Hari telah berganti hari. Bella kembali sibuk di rumah, dan seperti biasa, Anastasya dan Rebecca pasti akan menyulitkannya. Bella membuang napas, sedangkan Anastasya dan Rebecca sedang bercanda. Bella menuangkan segalas s**u untuk Anastasya.
Anastasya menatap Bella dengan senyum miring. “Tidak terasa, kamu akan menikah juga besok.”
Rebecca ikut tersenyum. “Baguslah, dengan begitu kamu tidak akan lagi tinggal di sini. Senangnya.”
Bella lagi membuang napasnya, yah, dia sendiri lupa jika besok dia akan menikah. Jujur, Bella tidak mau pergi dari rumahnya. Rumah ini memiliki banyak kenangan, Bella hanya tidak rela jika harus meninggalkan rumah juga membiarkan Anastasya dan Rebecca di sini.
“Harusnya kamu senang bukan? Bisa menikah dengan pria kaya! Tapi Tante gak yakin, apa nasib kamu akan seperti putri Cinderella, atau tidak!”
“Tentu saja tidak Mami. Aku tebak, nasib Bella pasti akan lebih menderita lagi! Gak ada kebahagiaan yang pantas kamu dapat,” ucap Rebecca tersenyum miring.
Bella menatap Rebecca dengan wajah datar, dia sudah biasa dengan omong kosong Rebecca. Bella mendekati Rebecca dan menuangkan s**u.
Saat Bella tengah menuangkan s**u untuk Rebecca, suara seseorang mengalihkan atensi Bella.
“Kakak.”
“Jesse.” Bella menatap kehadiran Jesse dengan wajah terkejut, lalu Bella tersenyum melihat adiknya yang akhirnya bisa pulang.
Bella yang begitu antusias dengan tidak sengaja menuangkan s**u ke pakaian Rebecca.
“Bella!” teriak Rebecca tidak terima karena pakaian jadi kotor.
“Kamu yang bener dong.” Marah Anastasya karena Bella malah mengotori pakaian anaknya.
Jesse tentu tidak akan diam, Jesse mendekat dan menatap Anastasya dan Rebecca berganti dengan tatapan tajam.
“Kenapa kamu menatapku seperti itu? Dasar tak tau diri!” maki Anastasya.
Jesse tertawa remeh. “Apa aku tidak salah dengar? Bukankah kalian orang tak tau diri itu? Sadarlah, kalian hanya parasit di sini!”
Anastasya tertawa kesal melihat kelakuan Jesse. “Dengar baik-baik, kamu harusnya berterima kasih kepadaku. Jika bukan aku, hidupmu tidak akan seenak ini.”
“Ouh ya?”
Rebecca menggebrak meja. “Nyebelin banget sih lo. Gak kakak, gak adik, sama-sama nyebelin.” Rebecca tentunya tak akan diam melihat kelakuan Jesse yang sangat sok itu.
Sebelum berkelanjutan, Bella menggenggam tangan Jesse dan mengajak Jesse untuk pergi. Tak akan ada hentinya bila mereka harus berurusan dengan Anastasya maupun Rebecca.
Bella dan Jesse pergi ke kamar Jesse, Bella bertanya apa Jesse sudah sarapan, jika belum Bella akan menyiapkan makanan untuk adiknya. Jesse berkata dia sudah sarapan tadi, dan sebenarnya, Jesse sangat ingin ke rumah sakit untuk bertemu ibu mereka.
“Kalau begitu ayo! Kakak juga ingin menemui ibu.”
“Kakak enggak sibuk?”
“Enggak.”
“Bukankah besok-” Sebelum Jesse berkata lebih lanjut, Bella lebih dulu memotong ucapan Jesse.
“Ayo kita pergi sekarang.”
Jesse menyipitkan matanya, Jesse merasa ada sesuatu dengan kakaknya.
Bella yang tau tatapan Jesse, tersenyum ke arah Jesse. “Nanti Kakak jelasin.”
“Oke, kalau begitu ayo!”
Bella dan Jesse bersiap-siap terlebih dahulu. Begitu sudah siap, barulah mereka pergi ke rumah sakit.
***
Bella dan Jesse masuk ke dalam ruangan Tiffany. Mereka berdua menyapa Tiffany, Jesse yang memang sudah lama tak mengunjungi ibunya lantas memeluk tubuh ibunya. Bella mengelus punggung Jesse, Bella tau, Jesse pasti sangat merindukan ibu, begitupun dengan dia.
Lama melepas rindu, Bella dan Jesse duduk di sofa sambil menatap ibunya. Jesse tampak sedih, tapi ada hal lain yang perlu dia pastikan. Jesse lantas menatap ke arah kakaknya, Bella.
“Kak.”
“Kakak akan cerita.”
Bella lantas menceritakan, setelah kecelakaan juga kembalinya Jesse ke asrama sekolah. Anastasya mengambil alih kendali rumah, semua hal pasti akan ditangani oleh Anastasya. Dan, yang paling berat, dia terpaksa berhenti kuliah. Tidak ingin Jesse juga terhenti pendidikannya, Bella memohon agar Anastasya membiayai pendidikan Jesse saja.
“Kenapa begitu? Kakak, maafkan Jesse.”
“Tidak apa-apa. Pendidikan kamu lebih penting, ingat! Belajarlah dengan baik.”
“Tapi Kak, tak seharusnya tante Anastasya berprilaku seperti itu. Ini keterlaluan!”
Bella menggelengkan kepalanya, ini memang yang terbaik, keuangan keluarganya sedang tidak baik sekarang. Jadi wajar, bila Anastasya mengurangi pengeluaran.
“Lalu, pernikahan Kakak?”
Bella membuang napas dengan berat. Bella lantas berkata, jika Anastasya yang mengenalkan Bella kepada Ian. Juga, Bella jujur bila ini memang rencana Anastasya untuk menjodohkan dia dengan Ian.
“Kakak terima begitu saja?”
“Ya, mau bagaimana lagi?”
“Kak, jika Kakak tidak mau, sebaiknya jangan.”
Bella mengelus kepala adiknya. “Tidak apa, Kakak baik-baik saja Jesse.”
Meski terpaksa, tapi menikah dengan Ian, Bella bisa terhindar dari Anastasya. Juga biaya pengobatan ibunya dan biaya pendidikan Jesse pasti akan dibantu oleh Ian. Memang sedikit bagaimana, tapi Bella rela berkorban demi keluarganya. Apapun akan Bella lakukan, asalkan keluarganya bisa bahagia.
Jesse menatap Bella sendu, Jesse tentunya tau jika kakaknya belum pernah berhubungan serius dengan pria karena sibuk belajar. Namun, tiba-tiba saja kakaknya akan menikah, itu tentu sangat membebani Jesse, bagaimana jika kakaknya tak bahagia, lalu bagaimana jika pria itu salah dan sama sekali tidak baik untuk kakaknya.
“Kak, apa Kakak akan bahagia dengannya?”
“Emm!”
“Entah kenapa, tapi Jesse lebih setuju jika pernikahan itu tidak terjadi.”
“Kenapa?”
“Kebahagiaan Kakak itu paling penting. Jangan berkorban demi siapapun, Kakak harus memprioritaskan diri sendiri, sebelum orang lain.”
Bella tersenyum, Bella tau kekhawatiran Jesse, tapi apa boleh buat, Bella tidak bisa membatalkannya. Selain berkorban demi keluarga, Bella tentu tau, bahkan sangat yakin bila Ian tidak mungkin membatalkan pernikahan mereka.
Membayangkan jika besok dia menikah, Bella tampak ragu. Namun, Bella lebih takut dengan Ian. Sebelumnya Ian selalu menekan dia agar mengikuti apapun yang dia katakan. Juga, Ian selalu berhasil membuatnya bungkam. Sudah beberapa kali Bella meminta agar Ian membatalkan pernikahan mereka, tapi Ian tidak bisa diajak kompromi. Dan yang paling menyebalkan, untuk membungkam keinginannya, Ian pasti akan melakukan hal yang sangat Bella benci. Tentunya, Ian akan mengambil kesempatan dalam kesempitan. Mengingat bagaimana Ian yang selalu mengambil kesempatan, Bella selalu merasa kesal sendiri, tetapi apa boleh buat, Bella tidak bisa melakukan apapun.
Melihat raut wajah Bella, Jesse tampak bertanya-tanya. “Kak, kenapa?”
“Emm ... gak apa-apa.”
“Kakak.”
Bella tertawa, Jesse memang selalu tau. Namun, Bella tak mau membuat adiknya khawatir.
“Kakak hanya gugup saja, bagaimana bisa Kakak akan menikah besok pagi. Itu terasa mustahil, tapi nyata.”
“Butuh bantuan?”
“Tidak, Kakak tau apa maksudmu Jesse.”
Jesse tertawa, yah, Jesse tadinya ingin menyarankan agar kakaknya melarikan diri. Tentu saja, dia akan membantu dalam misi pelarian diri kakaknya.
Bella memukul lengan Jesse pelan, bisa-bisanya adiknya ini ingin menyarankan sesuatu yang sangat dia inginkan, tapi tak bisa dia lakukan.
“Yakin nggak mau Kak?”
“Enggak, tugas kamu cuman belajar dengan baik! Ngerti?”
“Iya Kakak.”
Bella dan Jesse tersenyum, memang paling membahagiakan itu bisa berkumpul bersama dengan keluarga.