Ian m***m

1168 Words
Lama berbincang dengan adiknya, Bella berkata kepada Jesse untuk menjaga Tiffany di sini, Bella akan pergi dulu sebentar untuk mengambil kebutuhan ibunya. Jesse menganggukkan kepalanya, Bella lantas pergi dari ruangan ibunya. Bella berjalan menyusuri koridor rumah sakit, lalu menekan tombol lift. Lift terbuka, tetapi sebelum Bella akan masuk, Bella menatap kehadiran Ian dengan ekspresi terkejut. Ian keluar dari lift sambil tersenyum, dia mendekat dan memegang pinggang Bella dengan tangan kiri, sedangkan tangan kanannya memegang leher Bella. Dan, tanpa aba-aba, Ian mencium bibir Bella. Bella yang tengah terkejut makin terkejut lagi. Ian datang-datang dan langsung menyerangnya begitu saja. Sadar jika ini tempat umum, Bella memukul lengan Ian agar berhenti. Karena Ian tidak kunjung berhenti juga, Bella berontidak dan memundurkan tubuhnya. Alhasil, Bella dapat terlepas dari ciuman Ian, tapi Ian mengeratkan pelukannya. Bella menatap kesana-kemari, ada beberapa orang di sini. Ian memegang pipi kanan Bella dan memfokuskan pandangan Bella kearahnya. “Jangan lihat yang lain!” “Kamu ngapain sih?” “Tentu saja menemui kamu.” Bella menepis tangan Ian di pipinya. “Malu ih.” “Untuk apa malu?” Ian kini memeluk pinggang Bella dengan kedua tangannya, dan semakin mengeratkan pelukannya, hal itu tentu membuat tubuh keduanya makin tidak ada jarak. Bella menatap Ian kesal, dia sungguh risih dengan kelakuan Ian. Dikit-dikit pasti Ian akan berprilaku seenaknya. “Sedang apa kamu di sini? Dan kenapa kamu tidak meminta izin terlebih dahulu?” “Aku menemui ibu. Memangnya harus aku meminta izin terlebih dahulu?” “Tentu saja, kamu harus meminta izin kepadaku terlebih dahulu.” Bella menundukkan kepalanya, belum menikah saja, Ian sudah seperti ini. Bagaimana jika setelah menikah, Ian pasti makin mengekang bahkan lebih, Bella jadi takut. “Lihat aku Sayang.” Mau tidak mau, Bella mengangkat pandangannya. Saat bertatapan dengan mata gelap Ian, Bella makin merasa ragu. Dia benar-benar tidak ingin pernikahan itu terjadi. Melihat Bella yang tampak sendu, Ian mengecup bibir Bella. “Kenapa?” “Aku tidak mau menikah.” Jawaban Bella tentu saja membuat Ian kesal. Ian memainkan lidahnya di dalam mulut, jika bukan tempat umum, Ian ingin menyeret Bella. Sejujurnya Ian berani meskipun di depan umum, yang membuat Ian menahan diri, itu karena bisa saja Bella makin bersikeras tidak mau menikah dengannya. “Sudah aku katakan berapa kali. Jangan menolakku dan ikuti saja keinginanku! Kita akan menikah, bahkan besok itu pernikahan kita.” “Tapi, aku tidak mau.” “Kamu tinggal memilih.” Bella tampak sedih, sungguh, Bella tidak mau menikah dengan Ian. Ada satu ide yang terbersit dalam benak Bella, tapi itu sangatlah gila, benar-benar gila. Namun, jika itu bisa membuat Bella lepas dari Ian, Bella rela melakukannya. “Bagaimana jika. Aku rela memberikan sesuatu kepadamu. Tapi setelahnya, kamu harus melepaskan aku!” “Memberikan sesuatu?” “Ya, aku rela memberikan mahkotaku. Tapi setelahnya, kamu harus melepaskan aku.” Ian tampak terkejut, dia sungguh tidak menyangka jika Bella akan berkata demikian. Apa dirinya terlihat begitu gila, sampai dia hanya ingin mahkota Bella saja. Meski, ya, itu memang benar adanya. Sedangkan Bella, begitu berkata demikian, Bella tampak mengutuk dirinya sendiri. Dia merasa putus asa, sampai berpikiran untuk memberikan hal berharga itu agar bisa lepas dari jeratan Ian. Ian mendekati Bella, lalu berbisik, “Untuk apa aku melakukan itu? Setelah kita menikah, aku bisa melakukannya, bahkan berkali-kali sesuai keinginanku!” Bella bergidik ngeri, inilah yang membuat Bella tidak mau. Setelah menikah, Ian akan berbesar kepala. Sedangkan jika melakukan idenya itu, dia akan bebas, meski Bella tetap akan rugi juga. Sebenarnya tidak ada pilihan yang baik, semua sama saja dan tetap akan merugikan Bella. Bella tampak melamun, Ian tersenyum miring, lalu mengecup bibir Bella guna menyadarkan Bella dari lamunannya. Begitu sadar, Bella berusaha ingin menjauh, tapi Ian menahannya. “Lepas, aku mau pergi dulu.” “Ke mana?” “Mengambil keperluan ibu.” “Biar aku antar.” “Enggak usah, kamu mending pergi aja.” Yang namanya Ian, dia tentunya tidak akan mendengarkan Bella, dia akan melakukan sesuai keinginannya. Dan Bella, pastinya akan menerima dan membiarkan Ian. Meski, Bella tampak ingin menyingkirkan tangan Ian yang senantiasa memeluk tubuhnya dengan erat. Bella hanya kesal saja, dan tidak mau menjadi tontonan orang-orang. Bella pergi diantar Ian, lalu kembali ke ruangan ibunya. Bella memperkenalkan Ian kepada Jesse, Jesse menyapa calon kakak iparnya dan mereka mengobrol bersama. Ketika mengobrol bersama, Jesse merasa Ian pria baik, jadi dia bisa tenang sekarang. Namun, melihat raut wajah kakaknya yang tampak murung, Jesse tahu akan sangat sulit untuk kakaknya dan itu wajar, mereka baru kenal dan tiba-tiba akan menikah. Dengan iseng, Jesse bertanya mengapa Ian mau menikahi kakaknya dan Ian berkata bila dia menyukai Bella. Dia tidak punya waktu untuk sekedar memiliki hubungan yang tidak pasti. Jesse tersenyum senang, penilaiannya pasti tidak salah. Berhubung malam sudah tiba, Ian menawarkan untuk makan malam bersama. Ian memesan makanan pesan antar dan mereka makan bersama di dalam ruangan Tiffany. *** Selesai makan, Bella menyuruh Jesse untuk pulang. Bella tau Jesse pasti lelah, dan hari ini Bella ingin bersama ibunya. Jesse yang memang lelah lantas menurut, Jesse akan pulang lebih dulu. Jesse berpamitan kepada Bella dan Ian. Begitu Jesse pergi, Ian menatap Bella. “Sayang, kemarilah!” Bella lantas mendekat, Ian mendudukkan Bella di atas pangkuannya. “Ayo aku antar pulang.” “Malam ini aku mau di sini. Enggak apa-apa, kan? Aku mohon,“ ucap Bella memohon. “Oke, aku temani kamu di sini.” “Jangan, aku hanya ingin berdua dengan ibu.” Ian membuang napasnya, dia akan membiarkannya untuk kali ini saja. “Oke. Tapi ingat! Besok itu pernikahan kita, kamu enggak boleh terlalu lelah.” “Iya.” Ian mendekatkan wajahnya, Bella ingin mundur, tetapi Ian menahan lehernya. Ian menggesekkan hidungnya dengan hidung Bella. “Bersiaplah untuk besok, jangan pernah berpikir untuk lari apalagi membatalkan acara pernikahan kita! Kamu ngerti, Sayang?” “Iya.” “Iya apa?” “Iya aku ngerti.” “Bagus.” Ian mengecup bibir Bella, Bella hanya diam. Melihat itu, Ian lantas menciumi bibir Bella. Bella sama sekali tidak pernah membalas, dia hanya akan diam, sampai Ian yang menghentikan aktivitasnya. Ian yang memang tengah dilanda asmara, terus menerus menciumi Bella, meski dia kesal karena Bella tidak membalas ciumannya. Tidak apa, dia cukup mengerti posisi Bella. Namun, setelah mereka menikah, tentu saja akan berbeda. Tangan Ian yang semula memeluk pinggang Bella, kini beralih memegang paha Bella, bahkan Ian berani memegang sampai ke atas. Bella yang memang tidak suka jika Ian sudah seperti ini lantas berontak, dia tidak mau Ian semakin jauh. Ian lantas melepaskan ciumannya, dan tersenyum melihat Bella yang tengah meraup oksigen dengan rakus. Bella terlihat makin cantik saja. Ian lagi mendekat dan ingin mencium Bella lagi, tapi Bella sudah lebih dulu menghindar. “Berhenti!” “Oke, kita lanjut besok saja.” Bella yang memang kesal lantas memukul d**a Ian. Ian menaikkan alisnya seolah bertanya. “Pergilah, nanti kamu keenakan lagi.” Ian tertawa, sejujurnya dia ingin sekali menyentuh Bella, tapi dia harus bersabar. Besok, setelah janji suci itu terucap, dia bisa menyentuh Bella bahkan Bella seutuhnya akan menjadi miliknya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD