Meera berjalan keluar dari ruang meeting sembari mengecek ponselnya. Lima panggilan masuk dari ibunya. Ada apa lagi? Batin Meera. Dia pun kembali menghubungi ibunya lagi dan panggilan itu terjawab.
“Maaf, Ma, tadi lagi ada meeting,” ujar Meera begitu suara ibunya menjawab dari seberang sana. “Ada apa?”
“Nggak ada apa-apa, sih, Meer. Mama cuma mau tanya, kamu minggu depan balik ke rumah nggak? Soalnya Tante Mayang sama anaknya, kamu tahu kan, Brian? Iya, yang sekarang kerja di kantor perpajakan mau makan malam bareng di rumah kita. Mama yang mengundang mereka, dan Tante Mayang pengin kamu datang. Jadi, Meera, kamu pulang ya minggu ini.”
Meera memejamkan mata selama sesaat lalu menghembuskan napas lelah. Kenapa sih, tidak ada yang membuatnya tenang seharian ini? Perang dengan Pak Yuko selama sejam jam saja sudah membuat tekanan darahnya naik drastis.
“Ma, aku punya banyak sekali kerjaan minggu ini. Jadi, sepertinya nggak bisa balik dulu ke rumah minggu depan,” balas Meera kemudian.
“Ah, begitu. Bagaimana kalau minggu depannya lagi? Atau minggu ini saja? Hari Jumat bagaimana?”
“Belum bisa, Ma. Aku nggak bisa janji kalau minggu ini bisa luang. Proyekku baru saja dapat acc dari atasan, jadi mungkin sebulan ini aku bakal sibuk.”
“Yah, masa sejam dua jam nggak bisa sih, Meer? Kan kasihan Tante Mayang udah jauh-jauh dari luar kota.” Suara Mama terdengar sangat kecewa. “Eh, atau diam-diam kamu udah punya cowok?”
“Ma, kalau aku punya cowok, pasti langsung aku kenalin deh, sama Mama. Ngapain juga aku sembunyi-sembunyi pacaran kayak anak SMA.”
“Kalau gitu bawa pacarmu, dong, ke rumah.”
Astaga. “Oke, nanti aku bawa pacarku ke rumah kalau udah nemu. Karena sekarang aku belum nemu, jadi aku pergi dulu, ya, Ma. Bye.”
“Eh, tunggu Meera, tahun ini usiamu udah 27 tahun loh, kalau kamu nunda-nunda─”
Buru-buru Meera mematikan sambungan. Ya ampun, sebanyak empat kali dalam seminggu Mama selalu mengingatkan umur Meera seolah peringatan tanggal kadaluarsa makanan. 27 tahun? Hah, itu sih masih muda banget. Meera tidak sedang ingin menjalin hubungan dengan seseorang atau bahkan menikah pada saat ini. Tidak peduli seberapa berisik Mama mengerecokinya, dia pantang menikah sebelum sukses.
Meera lelah selalu dipandang sebelah mata oleh Pak Yuko, atasannya itu. Oleh karena itu, dia harus tetap menegakkan badan dan fokus dengan proyeknya yang hampir mustahil ini.
Seseorang menyamai langkah Meera lalu mengalungkan lengannya di bahu gadis itu.
“Thanks, Meera, udah selamatkan muka kita semua di depan Pak Yuko,” celetuk Norah, salah satu timnya dengan ceria. “Makan-makan yuk, pulang nanti.”
“Oke,” balas Meera. “Tapi kita selesaikan dulu proposal buat Heigenz, gimana?”
Muka Norah langsung berubah masam. “Ini sih, namanya lembur. Please, deh, Meer. Kita udah stres banget hari ini. Lemburnya besok aja? Oke?”
“Nor, lebih cepat lebih baik, dong.”
Norah mendesah.
Meera dan Norah berbelok ke sudut ruangan lalu masuk ke kantor timnya. Begitu Meera masuk, dia disambut dengan teriakan dari keemat anggota timnya.
“Maha Besar Ratu Meera, setelah berbulan-bulan, akhirnya proyek ini di acc juga,” kata Arlo dengan gaya bangsawan abad menengah. Bibirnya tersenyum lebar. Meera membalasnya dengan berpura-pura mengangkat rok imajiner dan membungkuk dengan sopan.
“Apa kubilang. Kita pasti bakal acc hari ini,” balas Meera dengan riang. “Coba apa motto kita?” Meera mengangkat tangan dan semua orang berteriak.
“Pokoknya jalan terus yang penting lurus, yeey!!”
Arlo kembali bersorak-sorak seperti habis menang pemilu.
“Thanks, udah mengunyah Pak Yuko Mbak Meer,” celetuk Kilio, si anak magang yang paling rajin di kantor. “Mbak Dana udah siapin boneka voodoo kalau kita gagal dapat acc proyek ini,” lanjutnya sambil terbahak.
Mbak Dana yang duduk di meja pojok buru-buru mengangkat patung kodok hiasan dan menusuk-nusuknya dengan pulpen. Tampangnya tampak serius dan menyeramkan seperti dukun santet. Membuat semua orang tertawa.
“Jadi, kita makan-makan kan, nanti?” celetuk Uli, si gadis bertubuh kecil dan berkacamata.
Norah berdecih lalu menggelengkan kepalanya dengan lesu. “Jangan senang dulu, guys, kita bakal lembur malam ini.”
“Kenapa?” sahut langsung Arlo dengan ekspresi terkhianati. “Kenapa kita harus lembur di saat seperti ini?”
Semua mata di ruangan langsung memandang Meera seperti seorang pengkianat oleh. Buru-buru dia melipir ke mejanya sambil kembali mengangkat tangannya.
“Coba motto kita apa?” teriaknya. Tidak ada sahutan. Meera mengulangnya lagi dengan suara lebih keras. “Coba motto kita apa, gengs?”
Semua menyahut dalam nada berkabung. “Pokoknya jalan terus yang penting lurus.”
“Bagus!” Meera bertepuk tangan dan membalas dengan penuh semangat. “Mari kita bekerja keras hari ini dan bersenang-senang kemudian. Semangat! Caiyo! Fighting! Breakalegg!”
Anggota tim mendengung seperti tawon lalu membubarkan diri dan menuju ke mejanya masing-masing dengan ekpresi suram.
“Good bye, daging panggang,” rintih Arlo dengan muka merana sembari menjejalkan diri di kursi mejanya yang sempit.
***
Seminggu kemudian.
“Meera, proposal kita ditolak lagi,” lapor Norah saat Meera baru balik dari jam makan siang ke kantor.
“Lagi?”
“Lagi,” balas anggota tim serentak.
Dengan kecewa, Meera duduk di kursinya, dan semua orang pun langsung mendorong kursinya mengeliling Meera seperti pusat magnet.
“Anak lobi yang kirim berkas proposal kita dan surat penolakan,” jelas Kilio.
“Mereka mengirim ulang berkas proposal kita?” Meera membulatkan mata. Sungguh keterlaluan. “Bukannya kemarin mereka cuma ingin kita merevisi proposal kerjasama? Lalu kenapa ditolak lagi?”
Norah mengangkat bahunya.
“Berkasnya dikirimin balik pula. Menghina banget, sih,” tambah Arlo.
Norah menggigit bibir dan menyerahkan surat pernolakan itu pada Meera untuk dibaca. Disitu tertulis bahwa Heigenz.Inc sama sekali tidak tertarik dengan tawaran kerjasama Blue Bubble Company.
“Ya ampun, bagaimana bisa begini, sih? Nggak ngerti deh, sama Heigenz,” seru Meera.
“Jadi, gini Meer,” sahut Mbak Dana. “Aku punya teman yang perusahaannya juga menawarkan kerjasama dengan Heigenz, awalnya mereka menerima dan diundang buat presentasi. Tapi tiba-tiba mereka dapat dapat surat penolakan. Kalian tahu nggak kenapa?”
“Kenapa?” sahut Arlo.
“Manajer mereka ganti. Yang kali ini surem katanya,” lanjut Mbak Dana.
“Sesurem apa? Pak Yuko?” Uli nimbrung.
“Lebih surem,” jawab Mbak Dana si spesialis cerita horor. “Tahu nggak, ternyata nggak cuma perusahaan temenku yang tiba-tiba dikirimi surat penolakan padahal mereka udah kerja keras bikin proposal. Jadi, waktu pertama kali mereka diundang, manajernya masih orang lama. Terus waktu pergantian manajer, si orang baru itu tahu tentang rencana undangan itu dan langsung membatalkan semuanya. Menyebalkan nggak, sih?”
Seluruh mulut berdecak mendengarkan omongan Mbak Dana.
“Jahat banget, sih,” Uli menyeletuk.
“Terus gimana, nih?” tanya Arlo dan Norah bersamaan.
Meera berpikir sejenak. Dia harus punya jalan keluar dari masalah ini. Kemudian dia berkata. “Mbak Dana, temenmu yang senasib sama kita tadi punya kenalan orang dalam di Heigenz, kan? Soalnya dia tahu gimana permasalahan sebenarnya dan kenapa proposal dia tiba-tiba ditolak.”
“Kayaknya sih, dia punya. Eh, ya jelas punya, sih,” sahut Mbak Dana.
“Mbak, boleh coba kontak dia lagi nggak?” pinta Meera.
“Kamu mau tanya-tanya tentang si manajer baru ini, kan?”
Meera mengangguk. “Tolong ya, Mbak.”
“Oke,” Mbak Dana dengan sigap mengambil ponsel di mejanya.
Ponsel Meera berbunyi. Sebuah pesan masuk dan Meera membacanya.
“Guys, terusin kerjaan kalian sambil nunggu info dari Mbak Dana. Nanti kita pikirin lagi strategi ulang. Aku mau pergi sebentar.” Meera mengambil tasnya dan beranjak dari tempat duduknya menuju ke pintu keluar.
“Mau ke mana, Meer?” tanya Norah.
“Ke pabrik. Koki perusahaan udah selesai bikin sample kombinasi menu Trapez dan Rolling, es krim kita,” terangnya.
“Wah, udah selesai,” seru Uli. “Mau cobain.”
“Aku juga dong, nggak sabar, nih,” sahut Norah.
“Eh, apaan nih?” Arlo tampak bingung. “Sample apaan? Kan kerjasamanya belum deal?”
Semua memandang Arlo sama bingungnya. “Bukannya kamu udah dikasih tahu kalau kita semua sepakat diam-diam bikin sample menu lebih dulu biar punya banyak bahan presentasi?”
“Tapi serius aku nggak tahu,” lanjut Arlo. “Eh, kapan pula kalian sepakatnya?”
“Ah,” Meera baru ingat. “Waktu itu, pas kamu ijin gara-gara diare berat. Sori lupa kasih tahu.” Meera nyengir. “Emang yang lain pada nggak kasih tahu kamu juga, ya?”
Arlo menatap semua orang di ruangan yang buru-buru membuang pandangan. Tampaknya mereka semua juga lupa.
“Soriiii… Kakak Arlo,” seru Mbak Dana.
Ekpresi Arlo kembali tampak terkhianati. “Tapi Meer, nggak apa-apa, nih, bikin sample duluan? Kalau kita gagal kerjasama gimana?”
“Pokoknya harus berhasil, lah,” balas Meera optimis.
“Tenang deh, Arlo,” sahut Norah. “Cuma sample kecil doang kok. Mungkin cuma sepuluh porsi. Yang cobain cuma tim kita sendiri. Belum resmi pula.”
Meera menggangguk meyakinkan. “Kalau gitu aku pergi dulu, ya.”
“Mbak Meer, ikutan dong,” sahut Kilio. “Kerjaanku udah selesai, nih.”
“Oke,” balas Meera dan cowok itu buru-buru bangkit dari kursinya.
“Meera, kalau tiba-tiba Pak Yuko tanya tentang kemajuan progres kita, gimana?” Mbak Dana bertanya dan Meera pun bingung menjawab.
“Bagaimana kalau mengaku aja kalau belum ketemu hilal?” balas Meera.
“Bunuh diri, dong,” seru Arlo.
“Kalau gitu, bilang aja dia suruh tanya langsung ke aku atau kalian nggak usah keluar ruangan dulu, jadi nggak perlu ketemu Pak Yuko.” Meera nyengir dan semau orang mendesah.
“Nggak adil banget.” Arlo menyahut sambil kembali ke meja komputernya.