Saat masuk ke dalam rumah, Bella melihat Anastasya dan Rebecca tengah melihat-lihat barang belanjaan mereka. Bella tampak lesu, dia harus menemui seorang pria dengan paksa, sedangkan tante dan saudaranya malah asik menghamburkan uang.
Melihat kedatangan Bella, Anastasya tersenyum puas. “Eh, kenapa sudah pulang?”
“Seharusnya dia tak pulang sekalian,” ucap Rebecca sambil menertawakan Bella.
Bella hanya bisa diam. Mengingat ada hal penting, Bella lantas mendekati Anastasya dan Rebecca. Anastasya dan Rebecca menatap Bella dengan alis terangkat.
“Kenapa?”
“Tante, apa bisa perjodohan itu dibatalkan?”
“Kamu mau ibumu mati, hah!”
“Seharusnya kamu itu bersyukur, Mami masih mau merawat kamu dan Jesse. Terutama tante Tiffany yang sebentar lagi juga pasti mati.”
“Rebecca!” teriak Bella tak terima dengan ucapan Rebecca.
“Apa yang salah? Memang benarkan ucapanku?” tanya Rebecca tanpa dosa.
“Sudahlah, kamu terima nasib saja.” Anastasya dan Rebecca tersenyum puas.
Rasanya Bella ingin menangis, tetapi tante dan saudaranya itu akan semakin menekannya jika dia lemah.
“Tante, Bella akan bekerja untuk biaya pengobatan Ibu, asalkan Tante membatalkan perjodohan itu. Dan juga, bukankah uang asuransi ayah masih ada?”
“Kamu kira uang asuransi kematian ayahmu itu besar, hah? Itu tidak cukup sama sekali, apalagi untuk biaya pengobatan ibumu yang merepotkan itu. Yang harus kamu lakukan sekarang adalah menikah dengan pria kaya, itu pun jika kamu ingin hidup aman.”
“Lagian apa susahnya kamu menikah? Kamu beruntung Mami masih berbaik hati dan mencarikan pria kaya untukmu Bella.” Rebecca merasa kesal dengan tingkah Bella, meski dia juga tak akan mau dijodohkan seperti itu.
Tak mendapati hasil, Bella lantas pamit pergi ke kamarnya. Anastasya memang susah untuk dibujuk, apalagi setelah kecelakaan kedua orang tuanya, tantenya itu jadi merasa paling berkuasa di rumah.
Bella masuk ke dalam kamar dan mengganti pakaiannya. Hari ini, dia akan menjaga ibunya di rumah sakit. Dirasa sudah siap, Bella lantas pergi. Dan, saat melewati ruang tengah, Bella melihat tante dan saudaranya yang tengah tertawa senang. Memang bukan hal aneh lagi untuk Bella jika tante dan saudaranya mempunyai hidup yang begitu glamor, meski Bella terkadang kebingungan dari mana uang yang mereka dapatkan.
Tak ingin memikirkan hal itu, Bella lantas pamit pergi, meski ucapan Bella tak akan digubris sama sekali oleh mereka.
Melihat kepergian Bella, Rebecca lantas menatap maminya. “Mami, apa Mami benar-benar akan menikahkan Bella dengan pria itu?”
“Ya, karena kamu kan nggak mau.”
“Jelas saja aku nggak mau, perjodohan itu sudah basi di jaman sekarang.”
Anastasya tersenyum sambil mengelus kepala Rebecca. Selain Rebecca yang tidak mau, memang Ian sendiri yang meminta Bella, bukan anaknya. Tetapi sebagai orang tua, Anastasya harus menutupinya. Meski Anastasya berharap, anaknyalah yang Ian mau, dengan begitu dia tak perlu repot lagi soal uang.
***
Setibanya di rumah sakit, Bella masuk ke dalam ruangan sang ibu. Melihat ibunya yang tengah terbaring lemah, itu selalu berhasil membuat Bella merasa sedih dan rapuh. Gadis itu pun duduk di samping ranjang, dia menggenggam tangan ibunya, lalu tersenyum.
“Ibu, Bella datang. Maaf ya Ibu, hari ini Bella datang telat. Bella habis pergi menemui seseorang. Ouh iya, Ibu. Bagaimana keadaan Ibu? Semoga Ibu lekas sembuh. Bella rindu Ibu.” Bella menyeka air matanya yang hampir saja menetes.
Bella berusaha menahan air matanya, dia tidak boleh menangis. Dengan senyum paksa, Bella berhasil menahannya, meski hatinya tak bisa dibohongi.
Bella mulai bercerita pada ibunya yang koma jika dia bertemu dengan seorang pria bernama Sebastian Putra Pratama, pria itu adalah pria yang dikenalkan oleh Anastasya. Bella tidak tahu betul bagaimana sikapnya, hanya saja saat pertama kali bertemu, Bella tak begitu menyukainya. Bella tentunya tak akan bilang, jika Anastasya-lah yang memaksanya untuk menemui Ian.
“Jika Ibu bertanya, apa Bella menyukainya? Sepertinya tidak. Dia sebenarnya baik, hanya saja, Bella tidak suka. Ibu akan tau kenapa Bella bilang begitu! Ibu harus menemuinya juga, Ibu cepatlah bangun!” Selesai mengatakannya, air mata Bella pun menetes. Dia tidak bisa menahan kesedihannya lagi, terlebih saat dia berharap ibunya segera bangun dan pulih seperti sedia kala.
Sampai saat ini, Bella tidak tahu pasti bagaimana kecelakaan kedua orang tuanya. Hanya saja, Anastasya bilang jika semuanya sudah beres dan memang ayahnyalah yang salah karena berkendara dengan ugal-ugalan. Bella tentu saja tidak percaya, ayahnya tidak mungkin seperti itu. Namun, mau bagaimana lagi, kasus kecelakaan kedua orang tuanya sudah ditutup.
Mengingat mendiang ayahnya, Bella makin menangis. Bukan ini yang Bella mau, tetapi takdir sudah memisahkan mereka. Memang tak akan ada yang tahu takdir dan nasib seseorang di kemudian hari. Akan tetapi, Bella akan berusaha ikhlas dan menjalani sisa kehidupannya.
Saat ini, Bella seharusnya sibuk dengan pendidikannya. Namun, Bella terpaksa tak bisa melanjutkan karena biaya kuliah yang tidak bisa dia bayar. Belum lagi, Anastasya juga tidak mau menanggung biaya pendidikan Bella, terlebih Jesse – adiknya juga tengah sibuk ujian akhir di sekolah menengah atas. Maka dari itu, Bella berhenti dan meminta Anastasya untuk membantu biaya pendidikan adiknya saja.
Meski awalnya Anastasya tampak enggan, tapi akhirnya Anastasya mau membiayai pendidikan Jesse. Meskipun, ada syarat yang Anastasya minta, Anastasya meminta perhiasan ibunya dijual. Karena tak ada pilihan, Bella memberikan perhiasan ibunya kepada Anastasya.
Bella menarik nafas dan membuangnya dengan pelan. Kini yang harus Bella pikirkan adalah, bagaimana caranya agar Bella lepas dari perjodohan konyol tantenya.
“Ibu, apa yang harus Bella lakukan? Sungguh, Bella tak mau jika harus menikah sekarang, Bella belum siap.” Bella hanya bisa mengadu pada Tiffany yang sedang koma.
Bella pun mulai membaringkan kepalanya di bahu ibunya, dia ingin menangis dan meminta pertolongan ibunya. Lalu, Bella ingat pesan dari kedua orang tuanya, jika ada masalah besar, Bella harus bisa menyelesaikannya dengan cara baik-baik.
Bella pun bangkit dari posisi tidurnya. “Ibu, Bella akan coba bicara dengan Ian. Mungkin saja dia paham dan tidak jadi menikahi Bella. Bukankah itu lebih baik, Bu?” tanya Bella dengan senyum mengembang.
“Tapi … bagaimana jika dia tetap bersikeras dan ingin menikahi Bella? Ibu, tolong Bella, masa Bella harus menikah di usia semuda ini. Bella itu masih ingin melanjutkan pendidikan, Bu.” Bella tampak cemberut, membayangkan dia menikah dengan Ian, itu tampak aneh baginya.
“Ibu tolong doakan Bella agar Bella bisa membujuk Ian. Dengan begitu, kami tidak akan menikah dan Bella masih bisa melanjutkan pendidikan dengan baik.”
Menikah, satu kata itu belum terpikirkan oleh Bella. Di usianya yang sekarang, Bella hanya ingin menikmati masa mudanya. Masa muda yang tidak datang dua kali. Itu sebabnya, Bella ingin menikmatinya dulu.