Reina memarkir kendaraannya di halaman rumah sakit. Tepat di samping sedan hitam. Dengan tas jinjing di tangan, dia mulai memasuki bangunan berlantai empat yang terlihat megah dengan dinding-dinding kaca di beberapa sisi. Ruang luas menyambutnya. Terlihat beberapa deret bangku tunggu dan meja informasi di bagian depan.
Tanpa ragu, dia melangkah untuk menghampiri petugas di sana yang menebar senyum sejak kedatangannya.
"Selamat pagi, ada yang bisa saya bantu, Nona?" tanya seorang wanita muda dengan rambut tergelung rapi ke belakang, menyapanya ramah. Tak banyak pulasan make-up. Namun dia terlihat cantik dengan kulitnya yang bersih dan cerah alami.
"Pasien bernama Alleando Julian, ada di ruang mana ya, Mbak?" tanya Reina.
Ada banyak manusia yang berlalu lalang di sekitar tempatnya berdiri. Beberapa terlihat mengenakan pakaian serba putih yang menunjukkan identitasnya. Reina kembali teringat akan masa lalu. Impian gadis cilik berusia 9 tahun, yang sangat ingin menjadi seorang dokter anak.
Reina tersenyum. Hanya sebuah impian. Toh sekarang dia sudah punya pekerjaan mapan dengan gaji besar. Pekerjaan? Oh, tidak. Pekerjaan mapan yang dia agungkan sebentar lagi akan terlepas dari tangan.
Reina mencoba untuk tetap tenang dan tidak membuat berisik suasana Rumah Sakit dengan hentakan heels 7 sentinya.
Pintu lift terbuka, lorong panjang menantinya di depan. Perpaduan warna putih dan hijau pupus pada dinding, cukup menyejukkan mata. Di tambah lagi dengan tanaman hias yang tertata rapi di beberapa sudut, sangat serasi dengan sofa dua dudukan yang berada di depan bilik inap dengan warna yang memanjakan mata. Hijau muda di sandaran berpadu dengan warna creamy pada sponge.
Netra Reina sibuk menelusur dinding untuk mencari papan bertulis
'BERLIAN', nama dari kamar VVIP tempat inap sementara pimpinan perusahaannya.
"Reina," sapa Dimas mengejutkan wanita itu.
Wanita pemilik wajah manis itu pun menunduk untuk memberi salam formal yang biasa dia lakukan di kantor.
"Kamar Pak Alle ada di ujung lorong. Tapi maaf, Saya tidak bisa menemanimu. Ada janji dengan klien." Tak menunggu ucapannya berbalas, Dimas meninggalkan Reina begitu saja. Wanita itu hanya menggeleng lalu melanjutkan langkahnya.
Tak berapa jauh dari tempatnya berpapasan dengan Sang General Manajer, sampailah dia di depan bilik dengan pintu kayu yang cukup lebar dengan kaca persegi panjang mini yang memperlihatkan bagian dalam ruangan.
Reina menarik napas panjang untuk membuang kegelisahannya. Dia harus membuang jauh harga diri dan meminta maaf setulus mungkin, walau hanya sekedar berpura - pura. Bagaimanapun, dia harus melakukannya agar tidak dipecat dari perusahaan.
'Demi jabatan, buang malu ke tong sampah. Oke!'
Reina menarik blazernya di beberapa bagian. Lalu menyelipkan anak rambut yang menguar ke belakang telinga dan sedikit merapikan tatanannya.
Setelah dia meyakini kerapian penampilannya, Reina menggeser pintu. Dilihatnya sepasang sofa hitam yang berdampingan dengan meja makan empat kursi. Ada pula dapur bersih, lengkap dengan lemari es dan microwave. Sebuah ruang rawat yang sangat luas dan nyaman.
'Pasti jutaan per malam'
Di samping kirinya, berbatasan langsung dengan dinding bercat khaki. Ada sisi yang terbuka lebar di depan. Dia yakin Alle ada di dalam ruang itu.
Beberapa langkah ke depan, Reina memutar badan ke arah jam 9. Benar saja, lelaki itu duduk bersandar di atas singlebed otomatis.
Melihatnya tanpa pakaian formal, ada kesan yang berbeda. Garis senyum terlihat sesaat di wajah wanita itu saat ia mendapati kaki yang terbalut perban. Senyum yang lalu tersembunyi cepat di balik punggung tangannya.
Alle terlihat fokus membaca surat kabar. Apa mungkin tak menyadari kehadirannya? Atau sengaja tak ingin melihat kehadiran wanita itu.
Reina mendehem untuk menarik perhatian. Namun gagal. Alle seakan tak bertelinga.
"Selamat pagi, Pak," sapa Reina tanpa rasa bersalah.
"Untuk apa kamu datang ke sini? Kamu terlihat cukup puas," ucap pria yang masih fokus dengan bacaannya.
Reina tetap memaksa untuk mendekat. Dia tahu suasana hati pria itu pasti buruk dengan kehadirannya. Tetapi dia tidak boleh mundur. Pekerjaannya dipertaruhkan di sini.
Semangat kembali membara. Reina mengangkat kepalanya, lalu tersenyum semanis mungkin. "Saya datang ke sini untuk meminta maaf," ucapnya tanpa sungkan.
Alle cukup tertarik dengan kalimat itu. Dia pun menoleh, lalu melipat lembaran berita dengan tangannya dan meletakkan di atas nakas kemudian.
"Maaf ..." Reina mengangguk kecil, "... Aku tidak akan pernah memaafkanmu. Jadi lebih baik bagimu untukmu menjauh dariku. Atau aku akan ... Ah, sudahlah!" Alle membuang muka.
Reina mengernyit. "Ehem, apa Anda tidak punya kreativitas? Itu kalimatku, Mr. Julian," ucapnya sembari melipat kedua tangan di depan d**a.
Alle memutar pandangan dan menatap wanita jutek itu dengan matanya yang mempesona. "Kamu bisa mengucapkannya. Begitu pun aku. Apa kamu ingin, aku melanjutkan kalimatku yang terpotong agar tidak menyamai punyamu?"
Reina tersentak lalu meluruskan tangannya ke sisi badan. Jika lelaki itu ingin mengubah kalimatnya, sudah bisa dipastikan kalimat pemecatan akan menjadi lanjutannya.
"Ah, tidak. Itu tidak perlu, lupakan!" ucapnya dengan senyum palsu yang datar.
Wanita itu bagai penjilat sekarang. Dengan melihat sekilas ekspresinya, Alle bisa menangkap niat di balik perubahan sikap Reina. Kepekaan instingnya, tak kan pernah salah. Sekali lagi dia harus berterima kasih kepada ayahnya, atas keahlian yang menurun padanya.
"Saya mohon maafkan atas kecerobohan saya, Pak!" Sekali lagi Reina mencoba untuk bernegosiasi. Walau terlihat tenang, lelaki itu seperti menyimpan sebilah pisau yang siap untuk ditancapkan ke jantungnya. Sungguh Reina harus menunduk serendah mungkin, demi sebuah kata maaf. Memalukan.
Alle terbahak dalam hati. Jantungnya pun berjingkrak menyaksikan kemenangannya. Wanita yang angkuh itu telah tunduk di depan mata. Untuk pertama kalinya, dia menyukai posisinya sebagai seorang CEO.
"Baiklah. Aku akan memaafkanmu. Tapi aku punya beberapa syarat yang harus kamu lakukan," suara rendah yang terdengar mengancam.
Reina mulai meraba syarat - syarat yang mungkin akan diajukan oleh pimpinannya. Pria itu terkenal sangat profesional. Kemungkinan besar pasti menyangkut dengan pekerjaan. Mungkin dia akan menambah jam kerja Reina atau menambah tumpukan tugas di mejanya. Bisa juga dia akan menyuruh Reina untuk menyusun laporan keuangan dari tahun - tahun sebelumnya. Ah, itu perkara mudah. Sudah pasti Reina akan menerimanya dengan seluruh jiwa raga. Karena dia adalah wanita penggila kerja.
Wanita itu tersenyum lebar. Dengan keyakinan 100%, dia mengatakan, "siap! Saya akan menerima seluruh persyaratan yang Anda ajukan. Asal Anda mau memaafkan dan melupakan apa yang pernah terjadi di antara kita."
Alle tersenyum miring. Tak disangka, wanita itu begitu mudah untuk ditaklukkan. Dia benar - benar penurut atau takut? Alle tidak peduli. Dia bukan tipe orang yang mudah untuk memaafkan.
"Kamu harus tinggal bersamaku untuk merawat luka ini, hingga benar - benar pulih seperti sedia kala."
***