Menakutkan

1111 Words
Beberapa menit sudah Bella menahan diri dari pandangan Ian. Walaupun ingin secepatnya pergi, Bella mencoba untuk berbaur dengan menjawab apa pun yang ditanyakan pria itu. Namun, dia tidak bisa menyembunyikan kekesalannya dengan sikap dan tatapan yang Ian berikan padanya. Selama itu juga, Bella berusaha sibuk dengan makanannya. Ian tak henti-hentinya mengajak Bella bicara. Namun, Bella hanya menjawab dengan kalimat singkat karena dia tidak mau berinteraksi lebih dengan Ian. “Jika membutuhkan yang lain, kamu bilang saja!” Meski ragu, tapi Bella mencoba untuk bicara kepada Ian. “Emm … Kak.” “Kak?” “Iya, Kakak, karena kamu lebih tua dariku. Ataukah aku harus memanggilmu Paman?” “Aku tidak setua itu.” Meski Ian tampak tak suka dipanggil kakak dan paman, tetapi melihat Bella, Ian dengan mudahnya luluh. Dia bukan tipe orang yang suka dipanggil sembarangan oleh orang lain, tetapi untuk Bella sepertinya ada pengecualian. Ian tak mempermasalahkan jika Bella mau memanggilnya dengan panggilan kakak. “Jadi, aku harus memanggil apa?” tanya Bella. “Kakak lebih baik.” “Baik, Kak.” Bella tersenyum canggung, dia jadi bingung bagaimana mengatakan keinginannya. Ian yang seolah tahu apa yang tengah Bella pikirkan lantas berkata, “Bicaralah, tak perlu sungkan.” Bella tertawa kecil. “Begini, Kak, bolehkah aku pulang?” Akhirnya, Bella punya keberanian untuk mengatakannya. Ya, walau sebenarnya dia ingin mengatakan pada Ian untuk membatalkan perjodohan itu, tetapi setidaknya, jika dia bisa cepat pergi dari sana, itu sudah cukup membuatnya jauh dari Ian. Tentu saja dia berharap tidak akan bertemu lagi dengan pria itu. Ian tersenyum, lalu menjawab, “Boleh.” Jawaban Ian tentu membuat Bella senang, akhirnya dia bisa pulang juga. “Tapi aku yang antar.” Mendengar itu, seketika senyuman Bella hilang. Itu terdengar tidak baik sama sekali. Bella ingin menghindar, tapi Ian justru makin menjadi. “Tidak perlu, Kak. Aku bisa pulang sendiri.” “Aku yang antar atau tidak pulang sama sekali!” Bella meneguk ludahnya, itu sama saja bohong. Ian bangkit dari tempat duduknya, lalu mengulurkan tangannya ke arah Bella. Meski ragu, tetapi Bella menerima uluran tangan Ian. Ian menggenggam tangan Bella, lalu mengecup punggung tangan Bella. Bella yang mendapati itu tampak begitu terkejut, sampai mata dan mulutnya terbuka lebar. Dengan spontan, Bella menarik tangannya sampai terlepas dari genggaman tangan Ian. Bella tersenyum paksa, lihatlah, Ian begitu pintar mencari kesempatan. “Kita pulang sekarang, kan?” tanya Bella berusaha lepas dari kejadian tadi. “Ayo!” Ian menggenggam kembali tangan Bella. Bella ingin berontak, tetapi Ian mengeratkan genggaman tangannya. Alhasil, Bella hanya bisa pasrah. Biarlah, yang terpenting dia segera pulang dan terlepas dari Ian. Begitu Bella dan Ian keluar, sebuah mobil sudah terparkir rapi di depan restauran. Seorang penjaga mendekati mereka dan membukakan pintu untuk mereka berdua. Ian menyuruh Bella untuk masuk lebih dulu, tetapi Bella menggelengkan kepalanya. “Aku bisa pulang naik taksi.” “Untuk selanjutnya, kamu akan pulang denganku.” “Tapi ….” “Tidak ada tapi-tapian, ayo masuk!” Bella tampak cemberut, gadis itu tidak mau pulang dengan Ian. Namun, melihat Ian bicara tegas seperti itu, Bella jadi takut sendiri. “Masuk, Sayang!” “Sayang … nggak salah. Ih, ngapain sih cowok ini manggil aku sayang-sayang,” batin Bella semakin merasa takut setelah mendengar Ian mengatakan itu. Belum lagi kini tatapan Ian kian menajam dan seolah tengah mengintrogasi. Melihat Ian yang akan kembali bicara, dengan terburu-buru Bella masuk ke dalam mobil. Ian membuang napasnya pelan, yah, dia sedikit kesal dengan tingkah laku Bella. Tapi apa boleh buat. Ian lantas masuk ke dalam dan menyuruh sopir untuk segera melajukan mobilnya menuju kediaman Bella. Di sepanjang jalan, Bella hanya menatap keluar jendela. Entah nasib apa yang akan terjadi ke depan, hanya saja, Bella berharap nasib baiklah yang menyertainya. Ian memperhatikan Bella dalam diam, Ian tak ada niatan untuk menegur, dia akan membiarkan Bella sibuk dengan pikirannya. Tetapi satu yang pasti, melihat Bella, Ian merasa telah terpikat pesona wanita bernama Arabella Zahra Ayu. *** Begitu tiba di depan rumah, sopir menghentikan laju mobil. Bella tersadar dari lamunannya dan tersenyum saat tahu dia telah sampai di depan rumahnya. Bella lantas menatap ke arah Ian untuk mengucapkan terimakasih, tetapi melihat tatapan Ian, Bella mengedipkan matanya beberapa kali. “Kenapa Kak?” “Aku ingin bicara.” Ian memberi kode kepada sopirnya untuk pergi, sang sopir lantas keluar dari dalam mobil. Bella menatap kepergian sopir, lalu menatap ke arah Ian saat tahu Ian mengunci pintu. “Kamu tau bukan jika aku tertarik denganmu?” “Ya, lalu?” “Maka mulai detik ini, kamu wanitaku, calon istriku.” “Sebentar.” Bella mengangkat tangannya dan meneruskan ucapannya. “Jika aku nggak mau, maka kamu tidak akan memaksaku, kan?” tanya Bella dengan penuh harap. “Aku akan semakin memaksamu.” “Kenapa bisa seperti itu? Jika aku nggak mau, maka Kakak nggak seharusnya memaksa aku.” “Tapi, aku akan tetap memaksamu!” Jawaban Ian sungguh menyebalkan bagi Bella. Gadis itu pun mundur dan mencoba menghindari Ian. Akan tetapi, Ian justru makin mendekat. Bella menatap Ian sengit, kenapa Ian malah semakin mendekat. Ouh tidak, Bella kini tidak bisa menghindar lagi, dia sudah terpojok sekarang. Dan Ian, dia tidak memberikan celah sedikitpun bagi Bella. “Kak, bisakah kamu mundur? Aku sulit untuk duduk.” Ian tersenyum miring. Ketakutan Bella semakin menjadi sekarang, belum lagi Ian terus saja menatap ke arah bibirnya. Sebelum Ian melakukan hal yang tidak-tidak, Bella memalingkan wajahnya. Dan, benar saja. Ian mencium pipi Bella. Untung saja Bella buru-buru memalingkan wajahnya, jika tidak, maka bibirnya tak akan suci lagi. Namun, sialnya lagi, meski di pipi, pipi Bella langsung bersemu merah. Ian pun tersenyum puas melihat reaksi Bella. “Mau di tempat lain?” tanya Ian. “Gak mau,” teriak Bella dengan spontan. “Kenapa? Padahal aku belum melakukan apa pun!” “Tolong lepaskan aku, Kak!” “Jika kamu mau lepas, ada syaratnya.” “Syarat apa?” tanya Bella kebingungan. “Jangan pernah menolakku dan ingatlah, kamu wanitaku sekarang.” “Iya-iya, tapi lepaskan aku sekarang juga!” “Baiklah, aku melepaskanmu, tapi tidak untuk selanjutnya.” Ian kembali ke tempatnya semula. Lalu, pria itu pun membuka kunci mobil. Belum sempat Ian bicara lagi, Bella sudah membuka pintu dengan terburu-buru. “Bella,” panggil Ian. Bella keluar dari dalam mobil. “Iya aku tau. Terserah apa katamu, yang jelas sekarang aku mau pulang.” Setelah berkata begitu, Bella dengan secepat kilat lari masuk ke dalam rumah. Ian menggelengkan kepalanya, untuk apa juga Bella sampai lari seperti itu. “Mungkin hanya dengan cara ini aku bisa menebus kesalahanku. Aku akan menjagamu mulai sekarang,” batin Ian sambil terus menatap kepergian Bella yang semakin menjauh dan mulai menghilang dari pandangannya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD