Pisah Ranjang

1594 Words
Dengan sekuat tenaga, aku berhasil melepaskan diri dari pelukan, kemudian sedikit menghindar. Kami mulai bisa bicara dengan tenang. Setelah ketegangan sudah mereda, bapak ibu mertua dan kedua ipar meninggalkan kamarku, karena mereka percaya antara Mas Bayu dan aku sudah bisa mengendalikan emosi masing-masing. Tinggal aku berdua dengan Mas Bayu di dalam kamar. Aku menutup pintu, dia masih berdiri di depan meja TV sambil terus memandangiku, bola matanya mengikuti ke mana pun aku melangkah. Aku kembali mengambil cilok, sayang dari tadi dianggurin. "Yah, dingin deh," gerutuku. Kutusuk satu cilok, "Emh, masih enak." Aku bermonolog, menikmati sisa cilok. Sedari tadi Mas Bayu masih memperhatikan, matanya terus memandangi. Aku berhenti mengunyah cilok dan membalas tatapan matanya. "Apa lihat-lihat, minta cilok?!" semburku. Dia bergeming seperti patung. Wajahnya memar bekas pukulan Ardi, bibirnya sedikit lebih sensual seperti disengat tawon, kepalanya benjut mirip kepala Sinchan habis dikemplang emaknya. Terharu. "Merasa masih ganteng ya?" ketusku lagi. Dia masih memandangi. Awas aja kalau modus, terus minta dilayani! Tiba-tiba Mas Bayu naik ke ranjang, mendekatiku seraya terus menatap mata penuh angkara. Jangan-jangan beneran ada yang korslet ini di kepalanya. Mata yang terasa berat terbuka ini tertuju pada bo—kong panci yang masih menjadi saksi bisu di samping meja TV, ia sudah tak gadis lagi, peyok sana-peyok sini, tragis bener nasib si panci. Tubuh gagah Mas Bayu makin mendekat padaku. Aku meliriknya tajam dan siaga seraya mulut mengunyah empat cilok sekaligus. Pokoknya awas kalau dia nekad mendekatkan wajahnya, kusembur pake cilok dari mulutku! Dia berusaha meraih tanganku untuk digenggamnya, "Eits, tak semudah itu, Ferguso!" Aku menepisnya dengan tegas. Nggak sudi dipegang-pegang dia lagi. Tatapanku tak lepas dari gerik badannya, dengan sigap ia merebahkanku ke kasur, menindih dan ingin menciumku. BRUUUPH! Kusembur wajahnya dengan cilok yang sedang kukunyah. Dia memercing dan menghentingkan aksinya. "KANAYA!" sentaknya sambil mengusap dan membersihkan wajah gantengnya. "Nggak usah sentuh-sentuh ya, nggak sudi!" Aku turun dari ranjang dan keluar menuju ruang tengah. . "Mbak, cilok di pertigaan masjid?" tanya Ardi yang duduk di sofa depan TV, aku mengangguk. "Jam segini masih ada nggak ya?" tanya Ardi lagi, aku mengangkat kedua bahu sambil melihat Ardi yang lebih ganteng dari Bayu. "Kamu pengen cilok?" tanyaku menghentikan kunyahan. Ardi mengangguk. "Sini, duduk sini, Di, kalau mau ... bagi dua sama aku, tapi ini sisa, nggak papa kah?" Ardi tersenyum dan semangat pindah duduk di sampingku. Bapak dan Ibu melihat kami dengan sesekali menonton televisi, meskipun hanya pandangan kosong. Aku tahu mereka sedang berusaha mencairkan suasana dan ingin menenangkan keadaan, serta menghiburku. Sementara Luna sudah masuk ke kamarnya, besok ia harus berangkat kerja pagi karena dia bekerja sebagai teller di Bank. Bayu menyusulku ke ruang tengah, melihat aku berbagi cilok dengan Ardi, ekspresi wajahnya berubah jadi sinis, sepertinya dia tidak senang dengan pemandangan ini. Ia urungkan bergabung dengan keluarganya di ruang tengah lalu memilih kembali masuk ke kamarnya, aku mencium aroma-aroma kebakaran di hatinya. "Hah, gitu aja udah panas, kerjain ah," lirihku. "Yah ... udah habis, Mbak. Emm, beli lagi yuk, Mbak," ajak Ardi. Aku melirik jam dinding. "Udah jam segini, Di, mana ada?" jawabku. "Coba aja, yuk. Naik motor aja kita, sekalian biar Mbak bisa hirup udara malam, biar nggak sumpek di rumah," ajaknya lagi. Ardi selama ini memang baik padaku, ia menganggapku seperti kakaknya sendiri walau aku lebih muda darinya. Dia sering antar jemput aku kerja jika Bayu tidak bisa antar saat aku belum punya mobil sendiri. Tapi setelah pengkhianatan Bayu ... aku jadi tidak mudah percaya lagi pada laki-laki, termasuk Ardi, bawaanku selalu curiga. Dia kan sedarah sama Bayu, jangan-jangan dia juga nggak bener seperti kakaknya. "Nggak usah, mau ke mana? Udah malem juga. Jangan aneh-aneh, Ardi, keadaan di keluarga kita sedang nggak baik-baik saja." Ibu melarang kami pergi, kami saling melirik dan tersenyum. "Di, sini aku mau bilang ...." Aku mendekat duduk agak mepet ke Ardi, tapi nggak sampai nempel, dia mengernyitkan alis lalu mendekatkan telinganya. "Boleh nggak aku tidur di kamarmu?" tanyaku sedikit berbisik. Mata Ardi terbelalak seketika sembari menunjuk d**a bidangnya dengan jari telunjuknya sendiri. Duh, kayaknya salah pertanyaan ini, sepertinya Ardi salah paham. Aku memukul bahunya lembut pakai bantal sambil tersenyum. "Sini aku mau bilang lagi, maksudku aku pinjem kamarmu semalam aja, please, aku nggak mau tidur sama Mas Bayu. Aku pinjem kamarmu sementara ya?" Kemudian Ardi balik berbisik, "Aku kaget Mbak, hihi ... kukira ...." Ardi terkekeh. "Mau tak kemplang kayak Masmu, Di? Nggak kakak, nggak adek, sama aja pun." Ardi masih terkekeh. Bapak sama Ibu lagi-lagi melirik kami. Kami berdua langsung pura-pura nonton TV. "Nay, kamu ini kok kayak nggak terjadi sesuatu?" tanya Ibu dengan wajah melas, "cepatlah tidur, semoga besok pagi hatimu jauh lebih baik," pinta ibu dan bapak mertuaku. Aku tersenyum dan mengangguk, "Iya Pak, Bu, sebentar lagi." Ardi masuk ke kamarnya, sepertinya ia merapikan kamar yang sudah sangat rapi. Aku tahu Bayu sedang menungguku di dalam kamar, tapi jangan harap malam ini dan malam-malam berikutnya aku tidur dengannya lagi. Aku juga enggan mengetik nama dia pakai 'Mas' lagi. "Nunggu bapak ibu masuk kamar dulu, Di," kataku ketika Ardi sudah kembali duduk di sampingku. "Kamu tidur dulu gih, maaf ya, merepotkan." Kemudian Ardi mengacungkan jempolnya. "It's okay," katanya. Ah, aman malam ini, aku bisa tidur dengan nyaman. Bisa saja aku numpang tidur di kamar Luna, tapi aku sedang butuh sendirian, kalau minta kamar Luna, ada rasa nggak enak hati, meski dia sangat baik padaku. Bapak ibu mertua udah mulai menguap bersahutan, lalu mereka masuk ke kamarnya. Aku sengaja sembunyi-sembunyi tidur di kamar Ardi biar tidak ditanya ini dan itu, kalau pun mau membahas biar besok saja. Pikiranku sudah amat sangat lelah. Mataku sudah lengket-ket. Aku masuk ke kamar Ardi. Kamarnya wangi aromaterapi stargazing, kututup pintunya dari dalam tapi tak kukunci sebab mau bikin minuman hangat dulu sebelum tidur, sementara Ardi tidur di springbed bawah di kamar Luna. Aku merubuhkan tubuh ke springbed jumbo milik Ardi, ah lega sekali rasanya punggung di atas kasur ini. Kupejamkan mata, lalu menghela napas panjang dan dalam berulang kali. Aku tak tahu ke mana air mataku? Padahal luka di hati masih basah dan menganga. Apakah air mataku sudah mengering? . (Ardi PoV) Di rumah sedang terjadi masalah keluarga, antara Mas Bayu dengan Kanaya. Aku ikut geram sama Mas Bayu, walau pun dia kakak kandungku sendiri, dari remaja setiap kali ia pacaran ... selalu begini, tak bisa setia pada satu wanita. Semenjak Mas Bayu meminta bapak ibu untuk melamar Kanaya, aku dibuat penasaran, siapa Kanaya? Asal dari mana? Bagaimana keluarganya? Usia berapa? Apa profesinya? Seberapa lama ia mengenal Mas Bayu? Setelah kudapatkan informasi, Mas Bayu mengenal Kanaya hanya dalam hitungan minggu, tanpa proses pacaran. Usianya di bawahku satu tahun. Informasi yang kudapat saat itu, Kanaya harus memilih satu di antara tiga laki-laki yang berbarengan ingin melamarnya, dan dia memilih Mas Bayu. Padahal kandidat saingan Mas Bayu bukan orang sembarangan, tapi Kanaya malah memilih Mas Bayu, pilihan yang sangat salah! Aku ikut datang ke rumah Kanaya saat Mas Bayu melamarnya. Maa syaa Allah, cantik sekali, senyum gingsulnya membuatku sempat terpana. Ah. Kanaya terlihat ramah, santun, tutur katanya lembut, kalem, smart, berkelas, lincah dan ceria. Pantas saja Mas Bayu ngebet ingin segera menikahi Kanaya. Aku nggak tahu gimana caranya Mas Bayu mendepak dua laki-laki saingannya. Kanaya ... Kanaya, malang sekali nasibmu. Malam ini Kanaya tidur di kamarku. Ia ingin pisah ranjang dengan Mas Bayu. Sebenarnya ini beresiko tidak baik untukku karena aku tidak meminta izin Mas Bayu terlebih dulu. Apalagi sepertinya Mas Bayu seperti dendam padaku setelah kulayangkan bogeman dua kali di wajahnya. Aku nggak tahu kenapa jadi kesel banget sama Mas Bayu sudah mainin Kanaya, aku marah bukan semata-mata karena mencoreng nama baik keluarga kami saja, tapi aku tidak ikhlas Kanaya dibuat mainan seperti ini. Malam makin larut, hawa makin dingin, maklum kota kami dikelilingi beberapa gunung. Aku lupa belum mengambil selimut baru di lemariku. Tak bisa tidur kalau kedinginan begini, selimut Luna serba pink, berdosa banget jiwaku pake benda warna pink. Tapi kamarku pasti sudah dikuncinya. Pelan-pelan aku membuka pintu kamarku, hingga menimbulkan suara. Sudah pelan padahal, tapi masih bunyi. Kubuka perlahan ... nggak dikunci ternyata. Sembrono sekali dia, percuma pindah ke kamarku kalau nggak dikunci begini, bisa aja Mas Bayu masuk dan tidur di sampingnya. Aku mendapati Kanaya tertidur dengan posisi dua kakinya menggantung hampir menyentuh lantai. Semoga dia tidak terbangun ketika aku membuka lemari. Lemari berderit saat kubuka pintunya, suaranya mirip pintu rumah tua di film-film horor. Aku menoleh ke belakang. Sepertinya Kanaya kebanyakan nangis, jadi tidurnya pules kayak kebo, sampe nggak denger suara lemari yang nggak ada akhlak seberisik ini. Sekali lagi pintu lemari berderit kala kututup seraya mengendap-endap. Entah bisikan dari mana, aku ingin membetulkan posisi tidur Kanaya, kasihan kedua kakinya menggantung, bisa-bisa esok paginya kedua lututnya kram. Kuletakkan selimut di ujung meja, lalu aku mengubah posisi Kanaya sedikit ke atas hingga kakinya sempurna di atas ranjang. Aku menyelimutinya dengan selimut yang baru saja kuambil di lemari, kemudian kubawa selimut lama yang tertindih kedua kaki Kanaya. Ya Tuhan, perasaan apa ini? Melihat Kanaya tidur dengan wajah letihnya, ia masih terlihat sangat cantik. Bodoh sekali Mas Bayu telah mengkhianatinya. Andai aku lebih dulu mengenal Kanaya, pasti aku yang akan melamarnya dan kujadikan dia istri paling bahagia di dunia. Astaghfirullahal'adziim ... Aku kembali ke kamar Luna. . Azan subuh berkumandang, aku bergegas mandi lalu buru-buru pergi ke masjid. Tapi baju muslimku ada di kamarku, haruskah masuk kamar lagi? Tapi nggak papa deh, ntar aku ajak sekalian Kanaya ke masjid. Desir hangat tiba-tiba menyapa batin. Aku membuka pintu kamar pelan-pelan. Maaf, bukan maksudku nggak sopan begini, Kanaya. Kanaya sudah tidak ada di kamarku. Sudah bangun duluan kah dia? Atau jangan-jangan ... Mas Bayu yang memindahkannya ke kamar mereka?
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD