“Den, mau disiapin makan malamnya?” tanya Bi Imah pada Bimo dari balik pintu kamar yang dulu ditempati Wulan. Tak ada jawaban. Sudah tiga hari Bimo kembali dari Bandung. Dia sama sekali tidak keluar dari kamarnya. Kali ini tidak seperti biasanya. Berulang kali dia kehilangan Wulan, bahkan pernah lama sekali dia kehilangan jejak Wulan, tapi tidak pernah sampai menjatuhkan dirinya hingga titik terendah. Kali ini berbeda, Wulan pergi tidak sendiri. Dia membawa pergi anaknya, anak Bimo. “Masih belum keluar juga, Bi?” tanya Arya. Bi Imah menggeleng. “Memangnya Mbak Wulan kemana sih, Mas? Apa nggak kasihan sama Den Bimo?” “Saya juga belum dapat kabar Wulan dimana, Bi. Nanti kalau sudah ada kabar, biar saya kasih tahu Bimo.” Bi Imah mengangguk. “Ya udah, Bi saya pulang dulu ya,” pamit

