"Kamu tunggu disini dulu." Sun Ryu melepas tangan Boo Na ketika berhenti di sebuah bangku kosong, mendudukkan secara lembut. Beberapa kali dia menepuk bahu Boona sebelum pergi meninggalkannya sendiri.
"Mau kemana kamu?" Boona bingung melihat sahabatnya pergi begitu saja. Kepala Boona menoleh ke segala arah, tampak ruangan dia berada terlihat sepi dan menakutkan. Tega sekali Sun Ryu pergi tanpa Boona disampingnya. Bagaimana kalau Hae Ri dan Do Jun menemukannya disini, mungkin Boona sudah menjadi butiran debu karena dikalahkan mereka.
***
Tae Eul tampak bingung setengah mati berada di dunia baru, milik manusia. Dia seperti mengingat akan kehidupan sebagai manusia, seakan pernah menginjakkan kaki di muka bumi dengan dikelilingi banyak orang tersayang. Rupanya, Tae Eul tidak mengingat hal itu, berarti dia tidak pernah menjadi manusia, mungkin.
Malaikat berjubah hitam terus melangkah, kembali ke tempat awal saat berada di dunia ini. Dia begitu kecewa setelah menelusuri semua tempat, tidak ditemukan gelang miliknya.
Perut Tae Eul mulai lapar, uang tidak ada sepeserpun di saku celana atau saku baju. Terpaksa Tae Eul pergi ke kuil mencari makanan yang tersisa.
Perjalanan masuk ke pintu utama kuil, Tae Eul tidak sengaja menabrak seseorang hingga terpental. Tenaga yang dimiliki terkuras habis setelah mencari keberadaan gelang yang hasilnya nihil. Karena itu, Tae Eul membuat orang lain celaka.
"Dimana matamu? Apa kamu bisa jalan dengan benar?" Pria yang ditabrak Tae Eul beranjak berdiri, membersihkan pakaian yang dikenakkan dari kotoran tanah yang menempel. Setelah itu, dia mendekati Tae Eul yang masih dalam kondisi bingung. "Kenapa diam saja? Apa kamu merasa tidak bersalah? Kamu tidak mau meminta maaf padaku?"
Tae Eul diam bergeming. Sorot matanya tajam, menatap pria itu tanpa berkedip.
"Dari pakaianmu seperti orang kaya? Jadi, orang kaya sepertimu tidak tahu sopan santun?" Tambahnya, masih saja mengeluarkan kalimat mencerca.
"Dasar gila! Apa kamu gila? Kenapa diam saja?" Ini kalimat terakhir yang terlontar sebelum Tae Eul mendorong tubuh pria itu.
"Bisa diam tidak? Kepalaku hampir pecah mendengar suaramu, terlalu menganggu fokusku, mengerti?" Tae Eul menutup Kedua telinga, masih melempar tatapan tajam.
Dorongan Tae Eul membuat pria di depannya jatuh untuk kedua kali. Kali ini membuat pria itu terbentur dinding pintu masuk kuil. Tentu saja mendapatkan perlakuan tidak menyenangkan dari Tae Eul, pria itu langsung mengumpat.
Amarah sudah di pucuk kepala. Tidak ada lagi batas kesabaran karena sudah disakiti lebih dari sekali. Tidak ada kata maaf juga dari Tae Eul. Sejurus kemudian, pria yang berhasil bangkit sendiri tanpa bantuan Tae Eul ataupun orang lain yang hanya menjadi penonton, mendekati Tae Eul.
Sebelah tangan mencengkram erat kerah baju Tae Eul, membuat tubuh malaikat penjaga neraka sedikit maju, hampir menempel pada tubuh pria itu. Adu napas tidak bisa terhindar lagi, tukar pandangan tajam juga ikut menambah suasana mencekam antara manusia dan malaikat.
"Apa yang sedang kamu lakukan?" Tanya Tae Eul, menaikkan sebelah alis. Sudut bibir juga menghiasi wajahnya, membuat raut wajah terlihat menghina. "Apa perlu aku mengirim rohmu ke neraka?" Tae Eul meninggikan suara, kedua tangan berusaha meloloskan diri dari cengkraman pria di hadapannya.
"Kamu pikir siapa? Kamu ingin membunuhku?" Pria itu sekuat tenaga menahan cengkraman, menggagalkan niat Tae Eul melepaskan diri.
"Aku malaikat, aku bisa mengirimkanmu langsung ke neraka."
Sontak, semua orang termasuk pria itu tertawa mengejek, bahkan ada yang melempari Tae Eul botol air mineral, mengenai wajah. Malaikat hanya diam terpaku, merasa bersalah sudah mengungkapkan jati dirinya.
Lagipula, tidak akan ada orang yang mempercayai. Mempercayainya sebagai malaikat.
Tae Eul mendengus kesal. Sayang, dengusan kesal itu menjadi terakhir kali Tae Eul membuka mata di kuil, sebelum pria itu menyodorkan kepalan tangan ke wajah Tae Eul, membuatnya tak sadarkan diri.
***
Tae Eul tak sadarkan diri. Dia terlentang di dalam sel jeruji bersama pria tadi. Siapa sangka, pria tadi berniat menjebloskan Tae Eul ke penjara. Namun, tidak berhasil karena dia juga melakukan kekerasan pada Tae Eul.
"Kenapa aku ada disini?" Tanya Tae Eul, mengusap kelopak mata berulang kali, sambil menatap pria tadi. Dia sedang berdiri membelakangi Tae Eul, tidak menoleh sama sekali mendengar Tae Eul mengajaknya bicara.
Sialan, Tae Eul mengumpat berulang kali seraya menegakkan tubuh. Kemudian, dia mendekatkan diri pada pria itu. Mereka sudah berdiri sejajar, menghadap pEtugas polisi yang mengabaikan mereka.
"Aku ingat, kamu memukul wajahku, kan?" Tae Eul melirik sekilas, kedua tangan memegangi jeruji. Fokusnya kembali lurus ke depan. "Apa kamu gila? Kenapa diam saja?"
"Aku lelah menghadapimu. Sial sekali harus bertemu denganmu di kuil hari ini. Padahal aku ingin bertaubat tapi malah mendapatkan cobaan bertemu denganmu." Ucapnya, tanpa menoleh ke arah Tae Eul. Terdengar hembusan napas panjang keluar dari mulut pria itu.
Tae Eul menundukkan kepala, menempelkan ke jeruji. "Jadi, kita berdamai saja?" Tanya Tae Eul.
"Tentu." Sahutnya singkat. "Anggap saja kita tidak pernah bertemu hari ini."
Tae Eul mengangguk setuju, bibirnya tertutup rapat, sesekali tersenyum tipis. Tak lama kemudian, dia mengulurkan tangan dan segera dibalas ulurannya tersebut.
***
Tae Eul berhasil bebas, dan berjalan keluar gedung. Kepalanya tertunduk ke bawah, karena merasa pusing akibat pukulan pria tadi. Siapa sangka dia melihat seorang wanita mengenakan gelang mirip seperti miliknya.
"Itu gelangku!" Seru Tae Eul, menarik paksa tangan Boona yang berjalan berlawanan arah dengan Tae Eul. "Lihat ukiran gelang ini, jelas sekali ini milikku."
Tae Eul masih meneliti gelang yang melingkari pergelangan tangan Boona. "Cepat lepaskan!"
"Maaf, ini milikku." Jawab Boona terbata-bata. Dia terkejut bukan karena disentuh pria asing. Namun, karena ada orang yang mengakui gelang itu miliknya. Boona segera mengendalikan diri agar tidak panik. "Apa yang kamu lakukan? Menyentuhku tanpa izin?"
"Aku menyentuh gelangku, mengerti?" Tae Eul mengelak. "Lepaskan gelang itu."
Boona mengerutkan kening. Menangkis tangan Tae Eul agar tidak menyentuh tangannya. "Tolong lepaskan tanganmu." Tae Eul ternyata mengeratkan tangan, mempertahankannya agar tidak terlepas mencengkram gelang miliknya. "Apa perlu aku berteriak, memanggil polisi?" Tambah Boona.
"Aku bisa melaporkanmu karena sudah mencuri gelangku." Protes Tae Eul.
"Mana bukti kalau gelang ini milikmu? Cepat beritahu aku sekarang juga." Boona memberanikan diri berkata seperti itu, sebenarnya dia takut kalau pria itu berhasil membuktikan. Boona takut kehilangan benda cantik yang ternyata edisi terbatas.
Boona mulai bernapas normal karena sudah beberapa menit Tae Eul diam mematung, tak berkata apapun. Bahkan mengeluarkan bukti kalau ini gelang miliknya.
"Tapi,"
"Tapi apa?" Boona memotong kalimat, sengaja. Dia mulai yakin kalau pria itu juga berbohong, hanya mengaku saja. "Tolong tinggalkan aku sendirian. Ini milikku." Boona menunjuk gelang milik Tae Eul penuh percaya diri. Lalu, dia pergi begitu saja meninggalkan Tae Eul.
Tae Eul mengerjapkan kelopak mata. Benda yang ia cari untuk menangkap roh jahat sudah ditemukan, tapi sayang. Gelang itu sudah melingkar di tubuh manusia. Tae Eul tidak akan menyerah begitu saja, dia segera mengejar Boona.