Chapter 4. Tawa di Atas Lara

1466 Words
Pelampiasan emosi yang telah dilakukan Reina sangat melegakan. Dia bisa tidur dengan nyenyak dan bahkan menebar senyum di pagi ini. Kemenangan besar atas egonya merupakan sebuah kebanggaan. Pria gila itu tak akan lagi berani mengusiknya. Banyak mata memandan Reina aneh. Maklum, Reina terkenal sebagai sosok wanita yang pelit senyum. Tak disangka aksi spontannya kemarin menjadi pelontar hebat gumpalan tak nyaman yang menyumbat sensor senyumnya. Wanita berwajah ceria bak pemenang lotere milyaran itu mendekati coffee maker. Masih dengan senyum yang sama, dia menghirup dalam aroma caffein yang menguar dari tetesan cairan hitam. "Huft, Rei, Arabica satu, ya!" celetuk Jihan yang masuk tanpa mengetuk pintu. Wanita berambut pendek itu duduk di kursi dengan wajah bermuram durja. Dilemparnya map hitam di nakas. Reina yang biasanya menolak perintah, kini menuruti permintaan rekan kerjanya tanpa penolakan. Dia pun meracik kopi dengan suka rela. Tak ada rasa malas, yang terlihat hanyalah keceriaan. Air mukanya seindah taman istana negara. Kepulan asap dua cangkir kopi panas, menebar aroma yang menenangkan dalam bilik bening, ruang Manager Keuangan. Reina meletakkannya di atas meja. Jihan terkejut dan berdiri dengan kepala tertunduk. Dia merasa bersalah karena telah menyuruh atasannya tanpa piki panjang. Kemarahan pasti akan terlontar sebentar lagi. "Ada apa? Kamu tidak mau meminumnya?" ucap Reina dengan alis yang sedikit terangkat. Wanita itu menyesap kopinya, lalu meletakkan cangkir di tempat semula. Jihan meneliti garis senyum Reina yang jarang sekali terlihat. Entah kapan terakhir kali dia mendapati senyum itu. Ah, lupa. Sudah lama sekali. Bahkan itu pun terjadi setelah dia puas memarahi bawahannya. "Kamu kenapa, Rei? Apa ada karyawan yang kena amukanmu pagi ini?" tanya Jihan yang kembali duduk. Siapa pun pasti akan menanyakan itu. Wajahnya yang ceria, meracikkan kopi untuk temannya, dan tak ada bentakan hingga detik ini. Semua itu di luar kebiasaan wanita di hadapannya. Seperti ada penyihir yang memberi moodboster dengan dosis tinggi untuknya. "Kamu menang lotere?"  Pendapat singkat dan konyol keluar dari bibir Jihan. Lotere? Sejak kapan wanita culas itu mau bertaruh untuk selembar kertas. Reina tertohok. Dia menatap tajam gadis itu sesaat, lalu kembali tersenyum lebih lebar dari sebelumnya. Deretan gigi indahnya pun kentara. "Iya, aku menang lotere senilai satu Miliar," sahutnya sembari mengangguk seadanya. Jihan tersedak. Wanita itu terbatuk - batuk oleh cairan kopi yang tak mengalir lancar menuju tenggorokannya. "Ah, yang bener kamu?" Hanya gadis bodoh yang akan mempercayai keisengan Reina. "Hampir mirip seperti itu. Rasanya sungguh luar biasa menyenangkan," sahut Reina yang langsung bersambung dengan tawa renyah. "Ah, kamu, Rei. Aku lagi sebel nih." Jihan kembali mengerutkan wajahnya. Wanita itu menyesap kopi panasnya cepat. Dia pun memekik kecil akibat sengatan air kopi yang menyentuh bibirnya. 'Sial!' Jihan menarik beberapa lembar tisu di atas nakas untuk mengelap cairan kopi yang membasahi setelannya. Lalu melembar tisu yang basah ke tempat sampah yang berada tidak jauh dari kakinya dengan kesal. "Pagi - pagi udah diomelin Bu Kos. Pengennya ketemu yang seger - seger, buat ngadem emosi, eh, malah nggak ada," ocehnya berlanjut. Reina memutar bola matanya. Moment yang paling tidak dia sukai, telah tiba. Mendengar curhatan Sang Gadis Manja dengan sejuta ekspresi menyebalkan. "Seger? Maksud kamu rujak? Mana ada yang jual sepagi ini, mbak?" celetuk Reina sembari mengangkat gelas kopinya. Memanjakan indera penciumannya dengan aroma khas yang keluar dari cangkir keramik. "Iiih, bukan. Yang seger di kantor ini. Pak Alle," ucap Jihan dengan dengan wajah genitnya. Dengus kesal terdengar dari mulut Reina. Dia tak suka dengan tema obrolan pagi ini. Perusak mood yang sukses. Tak lama, dia kembali tersenyum saat mengingat seberapa kuat injakan kakinya semalam. Pimpinan berengsek seperti itu memang harus diberi pelajaran agar tidak lagi bertindak arogan pada bawahannya. Jihan kembali menyesap kopinya, kali ini lebih perlahan dan hati-hati. "Aku dengar dia ada di rumah sakit," ujarnya. Kesenangan Reina berakhir seketika. Benar - benar berakhir. Mata wanita itu terbelalak saat mendengar kata terakhir yang terucap oleh Jihan. Rumah Sakit. Siapa yang sakit? Keluarganya, orang kantor, atau ... dia? Ya, Tuhan, apa mungkin karena sepatuku? Reina kembali mengingat bagaimana ekspresi pria itu. Terlihat sangat menyakitkan, hingga dia pun bergidik saat mencoba untuk membayangkan rasa kaki yang terinjak. "Terus-terus, kenapa dia bisa ada di rumah sakit?" Reina tampak antusias. Keanehan beruntun, membuat Jihan sama sekali tidak bisa memahami wanita di depannya. Perubahan mood yang sangat drastis. Untuk pertama kalinya, dia melihat kepedulian pada sosok Reina. "Rei, apa pagi ini kamu salah minum obat?" celetuk Jihan yang lagi - lagi tak dianggap oleh wanita itu. Reina beranjak dari tempatnya, merapikan barang - barang yang dianggapnya penting ke dalam tas jinjing hitam. Dengan tangan yang sibuk bermain di layar smartphone, dia keluar dari ruang kerjanya. "Rei!" Panggilan Alvin teracuhkan. "Mau ke mana dia?" tanya pria itu kepada Jihan yang masih duduk masih di ruang kerja Manager. Gadis itu hanya membalas tanya Alvin dengan mengangkat pundak. Alle terlihat nyaman dengan bersandar pada tumpukan bantal di ranjang. Bukan setelah jas mahal yang dia kenakan pagi ini, tapi piyama khas rumah sakit. Matanya terfocus pada layar gedget dan sesekali melempar pandangan ke luar jendela lebar di sisinya. Melihat perban di kaki pria yang telah menjadi sahabatnya sejak di kampus, Dimas merasa iba. Lelaki itu mendekat dan duduk di kursi empuk yang tak jauh dari ranjang. "Hei, bagaimana kamu bisa mendapatkan luka itu? Apa kamu terjatuh dari sepeda? Tertimpa kopi panas? Atau terpeleset tahi kucing?" Dimas menjejalinya pertanyaan yang tidak masuk diakal. Tapi lebih tak masuk akal lagi dengan jawaban yang akan dia berikan. "Ah, ini karena ide bodohmu," sahut Alle kesal. Pria itu meletakkan notebook di nakas. Memutar pandang sebagai pengalihan amarah saat mengingat asal - usul luka itu. "Aku? Haah, aku penasaran apa yang sebenarnya terjadi padamu. Kenapa aku yang kau salahkan?" Dimas menghela napas kesal. Alle terbiasa melempar kesalahan pada orang lain dan tidak pernah mengakui kesalahannya sendiri. Itu sifat yang menyebalkan. Salah satu sifat yang dia miliki dari kromosom ayahnya. "Reina ... dia menginjak kakiku," ucapnya penuh dengan kebencian. Ada hawa panas dan dendam yang membaur dalam gelombang suaranya. "Apa?" Mata Dimas melotot. Untuk sejenak dia membayangkan peristiwa menggelikan itu. Tak lama kemudian, tawa pun pecah seketika. Alle kesal. Dia meraih bantal di belakang punggungnya, lalu melempar benda itu ke arah pria di sampingnya. Dimas terdiam bersama tawa yang tertahan kuat. "Aku mengajaknya makan malam. Dia menolak. Dia bahkan berani mengancamku kalau dia akan menceritakan kisah memalukan itu," terang Alle seraya meremas rambutnya yang tak serapi biasanya. Dimas memperbaiki posisi duduknya dan mulai mendengar dengan seksama, alur cerita yang terlihat menarik untuk dinikmati. "Lalu?" "Lalu aku bilang padanya, jika dia berani menceritakannya pada yang lain, maka aku akan mengatakan kepada mereka bahwa kami sedang berkencan." Reflek, Dimas menepuk jidatnya. "Oh My God, pantas saja. Bukankah aku sudah mengingatkanmu tentang bagaimana wanita itu? Lebih baik lupakan! Dia pun tidak akan menceritakan peristiwa memalukan seperti itu pada karyawan yang lain. Reina selalu bersikap profesional dan sangat mengesampingkan masalah pribadi saat bekerja. Dasar bodoh!" "Melupakan? Apa kamu menyuruhku untuk menyerah dan mengakui kekalahan?" Alle melirik sahabatnya. Lalu tersenyum tipis nan datar. "Aku Alleando Julian. Menyerah tidak ada di dalam kamusku." Kilatan mata mengerikan terlihat dari iris hitam Alle. Dia mulai terobsesi untuk menaklukkan wanita itu. Membuatnya tunduk di bawah kakinya, akan terlihat menyenangkan. Rasanya mungkin lebih mepuaskan dari kemenangan sebuah tander milyaran dolar. "Sudahlah lupakan! Presdir tidak akan suka itu." Dimas menyandarkan punggungnya lalu melipat kedua tangan di depan d**a. "Aku tidak peduli. Aku harus bisa menundukkan wanita itu. Abi pun tidak akan senang melihat kekalahan putranya dari seorang wanita. Tunggu! Apa kamu memberitahu dia tentang keadaanku?" Alle menanti jawaban Dimas dengan serius. Dia tak ingin kehadiran orang tuanya mengusik kesenangan yang baru saja ingin dia raih. Apalagi bundanya, sungguh dia akan marah jika tahu Alle menggoda seorang wanita. Tetapi bukankah wanita berhijab itu menginginkan dia untuk segera menikah? Ah, tidak. Alle tak ingin melepas masa lajangnya secepat keinginan Sang Bunda. "Iya, aku menyampaikan kabar ini kepada mereka." Jawaban Dimas kembali memperburuk mentalnya. "Mereka sedang umroh, jadi tidak bisa pulang cepat. Santai saja. Aku rasa Presdir masih ingin berlama-lama di sana untuk mencetak adikmu," lanjut Dimas. "Gurauanmu tak lucu, Dim." Alle kembali menatap ke luar jendela. Mengamati setiap bangunan yang menjulang tinggi di sekitar rumah Slsakit. Sementara otaknya menyusun strategi untuk pembalasan dendam. Luka itu tidak akan terabaikan dari tanggung jawab. Ponsel Dimas berdering. Pria berkacamata itu meraih benda tipis dari dalam saku kemeja. Bola matanya membulat saat nama wanita judes tertera di layar yang menyala. "Reina?" ujarnya dengan nada aneh. Alle merespon dengan cepat. "Kenapa diam? Angkat cepat!" pintanya sedikit memaksa. Ada keraguan. Tak biasanya Reina menghubungi Dimas via sambungan telepon seluler, kecuali ada hal penting yang harus mereka bahas. Dimas menggeser logo gagang telepon berwarna hijau ke kanan. Panggilan pun tersambung. "Halo," sapanya santai. "Di mana rumah sakitnya?" Wanita itu tak pernah bisa berbasa - basi. Setelah Dimas memberi tahu lokasi pengobatan Alle, Reina semakin mempercepat laju kendaraannya. Jabatannya dipertaruhkan sekarang. Wanita itu pun mulai menyadari kebodohannya. Seharusnya, dia bisa menahan amarah kala itu. Menginjak kaki anak pemilik perusahaan hingga membuatnya masuk rumah sakit, apa lagi hukuman yang pantas selain pemutusan kerja sepihak. Ah, tidak. Itu tidak boleh terjadi. Dia masih harus membiayai sekolah adik semata wayangnya. Belum lagi biaya pengobatan yang rutin dijalani oleh Bapaknya. Semoga negosiasinya berjalan lancar dan tak ada lagi masalah yang berarti. ------------ to be continue ------------
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD