Menghindari Malam Pertama

1124 Words
Setelah semua rangkaian acara selesai, Bella pulang ke mansion Ian. Ini tentu kali pertama Bella datang dan tidak sangka, dia akan menghabiskan harinya di mansion ini. Saat kedatangan mereka, para pengawal juga para pelayan datang menyambut dan membawakan barang-barang mereka. Bella jadi merasa seolah dia adalah seorang putri yang diboyong oleh seorang pangeran ke kerajaannya. Ian memeluk Bella dan mengajak Bella pergi ke kamar mereka. Saat tiba di kamar, Bella terpukau dengan arsitektur yang luar biasa. Semuanya tampak indah, ini benar-benar sebuah kerajaan. “Kamu mau makan? Biar aku suruh pelayan untuk menyajikan makanan.” “Tidak usah.” Bella masih kenyang. Saat ini yang Bella butuhkan adalah istirahat dengan tenang. Bella duduk di atas ranjang, dia terpaku melihat ke arah luar kamar. “Kak, bolehkah aku lihat ke balkon?” “Tentu saja boleh.” Dengan senyum senang, Bella bangkit dan pergi ke balkon. Ian tersenyum, meski setelahnya, wajah Ian langsung datar. Bella membuka mulutnya tidak percaya, dia menatap pemandangan di depannya dengan mata berbinar, jangan lupakan angin yang menyapanya. Juga, pemandangan alam yang sebentar lagi akan berganti menjadi malam. Bella menyandarkan kedua tangannya di pembatasan balkon. Bella menarik napas dan membuangnya secara perlahan, Bella senang bisa merasakan perasaan lega dan nyaman. Bella sendiri tidak ingat, kapan dia merasa sebebas sekarang. Ketika kecelakaan itu merenggut nyawa ayahnya dan mengakibatkan ibunya koma, dari hari itu, Bella merasa ada beban berat yang dia tanggung. Terlebih sikap keterlaluan Anastasya dan Rebecca kepadanya. Ketika Bella tengah meratapi nasib, seseorang memeluk Bella dari belakang. Tanpa Bella lihat, Bella jelas tahu jika itu Ian. “Kamu mikirin apa?” “Enggak ada, aku cuman senang bisa melihat pemandangan bagus seperti ini.” “Kamu bisa melihatnya setiap hari.” “Ya, aku akan melihatnya setiap hari. Semoga saja, hidupku sama indahnya dengan pemandangan ciptaan Tuhan ini.” Ian tertawa kecil, mendengar Ian malah tertawa, Bella menatap Ian dengan wajah bertanya-tanya. Apa ada yang lucu dari ucapannya. “Malam akan segera datang, kita masuk sekarang. Mau membersihkan diri atau makan malam terlebih dahulu?” “Aku enggak laper tahu.” “Tapi kamu harus isi tenaga untuk malam ini.” “Emangnya ada apa?” “Ritual malam pertama kita Sayang.” Bella menutup mulutnya, kenapa juga Bella malah bertanya. “Jadi, mau makan apa membersihkan diri?” “Aku mau membersihkan diri dulu.” “Enggak mau barengan aja?” “Enggaklah.” Dengan secepat kilat, Bella melepaskan pelukan Ian dan berlari ke dalam kamar. Ian menatap kepergian Bella, lidahnya bermain-main di dalam mulut. *** Setelah beberapa lama, Bella telah selesai membersihkan diri juga berpakaian. Bella keluar dari dalam kamar mandi. Saat keluar, Bella disambut dengan tatapan intens Ian. Meski Ian tampak bingung dengan Bella, kenapa Bella malah pakai piyama dan tidak memakai lingerie yang sudah dia siapkan. Bella batuk pelan dan berkata, “Aku akan siapkan pakaian Kakak. Kakak sebaiknya pergi membersihkan diri.” Bella berlalu dan berjalan membuka lemari Ian. Ian tersenyum, dia lantas pergi ke kamar mandi. Melihat Ian sudah pergi, Bella bernafas lega lalu menyimpan pakaian Ian yang telah dia pilih di atas ranjang. Tapi sebentar, apa yang harus dia lakukan sekarang. Pergi ke balkon, duduk di sofa atau apa. Akan tetapi, karena Bella merasa lelah, Bella lantas menuju ranjang dan membaringkan tubuhnya. Bisa-bisa Bella langsung terlelap jika ranjangnya senyaman ini. Dan tanpa Bella rencanakan, Bella tertidur begitu saja. Dan tidak lama dari itu, Ian keluar dari dalam kamar mandi dengan memakai handuk dibagian bawah saja. Melihat Bella sudah tidur, Ian membuang napasnya berat. Bukannya menunggu dia, Bella malah langsung tidur, begitu saja. Berhubung Ian memang sudah tidak tahan, Ian lantas mendekati Bella. Ian tidak peduli, yang jelas Bella harus bangun dan melakukan ritual malam pertama sebagai sepasang pengantin baru. Ian membuka selimut yang menyelimuti tubuh Bella. Meski Bella memakai piyama, tapi lekukan tubuh Bella jelas membuat Ian menjilat bibirnya. Dengan perlahan, Ian naik. Dia mencium kening, kedua mata, hidung, kedua pipi, dagu dan berakhir di bibir. Bella awalnya tidak terganggu, tapi karena merasakan ada sesuatu yang basah menyentuh tubuhnya. Bella dengan perlahan membuka mata. Begitu terbuka, Bella dikejutkan dengan Ian yang sudah ada di atas tubuhnya. “I-ian?” “Akhirnya kamu bangun juga.” “Emm ... itu ... kamu ngapain?” “Ngapain apanya?” Bella memalingkan wajahnya, tapi saat menyadari penampilan Ian, Bella menutup matanya. "Ya ampun, apa-apaan Ian, dia bertelanjang d**a bahkan hampir telanjang bulat. Untung saja yang bawah masih tertutup," batin Bella. Sekali saja Ian gerak, handuk itu pasti akan jatuh. “Emm ... Ian. Maksudku, Kak. Aku ... emm ... itu aku-” “Apa Sayang?” Suara bariton Ian membuat tubuh Bella merinding. Saking gugupnya, sampai-sampai perut Bella berbunyi, tetapi dengan itu, Bella mendapatkan ide untuk menghindar. “Aku lapar.” “Nanti saja, kita selesaikan dulu.” “Kak, aku mohon. Aku benar-benar lapar.” “Tidak, ini hanya akal-akalan kamu buat menghindar bukan?” “Tidak, aku memang benar-benar lapar. Sangat lapar.” Ian tampak kesal, dia belum apa-apa tapi ada saja kelakuan Bella. Ian lantas bangkit dan Bella langsung menutup mata. Ian mengenakan pakaiannya dan kembali mendekati Bella. “Ayo, katanya kamu lapar.” “Iya, tapi Kakak udah pakai pakaiannya, kan?” “Sudah.” Bella lantas membuka mata dan bangkit dari ranjang. Bella tersenyum manis, tetapi Ian hanya tersenyum kecil. Dalam hati Bella ingin tertawa, dia tentu tahu Ian tampak kesal karena keinginannya belum juga bisa terlaksana. Ian menggenggam tangan Bella dan mengajak Bella ke lantai bawah. Ian menyuruh para pelayan untuk segera menyajikan makanan yang telah chef khusus buatkan untuk mereka. Bella sampai geleng-geleng kepala, jadi Ian mempekerjakan seorang chef khusus untuknya. Bella dijamu benar-benar seperti seorang putri, segalanya telah tersedia dan dia hanya perlu memberikan perintah. Namun, Bella tentunya tidak akan seperti itu, selagi dia bisa, untuk apa menyuruh orang lain. Melihat makanan yang disediakan, Bella kalap dan mencicipi semua makanan yang ada. Ian memperhatikan Bella dalam diam, apa seenak itu sampai-sampai Bella makan tidak beraturan. Namun, Ian suka dengan Bella yang tidak jaim jika tengah makan bersamanya. “Makanlah yang banyak.” Bella yang tengah mengunyah menatap ke arah Ian lalu berkata, “Aku akan memakan semuanya.” Ian tersenyum, dia mendekati Bella lalu berbisik, “Biar kamu semakin bertenaga saat kita main.” Mendengar itu, Bella tersedak sampai batuk-batuk. Ian menyodorkan air minum. “Pelan-pelan makannya Sayang.” “Kamu sih, kenapa pake bilang gitu? Jadinya kan aku tersedak!” “Loh, aku kan bicara sesuai kenyataan.” “Ya tapi enggak usah ngomong gitu, apalagi aku lagi makan. Udah ah, aku mau makan dulu.” Bella melanjutkan acara makannya, sedangkan Ian, dia lebih banyak memperhatikan Bella. Memang tidak salah Ian memilih Bella dari pada wanita di luar sana yang hanya memandang dia dari fisik dan kekayaan.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD