.”
“Hei, ini karena aku memakai lengan panjang, dan gelang...” Tae Eul yang sudah duduk disebelah hantu, langsung berdiri. Menarik ke atas lengan bajunya. Oh, sial. Hilang! Tae Eul segera pergi meninggalkan hantu itu, dan menyusuri setiap jalan yang ia lewati tadi.