Tidak pernah terpikirkan akan berakhir di sebuah penjara bagi Boona setelah menghajar mantan kekasih dan teman kerjanya."
Boona merutuk dalam hati, menyesal dengan apa yang telah ia lakukan kepada Hae Ri dan Do Jun beberapa jam lalu. Semua sudah berakhir, impian akan menjadi wanita karir sirna karena mantan kekasihnya benar-benar menghancurkan segalanya milik Boona.
Wanita itu duduk dengan kepala tertunduk ke bawah, dua bola mata fokus pada tangan yang saling mencengkram menahan ketakutan. Boona tidak bisa memanggil Ibu datang kesini untuk membebaskan, tentu saja Boona takut sang Ibu terkena serangan jantung setelah mengetahui putri tunggalnya melakukan tindakan kekerasan bahkan penganiayaan.
Memikirkan hal itu, kalau saja benar terjadi, Boona tidak berani melanjutkan hidup. Cekatan, dia menggelengkan kepala agar pikiran buruk segera pergi dan tak menghinggapu isi kepalanya lagi.
"Nona?" Panggil polisi yang sudah berdiri di seberang sana, sambil mengetuk permukaan meja beberapa kali. Ketukan ke sembilan membuat Boona menoleh. "Aku sudah memanggilmu beberapa kali, kenapamengabaikan seorang petugas?"
"Maaf, Pak." Boona membungkuk setelah menegakkan tubuh. Kembali lagi dia mendudukkan tubuh setelah mengucapkan permintaan maaf, kemudian pandangan lurus ke depan. "Saya terlalu banyak berpikir."
"Untuk apa berpikir?" Polisi bertanya, terukir jelas senyum mengembang di wajah, membuat Boona menaikkan sudut bibir, bingung akan menjawab. "Sekarang kami bebaskan karena kamu tidak terbukti bersalah. Temanmu sebentar lagi akan menjemputmu, tunggu sebentar."
Boona hanya mengeluarkan napas tanpa berucap sepatah kata. Pasalnya, polisi sudah pergi begitu saja setelah membuka pintu jeruji. Boona masih terdiam, mematung. Sorot matanya juga kosong.
Bagaimana bisa dia bebas dari hukuman sedangkan bukti jelas kentara, mengingat tubuh mantan kekasih dan teman kerjanya lumayan parah mengalami cidera.
Tidak perlu membuang waktu sia-sia, Boona segera berdiri dan mencari petugas yang membebaskannya tadi. Sayang, setelah mencari ke seluruh ruangan, tidak ditemukan oleh Boona.
Boona terduduk di bangku, menunggu Sun Ryu menjemput, seperti yang dikatakan polisi tadi. Boona sengaja menghubungi Sun Ryu agar bisa membantunya terbebas dari tempat ini.
Beberapa menit kemudian, Sun Ryu datang menghampiri Boona. Wajahnya tampak panik dan khawatir. Dia segera membangunkan Boona yang tertidur dalam posisi duduk.
"Hei, ayo bangun. Jangan tidur disini." Sun Ryu menepuk pipi Boona dengan lembut, suaranya juga terdengar pelan, membuat Boona semakin pulas di alam mimpi. "Hei, bangun cepat!" Mendadak Sun Ryu berubah menjadi manusia monster dengan suara lantang bahkan sifat kasarnya keluar.
Boona terbangun, terkejut melihat Sun Ryu di depan mata. Bola mata hampir mencuat keluar. Bergegas dia menyadarkan diri agar tidak dipermalukan oleh Sun Ryu.
"Pelankan suaramu, kamu ada di kantor polisi!" Bisik Boona, menempelkan bibir ke telinga Sun Ryu.
"Dasar aneh!" Sun Ryu mendorong kepala Boona dengan kasar. "Bagaimana kamu bisa di luar sel? Apa kamu dibebaskan?"
"Kenapa kamu sedih aku ada disini?" Boona masih memelaskan wajah, suaranya juga sopan. Dia sadar akan keberadaan, tidak perlu berkelahi dengan Sun Ryu di tempat umum. Apalagi di kantor polisi, bisa jadi mereka masuk ke dalam sel, atas kasus keributan. "Aku sudah bebas, teman. Ayo, kita rayakan ini." Boona memeluk Sun Ryu ke dalam dekapan. Entah, ternyata Sun Ryu membalas sikap Boona.
Boona semakin mengeratkan dekapan, tanpa melepas. Bahkan ia keluarkan seluruh tenaga hingga membuat Sun Ryun kesulitan bernapas.
"Rasakan, rasakan ini sudah mempermalukanku di tempat ini!" Tambah Boona, lalu dia melepaskan tubuh Sun Ryu, mendorongnya dengan kasar.
Sun Ryu menghela napas panjang, merapikan rambut yang tiba-tiba saja berantakan. Lalu, dia menatap tajam ke arah Boona.
"Baiklah, ayo kita pulang!" Teriak Sun Ryu, yang sulit mengendalikan diri, masih saja bersuara tinggi.
Boona mengangguk, mereka kemudian bergandengan tangan saat melangkahkan kaki menuju pintu utama.
Siapa sangka, Boona dan Sun Ryu bertemu Hae Ri dan Do Jun di lobi. Penyerangan sebentar lagi akan terjadi, mengingat kedua belah pihak tidak berhasil menahan emosi di tempat ini.
Boona tersenyum sinis, merentangkan kedua tangan, menandakan kebebaskan yang ia dapatkan baru saja. Tidak berhenti disana, Boona menjulurkan lidah, sedikit keluar, sengaja menghina Hae Ri dan Do Jun.
"Dasar jalang!" Teriak Do Jun. Terlihat langkah kaki saat menghampiri Boona kesulitan, dikarenakan cidera akibat terjatuh.
"Berhenti, ayo berhenti." Ucap Boona, mengulurkan tangan kanan, memberi tanda berhenti. "Apa kamu ingin babak belur lagi? Kalau kamu belum puas, Ayo, kita lakukan di luar sana. Tapi kita harus membuat perjanjian, tidak ada yang dilaporkan dalam kasus ini." Boona mengakhiri kalimat dengan tawa.
Untung saja Sun Ryu masih sadar, tidak berpikir di luar batas wajar.
"Apa yang kamu bicarakan? Kamu menantang dia lagi?" Bisik Sun Ryu, menatap khawatir Boona.
Do Jun sudah berhenti ketika Boona menyuruhnya berhenti. Dia masih mengingat rasa sakit akibat sentuhan tangan Boona. Sebuah sentuhan tangan yang berakibat fatal. Gadis itu menoleh ke belakang, mencari keberadaan Hae Ri.
Hae Ri yang berdiri di belakang Do Jun menganggukkan kepala, berarti dia meminta Do Jun untuk mendekati Boona.
Boona menaikkan sebelah alis, rupanya Do Jun belum juga merasa puas. "Apa yang akan kamu lakukan?" Tanya Boona, melihat Do Jun semakin mendekat.
Do Jun menyeret pergelangan tangan Boona membawanya ke ruangan tadi, dimana Boona dikurung hanya beberapa jam saja.
Boona mendengus kesal, pasrah yang bisa dilakukan. Tidak mungkin Boona meronta, padahal hanya dipegang saja. Takut juga kalau Do Jun akan terluka kedua kali, andai saja Boona melakukan perlawanan.
"Kenapa dia dibebaskan? Dia bersalah, karena mencelakai kami berdua, Pak!" Ucap Do Jun, berhadapan dengan petugas. Sedangkan Boona berdiri di belakang Do Jun yang masih menggandeng tangannya. "Lihat kami, banyak sekali perban membungkus tangan dan kaki kami, Pak!"
Hae Ri melemparkan bukti pemeriksaan yang ia dapatkan dari Rumah Sakit, sengaja akan diberikan pada petugas, guna memperberat hukuman Boona. Mereka ingin Boona mendekam di penjara dalam waktu lama.
"Bukti pemeriksaan tadi." Ucap Hae Ri. Wajahnya menahan marah, melihat petugas tidak bejus dalam menyelesaikan kasus. "Tidak mungkin hasil pemeriksaan ini palsu, lalu kenapa dia sudah bebas? Tolong, bekerja dengan baik."
"Benar, Pak. Kalau tidak bisa bekerja dengan baik, saya akan menyebarkan berita ini ke media. Dan kinerja kalian akan dinilai buruk oleh masyarakat." Tambah Do Jun, dengan lantang. Mereka mengancam petugas, menginginkan keadilan.
Kaki Do Jun patah tulang, membuatnya sulit berjalan. Sedangkan lengan Hae Ri juga mengalami patah tulang ringan, sama seperti Do Jun.
"Maaf, kalian tidak bisa mengancam kami seperti itu." Petugas mulai meninggikan suara. Terlihat dia sedang memperlihatkan rekaman kamera CCTV di depan restoran. "Lihat, Nona Boona hanya menyentuh kalian saja, bahkan terlihat jelas kalau dia tidak mengeluarkan tenaga sedikitpun. Jadi mana mungkin dia menyakiti kalian. Bisa jadi kalian hanya berpura-pura sakit saja."
Petugas menjelaskan setiap detik rekaman itu, rekaman yang berada di laptop. Mereka berempat saling fokus pada layar laptop. Boona sendiri juga bingung, apa yang terjadi pada tubuhnya. Mungkin ini cara Tuhan membalas kejahatan Hae Ri dan Do Jun.
"Tapi, ini buktinya. Kami mengalami patah tulang ringan." Hae Ri memprotes. "Apa perlu Anda ikut kami ke Rumah Sakit untuk periksa lagi? Melihat secara langsung hasil pemeriksaan itu."
"Pokoknya kami tidak terima kalau dia bebas begitu saja." Do Jun menunjuk wajah Boona. Boona langsung menangkap jari Do Jun, karena jarak mereka dekat.
Hae Ri dan Do Jun terkejut secara bersamaan. Mereka takut kalau jari Do Jun akan patah. Untung saja Boona hanya menyentuh tanpa mengeluarkan tenaga, membuat jarinya selamat.
"Anggap saja ini balasan karena sudah bermain api di belakangku." Ucap Boona, melepaskan jari Do Jun perlahan. "Aku harap, tidak ada lagi dendam di antara kita. Dan urusan kita selesai sampai disini."
"Aku tetap tidak terima begitu saja." Protes Do Jun. Nada bicara semakin tinggi.
"Cukup, seharusnya kalian terima saja. Mungkin Tuhan masih melindungiku, bahkan dia juga berhasil memisahkan aku dengan pria b******k sepertimu." Boona semula menatap Do Jun, beralih ke arah Hae Ri pada kata-kata terakhir.
Penuturan Boona membuat Hae Ri menghembuskan napas dengan jengah. Tangannya mengusap kepala bagian depan sambil membuang wajah.
"Ingat, urusan kita belum selesai." Ujar Hae Ri, masih menahan emosi agar tidak mengeluarkan nada kasar.
"Urusan kita sudah selesai, seperti yang kukatakan tadi." Sahut Boona begitu yakin.
Do Ju menggeleng, masih tidak terima atas kebebasan Boona.
"Hentikan, ayo kita pergi dan abaikan orang-orang gila ini." Sun Ryu meraih pergelangan tangan Boona, membawanya pergi dari mereka.
"Berhenti." Teriak Do Jun, mulai menggila, terlihat nada bicara sudah meninggi.
Sun Ryu menoleh ke belakang, sambil memasang wajah menghina, diarahkan pada Do Jun dan Hae Ri. Sedangkan Boona terlalu fokus pada langkahnya, mengikuti Sun Ryu membawanya pergi entah kemana.