Pengakuan Suamiku tentang Wanita yang dihamilinya

2064 Words
Aku gemetar saat melihat mobil Mas Bayu melesat pergi membawa wanita simpanannya itu. Bapak mertua menghampiriku dan mengajak masuk ke rumah. Beliau memintaku duduk dan banyak beristighfar lalu mengambilkan segelas air minum. Beliau berusaha menguatkan dengan kalimat, "Sabar ya, Kanaya. Bapak dan Ibu akan bantu mencarikan solusi terbaik." Ah, Bapak. Solusi apa? Paling juga ujung-ujungnya mereka dinikahkan juga. Rasanya aku ingin segera pergi dari rumah milik bersama ini. Aku kalah banyak, keluarga ini mendambakan seorang cucu, tapi aku belum bisa memberikannya, Allah belum memberiku rezeki anak. Hah, lakon kalah di depan cerita. Paling enggak sebelum aku minta pisah, kujadikan gule atau rawon dulu mereka berdua! Basa-basi kuucapkan terima kasih lalu meminta izin untuk menenangkan diri ke kamar, aku sedang tidak ingin mendengar beliau membahas masalah ini. Percuma. Nggak ada solusi terbaik untukku. Sadar diri di sini aku cuma menantu, mereka pasti lebih memilih memikirkan nasib anak kesayangannya itu dari pada aku. Yang aku butuhkan sekarang adalah ruang untuk bisa menangis tanpa orang lain tahu. Gini-gini aku juga manusia biasa, punya hati sangat lembut, saat dikhianati, luka di sanubari meluruhkan air mata, aku ringkih. "Sebentar lagi ibumu (mertua) datang, kamu istirahatlah dulu, nanti kita bahas ini dengan ibu dan adik-adikmu (ipar)," kata bapak lagi membuatku menghentikan langkah sejenak, aku menganggukkan kepala, "Iya Pak." Kuhela napas panjang berkali-kali. Lagi-lagi bapak bilang begitu. Berani taruhan, ntar mereka pasti dinikahkan, padahal dalam Islam tidak boleh laki-laki menikahi wanita hamil. Sebelum masuk kamar sempat kulihat mata beliau merah dan menggenang. Ada air mata yang sudah beberapa kali jatuh dari pelupuk matanya yang mulai keriput. Aku tidak tahu pasti, apa yang beliau rasakan, yang jelas nampak gurat kecewa, marah dan malu di wajahnya. Aku menunduk dan berlalu pergi. Bau harum parfum Dina yang masih melekat di kamar membuat emosi kembali tersulut. Rasanya ingin melempar semua barang yang terlihat, aku ingin melampiaskan amarah yang masih menyala-nyala. Seperti ada api yang membara di dalam d**a dan kepala. 'Hufh.' Aku mengatur napas dengan tenang. Inhale, exhale, kulakukan berulang-ulang sambil membaca istighfar. Kusemprot kamar dengan Bay-Bay aroma lavender sampai bau parfum Dina tidak tercium lagi. Kemudian aku keluar dari kamar dan menghirup udara segar di taman depan rumah. Aku tidak mau ma—ti keracunan di dalam kamar hanya gara-gara Bay-Bay satu kaleng. Aku ingin menyendiri di tempat yang sangat tenang, memutuskan untuk keluar sebentar. "Pak, saya izin ke rumah teman, boleh? Kebetulan saya masih ada kerjaan yang belum kelar, tadi saya menitipkan berkas-berkas saya di dia, saya janji habis Maghrib ke rumahnya." "Dia siapa, Kanaya?" "Dira, Pak. Rumahnya nggak jauh dari sini, nggak sampai jam sembilan malam kok, Pak, saya harus pergi karena sudah terlanjur janjian." Kuberi saja alasan ngadi-ngadi, bapak tidak akan mengintrogasiku panjang-panjang, bapak dan ibu mertua selalu percaya padaku—anak mantunya ini dari pada anaknya sendiri. Tanpa babibu, aku langsung pergi. Kulajukan mobilku perlahan sambil terus merasakan sesaknya batin. Aku mengambil wudu' sebelum masuk masjid, lalu tak sabar ingin tuntaskan tangis di sujudku. Hampir satu jam berdiam diri di masjid hingga salat Isya' usai dan para jama'ah meninggalkan tempat salatnya satu persatu. Aku masih ingin tinggal di sini, kalau perlu sampai pagi. Walau pun hatiku kali ini sudah sangat jauh lebih baik, tenang juga damai, rasanya masih tetap betah untuk tinggal. Jam dinding menunjukkan hampir jam sembilan malam. Untung saja masjid ini tidak pernah dikunci karena ada marbotnya. Beliau juga mengenalku karena sering berkunjung ke sini. Ia seperti memberiku waktu untuk duduk berdiam diri lebih lama di dalam. Aku melepas mukenah dan berniat kembali ke rumah. Semoga bau Bay-Bay dan parfum Dina sudah hilang. Dan semoga aku bisa menghadapi Bayu dengan kepala dan hati yang dingin. Di pertigaan dekat masjid aku mampir beli cilok langganan, kali aja dengan makan cilok yang super enak ini bisa sedikit banyak membantu mengembalikan mood baikku. . Sepertinya semua orang di rumah Bayu menungguku. Aku masuk rumah. Ibu mertua menyambut dengan hangat. Ia langsung memelukku dengan erat. Menangis, meratapi, meminta maaf atas kelakuan anak laki-laki kesayangannya yang menikahiku tapi ternyata berkhianat. Ardi dan Luna adik kandung Mas Bayu ikut geram atas kelakuan kakaknya yang mencoreng nama baik keluarga mereka. Mereka berdua sangat kecewa dan penasaran seperti apa sih bentuknya Dina? Melihat mereka geregetan, bara api di dalam sanubariku ikut menyala. Deru mobil Mas Bayu terdengar di depan rumah. Ardi segera bangkit dan bergegas menemuinya yang masih belum turun dari mobil. Kami semua mengikuti Ardi. Dua kali Ardi melayangkan bogeman ke muka Mas Bayu saat baru turun dari mobil. "UH! Mantab!" ucapku lirih seirama dengan pukulan Ardi ke wajah kakaknya yang ganteng itu. Pelipis Bayu berda—rah. Aku masih gemas. 'Kok berhenti sih mukulnya? Ayo Ardi, pukul lagi. UH!' Aku membatin seperti suporter tinju. Mas Bayu membalas pukulan Ardi tapi meleset. Sepertinya dia memang nggak pinter bela diri, bisanya bela selingkuhan doang. Bapak dan Luna langsung melerai mereka berdua. "Jangan ikut campur, Di!" Mas Bayu langsung marah. Ibu mertua menampar keras wajah Mas Bayu lalu meremas gemas rambut pendeknya sambil berbisik penuh amarah, "BIKIN MALU KELUARGA!" Asyik ngelihatnya, 'Terus Bu, remas terus! Jangan kasih kendor, Bu!' kemamku membara. Ibu menyeret kerah baju Mas Bayu dengan kasar masuk ke rumah, lalu mendorongnya hingga ia terduduk di sofa sampai sofanya berdecit. Aku mendengarkan mereka memarahi Mas Bayu habis-habisan, tak ada celah untuknya bersuara. Di akhir kemarahan mereka, terjadilah tangis masal. Aku sendiri yang merasa santai, nangisku udah kelar di masjid. Sekarang tinggal memikirkan langkah selanjutnya. Sekarang giliranku bicara. "Besok segera urus surat cerai kita, Mas Bayu," pintaku dengan tenang. "Jangan, Mbak, keenakan selingkuhannya merasa menang kalau Mbak menyerah!" protes Luna dengan berapi-api. Mas Bayu tak menggubris kata-kataku dan Luna, ia memilih masuk ke kamar, aku mengikutinya. "Pak, Bu, maaf saya ke kamar dulu," pamitku. . Ia tidur rebahan di springbed empuknya seperti tak punya dosa. Aku makin berang, ingin rasanya menge—pruk kepalanya pake panci di atas meja sebelah TV, yang tadinya mau kupakai buat bikin mie instan, tapi nggak jadi. "Kalau kamu nggak mau urus, biar aku saja yang urus." Aku berdiri sambil makan cilok daging di pinggir jendela. Kulirik Mas Bayu, ia memejamkan matanya sambil ditutupi dengan tangan kanannya. Aku mulai kesal karena dia masih cuek dan merasa seperti tidak terjadi apa-apa. O—tak dan hatiku rasanya mendidih. Setan dalam hatiku dari tadi sudah murka, "Sum—pal saja mulut Bayu dengan cilok-cilokmu!" Duh jangan Nay, sayang ciloknya. "Bayu?" Dia masih membisu. "Kasihan ganteng-ganteng budeg," bisikku lirih. Mas Bayu bergeming, belum puas rasanya aku me-wata dia cuma sekali tadi sore. Aku duduk di tepian ranjang sambil melihat wajahnya, hanya terlihat bibir dan lubang hidungnya saja yang kembang kempis, aku melanjutkan makan cilok yang masih sisa banyak, cilok pedas langganan yang kubeli di pertigaan dekat masjid tadi enak banget. "Bayu." Kupanggil dia sekali lagi sambil menu—suk satu cilok lalu memasukkannya ke dalam mulut. Aku hampir menelan cilok bulat-bulat ketika kaget, tiba-tiba Mas Bayu bangkit dari rebahannya dan membentakku, "Aku nggak suka ya kamu panggil aku Bayu-Bayu! Aku tahu aku salah tapi kamu jangan memanggilku Bayu!" Matanya melotot seperti mau lepas. Sesaat aku melongo melihat dia mengatakan itu baru saja. "Terus, aku panggil apa dong? Buayau, gitu? Buaya dong, muahaha." Aku masih santai makan cilok lagi. Dia kembali bergeming rebahan sambil menutup mata dengan tangan kanannya seperti semula. Napasnya mulai naik turun, sepertinya emosi banget aku manggil dia tanpa ada 'Mas'nya. "Yu, Bayu." Dia mulai kesal. "Jangan bicara kalau mulutmu masih penuh sama makanan!" sentaknya sangat emosi. "Cie ngegas ...." Okay, aku turuti. Aku letakkan cilok langgananku yang super 'huenak' itu di atas meja TV. "Sudah, Yu, aku nggak makan cilok lagi. Duduklah, aku mau bicara." Aku mulai serius. "Duduk, AKU MAU BICARA!" Kesabaranku mulai terbakar oleh bayangan wajah Dina yang sekelebat lewat. Bayu langsung duduk, lalu kami saling pandang, tapi ia tak berani melanjutkan menatap mataku, ia menunduk. "Besok, urus surat cerai kita." Aku mencoba bicara sedatar mungkin. "Enggak!" katanya singkat, membuat ubun-ubun menguap mirip cerobong asap pabrik sepatu. "Trus maumu apa, Yu?" tanyaku lagi menahan kesabaran. "Ya udah aku yang urus, sekarang tolong kamu ucapkan talak tiga," bisikku lembut sambil menatap ta—jam matanya. Paling tidak kalau dia talak tiga sudah haram aku menjadi istrinya secara agama, tinggal menunggu masa iddah, aku sudah bisa bebas melangkah ke depan. "AYO!" Tanganku refleks menggempur bahunya sampai dia kaget. "Kubilang enggak ya enggak!"pekiknya. Rasanya kehabisan akal. Harus kuapakan Bayu ini biar dia mengerti gimana sakitnya perasaanku diginiin? "Ayo Yu, kita fight aja di depan," ajakku dengan nada yang kembali datar menahan emosi. "Sorry, aku bukan laki-laki yang suka kasar sama wanita." Kalimat Bayu baru saja mendadak membuat perutku tergelitik. Aku berderai tawa. "Nggak suka kasar sama wanita? Apa yang kamu lakukan ke aku itu lebih dari kasar, Yu! Nggak sadar kamu?!" Mataku menyapu seisi kamar, sudah tidak tahan ingin melakukan sesuatu agar amarah dalam hatiku tuntas dan plong. "Terus aku harus bertahan sama kamu, sementara disuruh sabar melihat kamu asyik-asyik sama Dina, gitu? IYA?!" PLAANK! Empasan panci mendarat pada aset utamanya—wajah glowing itu. Tapi, dia kok nggak marah ya? Makin nggak puas hatiku! "Aku cinta sama kamu, Nay." "Ow ow ow, cinta?" Aku berdiri mondar mandir seperti mandor yang mengawasi anak buahnya bekerja. Kulirik ia melindungi kepala dan wajahnya setiap kali posisiku mendekatinya. Sepertinya dia langsung parno sama panci. "Saat kamu ber—cinta dengan Dina, di mana cintamu sama aku, Bayu?" Kutahan diri agar air mataku tak luruh. "DI MANA?!" Aku meneriakinya. Semoga gendang telinganya masih baik-baik saja. "Kenal di mana kamu sama Dina?" tanyaku dengan suara datar lagi. "Face-f*******:," jawabnya singkat menambah panas hatiku. "Ow ow ow, f*******:, f*******: yang statusnya menikah denganku atau ada f*******: lain lagi?" tanyaku tepat di depan wajahnya, mungkin hanya berjarak dua senti. "Face-f*******: yang menikah denganmu, Nay." "Wuah, berarti Dina tahu betul dong ya kalau kamu itu sudah menikah, dengan KA-NA-YA? Ckckck." Aku duduk di depannya. "Besok aku izin ya, gantian aku yang eksis di f*******:, kenalan dan berteman dengan teman laki-laki, lalu jika ada yang klik maka aku beri dia kesempatan untuk dekat denganku, lanjut kami janjian ketemuan, makan bareng di luar, jalan-jalan ke tempat wisata berduaan, habis itu malamnya ngamar deh ke hotel, tidur bareng, kayaknya seru," cecarku sambil membungkuk. "Jangan macem-macem ya, Nay! Kubu—nuh kamu sama lelakimu!" PLAAAAAANK! Panci sekali lagi mengemplang kepalanya. "Kasar banget sih kamu, Nay!" PLANK! Mas Bayu langsung berdiri, matanya penuh amarah dan kebencian. Aku sudah memasang kuda-kuda buat menambah wata-wataku. Maju Bayu. Aku lengah, ia berhasil menampar pipiku dengan keras. Emosiku langsung full charg. Ia akan mengulangi tamparannya sekali lagi, eits, no no no tidak untuk yang kedua kali. "WATTA! WATTAA! WATTAAA!" Bruce Lee-ku keluar. Satu tin—juan di tulang hidungnya, satu tinjuan di kedua tulang pipinya, lalu tendangan super bar-bar mendarat di ulu hati dan tempat paling sakral yang sedang digandrungi Dina. Aku tahu ditendang di ulu hati itu gimana rasanya, usus seperti amburadul, aku pernah ngerasain itu waktu dapat hukuman dari kakak pelatih silat karena telat ikut apel sore gara-gara mandi kelamaan. Masih kusempurnakan kuda-kuda, jaga-jaga Mas Bayu bakal menyerangku dengan brutal. "Cukup! Cukup!" Mas Bayu menangis sesenggukan sambil mengacak-acak rambutnya sendiri, menampar mukanya sendiri dengan keras, lalu ia sibuk mencari sesuatu yang bisa ia pukulkan ke kepalanya sendiri. Ia memukulkan panci ke kepalanya sendiri. Tak puas dengan itu ia menemukan kemoceng lalu ia pukulkan gagang kemoceng ke kepalanya sendiri. Sempat bingung, jangan-jangan, gara-gara dikemplang panci tadi sarafnya ada yang rada-rada korslet. Aku hanya bisa melihat Mas Bayu seraya tangan bersedekap di d**a, penasaran sampai berapa menit dia bakal menyakiti dirinya sendiri. "Puasss?!" tanya Mas Bayu menghentikan aksi snewennya sambil menangis. Bapak-ibu mertua dan adik-adik iparku mengetuk pintu lalu masuk ke kamar kami, melihat Mas Bayu menangis histeris sambil memegang kemoceng dan panci. Ibunya menghampirinya dan memeluk Mas Bayu erat-erat. Sepertinya ibunya mulai galau. Aku mengangkat kedua tangan tanda aku tidak melakukan apa-apa. "Sudah-sudah, cukup, jangan diperpanjang lagi. Bayu sudah mengakui kesalahannya Nay, mau gimana lagi sekarang? Nasi udah jadi bubur, Nay. Sekarang terserah kamu, mau melanjutkan pernikahan kalian atau tidak?!" Ibunya mulai terdengar membela Mas Bayu sambil menangis. "Aku mau pisah," ucapku singkat. Lalu Mas Bayu bangkit dari duduknya dan memelukku dengan erat. "Ih, apaan sih!" Aku menyingkirkan jauh-jauh tubuhnya dariku. Ia kembali menarik tubuhku, lalu memeluk lebih erat dari pelukan yang pertama. Di depan keluarganya ia meminta maaf dan berjanji akan menebus semua kesalahannya jika ia kuberi kesempatan kedua. Tak terasa air mata membulir begitu saja, aku berusaha melepaskan pelukan tapi ia semakin menguatkan pelukan.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD