Bella terpaku melihat penampilannya di depan cermin, Bella tengah dibantu bersiap oleh penata rias juga yang lainnya. Bella masih tidak menyangka jika dirinya akan menikah, secepat ini.
Pagi-pagi sekali, beberapa orang pengawal datang dan mengantarkan Bella menuju tempat acara. Niatnya Bella ingin mengulur waktu, siapa tahu pernikahan ini bisa batal. Namun nyatanya, Ian tahu apa yang dia rencanakan.
“Selesai. Nona Bella cantik sekali, sungguh beruntung Nona bisa menikah dengan pria kaya, tampan dan baik seperti Tuan Ian.”
Bella tersenyum, mereka memujinya bahkan Ian. Tanpa mereka tau apa yang sebenarnya terjadi.
“Terimakasih.”
“Sama-sama Nona.”
Selesai membantu Bella bersiap, para penata keluar dari ruangan, karena sebentar lagi acara akan di mulai. Bella duduk termenung menatap dirinya sendiri, haruskah Bella melarikan diri saja. Bella takut, apa yang dia takutkan soal Ian akan terjadi.
Pintu terbuka, Bella yang tengah melamun lantas tersadar, dia takut jika itu Ian. Namun, saat melihat siapa yang datang, Bella bernafas lega, untung itu Jesse bukan Ian.
“Kenapa Kak? Gugup ya? Wajar kok.”
“Ya, sedikit.”
“Kak, Jesse berdoa, semoga Kakak bahagia selalu. Terimakasih dan maaf, Jesse belum bisa membalas kebaikan Kakak.”
“Hey, kenapa bicara seperti itu? Kakak nangis nih!”
“Jangan dong, tar orang-orang salah paham lagi. Mereka bisa mengira jika aku meminta Kakak untuk tidak menikah saja.”
Bella tertawa, ada-ada saja Jesse. Memang sedari awal, Jesse tampak tidak setuju dan tidak mau dia berkorban. Jesse juga mengatakan, Anastasya dan Rebecca, mereka tidak akan menyapa Bella, mereka terlalu sibuk mencari pria kaya yang lengah yang bisa mereka jadikan korban. Bella tentunya tidak masalah, bahkan Bella memang mengharapkan seperti ini, tante dan sepupunya itu tidak datang dan tidak membuat moodnya semakin berantakan.
Jesse menggenggam tangan Bella. “Kak, Kakak yakin mau menikah dengan Abang Ian?”
Bella diam dan Bella hanya mampu tersenyum sambil menganggukkan kepalanya.
“Kalau begitu, Jesse merasa lega dan Jesse juga yakin, Abang Ian pria baik yang bisa membuat Kakak bahagia.”
Ya, Bella juga berharap demikian. Meski, perasaannya lebih merasa takut, takut jika itu berbanding terbalik dengan harapan dirinya.
“Bahagia selalu Kak.”
“Terimakasih Jesse.”
Jesse memeluk Bella, Bella balas memeluk adiknya.
“Bella.”
Ian tiba-tiba saja datang. Bella dan Jesse lantas melepaskan pelukan mereka, lalu mereka menatap ke arah Ian. Ian terpaku melihat penampilan Bella, begitupun dengan Bella yang terpaku melihat penampilan Ian. Memang benar, mempelai wanita maupun pria yang akan menikah, mereka jadi lebih-lebih cantik dan tampan dari hari biasanya.
Jesse tersenyum sambil melihat Bella dan Ian bergantian. Jesse batuk pelan. “Kalau begitu, Jesse pergi ya.” Jesse buru-buru pergi agar tidak mengganggu Bella dan Ian.
“Acara akan segera di mulai, ayo pergi.”
Ian menghampiri Bella. Bella mengedipkan matanya, lalu menganggukkan kepalanya.
Ian tersenyum melihat Bella, cantik sekali calon istrinya ini, dia memeluk Bella dan akan mencium bibir Bella. Namun, Bella sudah lebih dulu menutup bibir Ian dengan jari tangannya.
“Mau ngapain?”
Ian menggenggam tangan Bella yang ada dibibirnya dan berkata, “Pemanasan dulu boleh kali.”
“Enggak, jangan cari kesempatan. Bukankah acaranya akan segera dimulai?”
“Udah enggak sabar ya pengen nikah sama aku?”
“Enggak tuh.”
“Masa? Padahal aku udah enggak sabar banget loh!”
Bella menatap Ian dengan mata menyipit, Bella tentu sudah tahu akal-akalan Ian. Tidak mau ditatap terus oleh Ian, Bella lantas mengajak Ian untuk segera pergi. Ian yang memang sudah tidak sabar, lantas pergi bersama Bella, dia akan menahannya sekarang dan menyerang Bella setelah mereka sah.
***
Ian dan Bella bersiap di belakang pintu, mereka berdua tampak biasa saja, tidak ada yang merasa gugup. Ian menempatkan tangan Bella agar memeluk lengannya.
“Kalau gugup, lihat aku saja.”
“Aku enggak gugup.” Bagaimana bisa Bella gugup, jika dirinya saja merasa ini tidak begitu spesial dan penting.
Setelah mereka siap, pintu dibuka, semua mata tertuju kepada mereka berdua. Ian mengambil langkah pertama dan Bella mengikuti langkah Ian. Mereka melewati semua para undangan yang datang dan tentu saja, undangan pernikahan ini akan lebih banyak dihadiri oleh pihak dari Ian.
Mereka terus berjalan, sampai berdiri di depan semua orang dan mengucapkan janji suci. Dan setelah janji suci itu terucap, Ian mencium bibir Bella, Bella yang terkejut membulatkan matanya. Akan tetapi, karena ini adalah hari pernikahan, juga ciuman pertama dari suaminya. Bella lantas menutup mata dan membalas ciuman Ian.
Ian yang tengah fokus dengan kegiatannya, tampak terkejut, tapi dia tentu senang. Akhirnya, Bella membalas ciuman dia. Meski dalam hati, Bella memaki Ian, Ian sudah lebih dulu mengambil ciuman pertamanya.
Ian melepaskan ciuman mereka dan beralih memeluk Bella. “Akhirnya kamu menjadi istriku.” Bella tidak membalas, dia hanya tersenyum, meski senyum itu tampak terpaksa.
Jesse, Rebecca dan Anastasya datang dan memberikan selamat. Meski, Anastasya dan Rebecca tentu akan mencari masalah, mereka berbisik di telinga Bella dengan kata-kata yang sangat tidak menyenangkan. Bella tersenyum, begitulah mereka dan mereka mencari muka di depan Ian. Jesse masih ingin bersama kakaknya, tapi karena harus bergantian dengan tamu lain, Jesse lantas pergi. Bella tentu berkata, mereka bisa bertemu lagi setelah ini.
Para tamu undangan memberikan selamat, Bella hanya balas tersenyum karena Bella sama sekali tidak mengenali mereka semua.
“Yo bro! Gue masih enggak percaya, lo akhirnya milih buat nikah juga.” Ian berpelukan dengan seorang pria, yang tentunya tidak kalah tampan dari Ian.
“Kalian datang, gue kira enggak.”
“Bagaimana mungkin kami tidak datang. Asal kamu tahu Ian, aku dan Julian datang dari Jogja dengan tergesa-gesa. Makanya, kalau nikah, jangan mendadak gini dong.”
Bella menatap seorang pria dan wanita di depannya dengan tatapan bingung, tetapi di antara semua tamu, mereka yang tampak tidak sungkan dengan Ian.
“Sayang. Perkenalkan, ini Julian sahabatku dan ini Irene, istrinya.” Bella lantas berkenalan dengan Vante dan Irene.
Irene memeluk Bella, lalu Irene berkata, “Cantik banget istri kamu. Curiga, jangan-jangan kamu guna-guna Bella ya? biar dia mau sama kamu!”
“Enak aja!” Ian tentu menentang tudingan Irene.
“Terus kenapa kamu mau sama Ian?” tanya Irene kepada Bella.
“Emm ... mungkin takdir.”
Irene tertawa sambil melepaskan pelukannya, begitupun dengan Vante yang ikut tertawa, Bella tampak tertekan. Ian memeluk pinggang Bella, Bella lantas menatap ke arah Ian.
“Sirik aja lo berdua.”
“Enggak ada yang sirik sama lo Ian. By the way, selamat ya.”
“Bella, lain kali kita hangout bareng yuk.”
“Boleh Kak.” Bella tampak senang, Irene dan Julian begitu baik padanya.
“Sama satu lagi, kalau Ian macem-macem. Tenang, kita bakal bantu kamu.”
“Heh, sembarangan! Mau gue macem-macem juga itu hak gue lah, dia kan istri gue!”
Irene dan Julian menganggukkan kepalanya, ya memang benar, tapi mereka hanya ingin mengerjai Ian saja. Acara resepsi pernikahan hari ini berjalan dengan baik dan lancar.