Bella menatap gedung pencakar langit di depannya dengan ekspresi tidak percaya. Bagaimana tidak, dia baru tahu jika Ian adalah CEO dari sebuah perusahaan besar bernama The Corp. Pantas saja tantenya Anastasya begitu ingin menjodohkan dia dengan pria bernama Ian itu.
Bella lantas berjalan masuk. Saat berjalan ke dalam kantor, Bella menjadi pusat perhatian, yah dia baru kali ini menginjakkan kaki di sini. Bella menatap ke kiri dan ke kanan, karena tidak tahu dimana ruangan Ian. Bella lantas pergi ke meja resepsionis.
“Permisi.”
“Iya Nona, ada yang bisa saya bantu?”
“Dimana ruangan Ian? Maksudku, ruangan CEO The Corp.”
“Apa anda sudah punya janji temu?”
“Tidak.”
“Jika begitu sebaiknya anda pergi saja!”
“Tapi.”
“Nona Bella.” Seseorang memanggil nama Bella.
Bella lantas menatap ke arah orang itu, lalu memiringkan kepalanya, karena Bella tidak kenal dengan orang tersebut.
“Nona mau bertemu Tuan Ian?”
“Iya.”
“Kalau begitu mari ikuti saya Nona.”
Saat mengikuti langkah pria itu, Bella akhirnya tau bila pria itu adalah sekertaris Ian, namanya Kevin. Kevin berkata bila Ian tengah bekerja, tapi dia yakin Ian akan sangat senang dengan kehadiran Bella. Bella hanya mampu tersenyum kecil, meski dalam hati, ini tidak menyenangkan baginya.
Setibanya di lantai kerja Ian, Kevin mengajak Bella untuk masuk ke dalam ruangan Ian.
Kevin menunduk hormat, melihat itu Bella jadi kebingungan sendiri, haruskah dia juga memberi hormat. Namun, menyadari jika dia bukan seorang karyawan, Bella lantas memilih untuk diam.
“Tuan, Nona Bella ingin bertemu.”
Mendengar nama Bella, Ian langsung saja menutup berkas dan tersenyum melihat kehadiran Bella.
Kevin menunduk sebentar, lalu pergi dari ruangan kerja Ian.
Bella yang terdiam, kini menatap Ian dengan mata berkedip beberapa kali. Sedangkan Ian, dia tengah menikmati penampilan Bella. Meski Bella hanya memakai celana jeans dan kaos pendek, tapi itu mampu membuat Ian tersenyum penuh misteri.
“Emm ... Kak. Maaf, jika aku mengganggu waktunya.”
“Tidak menggangu sama sekali.” Ian bangkit dari kursinya dan duduk di sofa. “Kemarilah!” seru Ian sambil menepuk tempat disampingnya.
Bella menganggukkan kepalanya pelan, lalu duduk di samping Ian, yang tentunya Bella akan memberi jarak.
“Kenapa jauh sekali? Mendekatlah!”
“Tidak, aku hanya ingin bicara sebentar.”
Karena Bella tidak mau mendekat, maka Ian yang akan mendekat. Bella mencoba memberi jarak lagi, tetapi tidak bisa, karena Ian malah memeluk pinggangnya.
Bella memegang tangan Ian dan berusaha melepaskan pegangan Ian di pinggangnya. Akan tetapi, Ian justru memeluk pinggang Bella dengan kedua tangannya dengan erat.
“Kak, aku-”
“Kenapa? Kamu tak suka aku peluk seperti ini?”
“Bukan begitu. Tapi! Iya, aku kurang nyaman jika harus seperti ini.”
“Abaikan saja rasa tak nyaman itu. Bukankah kamu ingin bicara? Apa yang ingin kamu bicarakan denganku?”
Bella membuang napasnya pelan, biarlah seperti ini, yang terpenting Bella bisa menyampaikan tujuannya sampai dia datang ke kantor Ian.
“Begini Kak. Mengenai perjodohan yang tante Anastasya lakukan, bisakah itu dibatalkan? Aku sama sekali tak mau menikah! Coba bayangkan, bagaimana bisa kita menikah, sedangkan kita tidak tau satu sama lain?”
“Setelah menikah, kita akan tau satu sama lain. Bahkan sekarang juga bisa!”
Bella menatap Ian bengong, sebenarnya apa yang membuat Ian begitu bersikeras menginginkannya.
Melihat ekspresi Bella, Ian tersenyum, lalu tangannya terangkat mengelus anak rambut Bella dan menyelipkannya ke belakang telinga. Bella yang mendapati itu merasa tidak nyaman, dia mengangkat bahunya guna menolak sentuhan Ian.
“Aku sudah bilang, jangan pernah kamu menolakku. Kamu itu wanitaku, calon istriku, Bella.”
“Tapi aku tidak mau,” ucap Bella dengan bibir cemberut.
“Kenapa tidak mau?”
“Ya, karena aku tidak mau!”
“Tapi aku mau.” Ian memainkan lidahnya di dalam mulut, sial, dia tak bisa menahannya lagi.
Sebelum Bella akan bicara, Ian sudah lebih dulu membungkam bibir Bella dengan bibirnya. Bella membulatkan matanya, bola matanya seakan-akan mau keluar saking terkejutnya dengan tindakan yang Ian lakukan.
Ian yang memang sudah tak tahan, lantas saja menciumi bibir Bella. Dan satu hal pasti, ini pengalaman pertama Bella, bisa Ian rasakan betapa kakunya bibir Bella saat dia sentuh. Bella mengedipkan matanya beberapa kali. Jadi ini yang namanya ciuman, mengapa rasanya seperti ini, dia sama sekali tidak suka.
Ketika Bella tengah berperang dengan pikirannya, Bella seketika tersadar, mengapa dia malah diam dan mau-maunya Ian cium. Bella lantas berontak, meski itu tidak ada gunanya. Ian justru makin gencar. Dan, yang membuat Bella makin tidak suka, itu saat lidah Ian memaksa masuk. Rasanya begitu mual, Bella ingin muntah.
Mengetahui Bella yang justru tampak tak suka, mau tak mau Ian melepaskan ciumannya. Padahal, dia begitu menyukai rasa manis ketika bibirnya mengecap bibir Bella.
Bella mengusap bibirnya dengan punggung tangan. “Kenapa Kakak malah menciumku,” teriak Bella tanpa sadar.
Ian menatap Bella tak percaya. Memang benar, Bella berbeda dari wanita pada umumnya.
“Inikah alasan Kakak mau menikahi aku? Aku tau, Kakak hanya ingin menyentuhku saja. Begitu puas, Kakak akan membuangku, kan?”
“Jika hanya menyentuh, aku bisa melakukannya sekarang. Aku serius ingin menikahi kamu Bella!”
Bella menyilangkan kedua tangannya di depan d**a. “Tidak mau, pada kenyataannya Kakak hanya menginginkan tubuh.”
“Kalau begitu kamu tinggal pilih. Tidak menikah dan menjadi milikku. Atau, menikah dan menjadi istriku?”
“Kenapa pilihannya tidak ada yang baik? Itu sama saja, tidak ada bedanya,” ucap Bella dengan bibir mencibir.
“Dengarkan dulu penjelasanku.”
Bella membuang muka dengan wajah penuh kekesalan, dia tidak mau mendengarkan penjelasan Ian. Ian tertawa, bagaimana bisa dia terpikat dengan wanita seperti Bella. Dan, ya, Ian memang sudah jatuh hati dan menginginkan Bella dengan amat sangat.
Ian memegang wajah Bella dan mengarahkan Bella agar mau menatapnya. Bella masih saja menatapnya dengan tatapan kesal, tapi itu terlihat sangat lucu.
“Jika kita menikah, kamu akan terbebas dari nenek sihir. Selain itu, aku akan membiayai kebutuhan kamu, ibumu, bahkan adikmu juga. Apa kamu tak mau melihat mereka bahagia?”
Bella diam. Benar, saat ini dia perlu uang yang banyak untuk pengobatan ibunya juga adiknya yang masih sekolah. Namun, Bella tidak mau menikah dengan Ian, juga ada sesuatu yang membuat Bella bertanya-tanya.
“Kak, sebenarnya. Apa alasan Kakak sampai-sampai Kakak mau menikah denganku?”
“Tidak ada alasan. Aku hanya ingin saja menikahi kamu!”
Bohong, meski Bella baru mengenali Ian, tapi tatapan Ian tidak bisa membohonginya. Bella jelas melihat Ian yang mencoba menutupi kebenaran. Entah apa, tetapi Bella tidak mempermasalahkan itu.
“Sekarang yang perlu kamu tau, kita akan menikah satu minggu lagi.”
“Hah, Apa? Satu minggu lagi! Kakak bercanda ya?”
“Tidak!”
Bella makin tidak habis pikir, bagaimana bisa Ian membuat keputusan seperti itu tanpa tahu apa dia setuju atau tidak. Dan anehnya, Ian dengan mudah memporak-porandakan keputusannya yang berakhir, Bella menerima keputusan Ian dengan lapang d**a.