“Gue pikir persahabatan kita nggak akan pernah berakhir, Ar,” ujar Bimo seraya tangannya menari di atas dokumen kontrak. “Gue ke sini mau minta Wulan baik-baik sama lo.” “Jangan mimpi. Gue rasa lo udah tahu siapa yang dipilih Wulan, jadi seharusnya lo bisa mundur.” “Lo itu nggak pantes buat Wulan. Lo hanya bisa menyakitinya. Lihat perbuatan lo selama ini ke dia, lo hancurin hidupnya.” “Karena itu, mulai sekarang gue akan perbaiki itu semua.” “Lo lupa? Lo udah bener-bener nutup jalan masa depan dia untuk meraih impiannya?” Bimo mengangkat pandangannya dari berkas, lalu menatap tajam ke Arya. “Untuk saat ini, iya. Gue nggak akan biarin dia kelelahan ataupun stress mikirin anak kami ataupun kerjaan. Setelah dia melahirkan, gue akan support apapun keinginan dia. Termasuk jika dia ingi

