Super Gelang

1204 Words
*** Seorang wanita yang jarang mengenakan rok di atas lutut, kini berusaha mencobanya sekali saat bekerja. Dengan langkah yang sedikit menggoda, Boona berjalan menuju meja kerja. Dia sekilas melirik Do Jun yang berada di sudut ruangan, yang ternyata Do Jun juga sedang memperhatikan Boona. Melihat perubahan Boona, Do Jun hanya menggeleng sambil tersenyum mengejek memperlihatkan barisan giginya yang putih. Boona langsung menyibakkan rambut panjangnya sebelum duduk di kursi, mengarahkannya ke Do Jun yang masih memperhatikannya. *** Boona sengaja janjian makan siang dengan Sun Ryu, yang memang berbeda tempat kerja. Mereka membuat janji karena Sun Ryu kesal pada Boona yang tidak mau mengangkat telepon darinya. Bahkan Sun Ryu mengunjungi rumah Boona tapi kosong. Dia takut Boona melakukan percobaan bunuh diri, tentu Sun Ryu akan kehilangan seorang sahabat seperti dia. Sun Ryu mengangkat tangan saat Boona memasuki restoran, mengarahkan pandangannya ke segala arah untuk mencari Sun Ryu. Setelah melihat tangan Sun Ryu yang terangkat ke atas, Boona tersenyum sambil berjalan santai ke arahnya. Bagi Sun Ryu, yang selalu melihat penampilan Boona biasa saja, tidak begitu menarik, langsung terkejut. Bola mata Sun Ryu hampir keluar, rahangnya terbuka lebar saat melihat Boona hanya mengenakan rok pendek. Dasar jalang, batin Sun Ryu. “Apa yang kamu kenakan!” Sun Ryu yang sudah biasa memukul kepala Boona, langsung melakukan hal itu dia memukulnya dengan kasar saat Boona sudah berdiri di sampingnya. “apa kamu sakit?” “Sakit, hei!” Teriak Boona tanpa melihat keadaan sekitar yang ramai pengunjung makan siang. Setelah dia berteriak, Boona langsung menarik kursi yang menghadap Sun Ryu, dia langsung tersenyum bahagia sambil memamerkan gelang di tangannya. “Cantik, kan?” “Darimana kamu mendapatkan itu?” Sun Ryu menarik tangan Boona, mendekatkannya ke wajahnya. Dia sedikit menyipitkan mata saat memperhatikan setiap permukaan gelang itu. cantik. “Wow, sungguh. Ini pasti mahal.” “Oh, ya?” Boona menarik tangannya, menjauhkannya dari Sun Ryu. “Tuhan sudah membuang Hae Ri, lalu mendatangkan gelang ini dengan gratis tidak dipungut biaya sepeserpun.” “Ha?” Sun Ryu memekik, membungkam mulutnya saat mendengar jawaban dari Boona. Sahabatnya itu berubah profesi menjadi maling setelah putus dengan Hae Ri untuk menghidupi dirinya. “Kamu mencuri ini dimana, hei!” “Hei!” Suara Boona mengalahkan suara Sun Ryu yang sedari tadi berteriak dihadapannya. “Berhentilah berteriak. Aku tidak memiliki cukup uang untuk pengobatan telingaku!” “Jual saja gelangmu itu!” Sun Ryu memajukan kepala, maniknya mengarah ke gelang yang dikenakan Boona. “Ngg..menjualnya kepadamu?” Goda Boona seraya mengelus gelangnya. “Aku akan menjualnya dengan harga 100 dollar!” Sun Ryu meraih jus dihadapannya, memasukan sedotan ke dalam mulutnya. Dia melemparkan senyum mengejek ke arah Boona. “Dasar bodoh! Kamu bahkan tidak memiliki surat-surat di gelang itu. mungkin saja kamu berakhir di penjara saat menjualnya ke toko emas.” Boona menganggukkan kepala, setuju dengan pendapat Sun Ryu. Namun kalau dia benar-benar kehabisan uang, dia memilih untuk berakhir di penjara setelah menjual gelang ini. “Bagaimana hubunganmu dengan Hae Ri?” tanya Na Ri dengan hati-hati. Takut kalau Boona akan mengamuk, melemparkan sesuatu ke wajahnya. “aku benar, kan? Hae Ri berkencan dengan Do Jun? Aku mendapat informasi dari teman kerjaku yang waktu itu bertemu denganmu dan Hae Ri.” “Ohh…” Boona merubah ekspresi wajahnya menjadi datar begitu mendengar nama Hae Ri. “Aku sudah tidak ingin membahas tentangnya.” “Maafkan aku!” Sun Ryu meraih kedua tangan Boona, menggenggamnya dengan tulus. “Kamu wanita hebat!” Setelah mereka berdua menghabiskan makan siang, mereka segera keluar dari restoran. Tanpa disadari, Boona bertemu dengan Hae Ri dan Do Jun yang juga sedang selesai makan siang. Hae Ri melirik sekilas pakaian Boona, lalu menatap tajam ke arahnya. Hae Ri sedikit khawatir melihat pakaian Boona, tapi karena Do Jun mengikuti tatapan Hae Ri, wanita itu langsung meremas telapak tangan Hae Ri, membuat Hae Ri fokus ke Do Jun. “Astaga, kenapa kita bertemu sampah di tempat indah seperti ini?” Nada bicara Boona terdengar seperti bertanya, lalu menghadapkan wajahnya ke Sun Ryu yang berdiri sejajar dengannya. “Maksudmu sampah?” Do Jun memajukan tubuhnya ke arah Boona, dia mulai tidak terima disebut sampah. “Apa bedanya dengan dirimu? Masih mengenakan barang-barang pemberian mantan. Dasar sampah!” Hae Ri langsung menoleh ke bawah, melihat sepatu yang dikenakan Boona. Jujur, Hae Ri tidak mempermasalahkan barang pemberiannya itu, malah dia merasa senang kalau Boona tidak perlu membuangnya. “Apa aku menyebutmu sampah? Kenapa kamu merasa?” Boona meninggikan suaranya, lalu ia melepas sebelah sepatu dan mengangkatnya. “Sejak kapan kamu mengetahui semua barang-barang pemberian Hae Ri? Aku tidak pernah menceritakannya kepada orang lain, kecuali kamu mengetahuinya langsung dari dia.” Boona menggerakkan sepatu, hampir menempelkannya ke wajah Do Jun, tapi wanita itu ketakutan dan langsung sedikit menjauh. “Aku tidak pernah memberitahunya.” Jawaban polos Hae Ri tentu membuat Do Jun marah besar. Sedangkan Sun Ryu yang memperhatikan dalam diam, akhirnya tertawa sambil menutupi mulutnya. “Hah, ternyata kamu sudah mengincar Hae Ri sejak lama?” Boona menjatuhkan sepatunya, lalu ia langsung memakainya. “Silakan ambil dia. Habiskan dia!” sontak, karena sudah memendamnya dari kemarin, Boona mendorong tubuh Do Jun ke belakang. Untung saja Hae Ri dengan sigap menangkap tubuh mungil Do Jun. Tunggu, Hae Ri memang menangkap tubuh mungil Do Jun, tapi mereka berdua terpental beberapa meter dari tempat sebelumnya. Oh, Tuhan. Apa yang terjadi. Boona dan Sun Ryu menahan diri untuk tidak berteriak, mereka berdua menoleh ke segala arah. Orang-orang memaksakan diri untuk berhenti, menonton kejadian yang baru saja Boona alami. “Apa yang kamu lakukan, ha?” Teriak Hae Ri dari kejauhan. Karena tidak terima diperlakukan seperti ini, terlebih lagi dengan seorang wanita yang membuat dirinya terlihat lemah. Hae Ri berlari ke arah Boona. Sikap kasarnya mulai muncul, lagi, seperti kemarin. Ia menarik beberapa helai rambut Boona yang tergerai di depan d**a. setelah mendapatkan dan menggenggamnya, Hae Ri berusaha menjambak rambut Boona. Namun gerakan itu segera Boona tahan dengan memegang tangan Hae Ri yang berusaha menyentuh rambutnya. “Arrghhh… sakit!” “Ha…!” Boona ikut terkejut begitu mendengar bunyi tulang tangan Hae Ri, seperti patah. Boona menutup mulutnya menggunakan kedua tangan, maniknya hampir copot menatap kejadian yang luar biasa ini. Dia panik, sangat panik, apalagi melihat ekspresi Hae Ri yang kesakitan. “apa kamu baik-baik saja, hm?” “Hei, apa yang kamu lakukan semalam, darimana mendapatkan kekuatan ini!” Teriak Hae Ri, sambil mengelus tangannya berulang kali. Melihat Hae Ri kesakitan, tentu saja Do Jun tidak terima kekasih barunya itu diperlakukan seperti itu. Namun siapa sangka, saat Do Jun mendekati Boona, Hae Ri berusaha menghalangi Do Jun agar tidak perlu mendekat, tapi suaranya tidak keluar sama sekali. “Apa yang kamu lakukan, hei!” Teriak Do Jun sambil mendorong bahu dengan Boona. Karena belum puas, Do Jun melakukan sekali lagi, mendorong tubuh Boona sekuat tenaga, berharap wanita itu jatuh tersungkur. “Arghh!” Boona tidak sengaja menahan tubuh Do Jun, saat wanita itu berusaha mendorong tubuhnya dengan kuat. Membuat Do Jun jatuh untuk kesekian kalinya. Wanita itu mengernyitkan kening, menatap Boona dengan tatapan tajam. “Aku akan melaporkanmu dengan tuduhan penyerangan!” Teriak Do Jun, saat Hae Ri membantunya berdiri secara perlahan. Telunjuk Do Jun terus-menerus mengarah ke Boona. “Ingat, kamu akan berakhir di penjara!”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD