Meera sampai di pabrik dengan mobilnya yang disetir oleh Kilio. Mereka berdua keluar dari mobil dan berjalan menuju pabrik yang pelataran depannya rindang dan penuh pepohonan seperti area taman rekreasi. Es krim Rolling selalu mengusung tema kebersamaan keluarga, dan selama dua kali dalam setahun, pabrik dibuka untuk kunjungan umum dan acara-acara Family Day digelar di pelataran pabrik yang berumput.
Namun, sejak pandemi beberapa waktu lalu, penjualan Rolling merosot tajam. Dan semakin tajam tiap bulannya. Bahkan tidak semakin membaik setelah pandemi sudah berakhir. Tren makanan ringan sudah berubah tajam dan perusahaan harus bekerja keras mengikuti perkembangan jaman.
Sampai di dalam pabrik, Meera diikuti Kilio menuju ruang produksi. Mereka melewati pintu yang menyemprotkan udara steril, melapisi pakaian mereka dengan jubah produksi yang juga steril, kemudian menutup kepala dengan penutup kepala, melapisi sepatu mereka dengan alas khusus sepatu dan tak lupa masker wajah.
Setelah selesai, mereka menuju ke ruangan koki produksi yang berada di sebuah ruangan yang melewati mesin-mesin raksasa dan ratusan karyawan yang sedang berproduksi.
“Meera, sebelah sini,” seorang pria muncul dari salah satu ruangan di ujung lorong dan itu adalah Arman, si koki. Arman tidak selalu berada di pabrik. Dia hanya datang ketika perusahaan membutuhkannya untuk menciptakan produk baru. Dia adalah koki lulusan luar negeri yang pernah lama bekerja di pabrik es krim gelatin di Italia.
Meera tersenyum dengan girang lalu berjalan menuju ke ruangan pendingin di ujung lorong.
“Siapa dia?” tanya Kilio.
“Arman, si koki, sekaligus pria paling seksi dan manis di pabrik,” bisik Meera dengan renyah.
Kilio mendengus. “Dasar, wanita,” sahutnya.
“Meera, lama nggak ketemu. Masuk-masuk, sini,” Arman menyambut Meera dengan ceria begitu gadis itu masuk ke ruangan luas yang suhunya nyaris minus seperti kulkas raksasa. Kotak-kotak kardus berisi es krim siap didistribusikan berjajar dan disusun tinggi di ruangan itu.
“Trims ya, udah mau bantuin aku,” balas Meera.
“Ah, nggak masalah. Urusan kecil aja.” Arman memimpin mereka menuju ruangan yang lebih kecil dan lebih hangat di dalam ruangan pendingin itu. Ruangan itu seperti sebuah kantor kecil dengan meja dan beberapa buku laporan yang berjajar di meja nakas. “Senang bisa bantu kamu, Meer,” lanjutnya dengan suara ramah bercampur logat Italia yang enak sekali didengar. Dia melepaskan maskernya begitu pula dengan Meera.
Meera senyam-senyum mendapat keramahtamahan Arman. Pria itu tinggi, hidungnya lancip, matanya dalam, dan wajahnya tampak berbintik-bintik karena terlalu lama tinggal di luar negeri. Ditambah bentuk tubuhnya yang tampak padat dan berotot hasil rutin berolahraga di gym. Pokoknya, Arman pria yang pria banget lah bagi Meera. Baik banget pula.
“Nah, ini, sample yang kamu minta.” Arman mengangkat boks pendingin yang diletakkan di kursi di belakang meja. “Ada sebelas sample yang aku bikin. Kombinasi macam-macam rasa Rolling yang udah ada ditambah dengan sereal Trapez. Dan satunya lagi, aku nggak tahu komposisi pastinya sereal Trapez, tapi aku tadi coba bikin es krim Rolling dengan rasa yang mirip sereal itu. Jadi konsepnya, Rolling benar-benar kawin sama Trapez.” Arman tersenyum, menunjukkan giginya yang putih dan berderet rapi. “Mau coba?” lanjutnya.
Meera buru-buru mengangguk dan melupakan Kilio yang mendadak merasa seperti obat nyamuk di antara mereka berdua.
Arman membuka boks pendingin dan mengeluarkan dua buah tabung kertas es krim kecil dan sendok pada Meera dan Kilio yang akhirnya kehadirannya tampak mata.
Es krim itu berwarna red velvet yang menyegarkan mata. Meera buru-buru mencicipinya sesendok dan matanya langsung membulat.
“Mmm…” tanggapnya dengan mulut penuh es krim. “Rasanya benar-benar seperti Trapez.”
Arman tersenyum dengan senang. “Akan lebih sempurna kalau Trapez membagi perasa dan aroma serealnya pada kita.”
Meera menatap Kilio, dan cowok itu pun mengangguk menyutujui. “Ini enak,” katanya.
“Kita bisa meluncurkan produk ini sebagai edisi spesial Valentine,” lanjut Meera. Dia kemudian kembali menyendok lagi dan akhirnya menyadari kekurangan pada es krim itu. “Tapi, Arman, di mana cacahan serealnya?” tanyanya.
“Itu lah masalahnya.” Arman menjelaskan. “Sereal Trapez nggak bersalut gula yang keras, jadi waktu dicampur dengan es krim, serealnya gampang melempem dan nggak bertekstur. Masalah ini sama seperti sepuluh sample lainnya. Jadi Meer, kalau kalian deal bekerja sama, kamu perlu membahas masalah ini. Tambahkan salut gula, atau apa pun teknologi mereka agar tekstur sereal tidak cepat hancur. Atau dengan pertimbangan paling gampang, kita bisa memisahkan kemasan sereal dengan es krim.”
Meera dan Kilio mencatat semua kelemahan dan kelebihan masing-masing produk sample yang dijelaskan oleh Arman. Kemudian mereka berdua berpamitan pergi, karena Arman juga harus mengejar penerbangan ke Paris.
“Makasih banget ya, Ar, udah luangin waktu kamu buat bantuin aku. Serius, deh. Aku berhutang banyak. Jadi bingung mau kasih kamu apa buat gantinya,” ujar Meera saat berpamitan.
Pria itu tersenyum dan membalas. “Kapan-kapan traktir aku makan malam aja, ya Meer.”
Senyum Meera merekah. “Oh, pasti itu. Pasti. Kalau udah balik dari Paris, aku undang kamu buat makan malam.”
Arman menyutujuinya, mengucapkan semoga berhasil kemudian mereka berpisah dan Meera melambai pergi.
“Naksir banget, ya?” Kilio nyinyir saat perjalanan keluar dari pabrik. Dia sedang membawa boks es krim di pelukannya.
“Iya lah. Dia baik banget, sih.”
“Udah usaha?”
“Dia udah punya tunangan.”
“Oh. Terus?”
“Terus?” Meera mengamati Kilio dengan ekspresi tidak percaya. “Ya terus aku doain mereka putus aja, lah.”
Kilio memutar bola matanya.
Bertemu dengan Arman membuat mood Meera menjadi sangat baik. Seolah kerjasama dengan Heigenz yang belum deal, adalah persoalan kecil yang tinggal menunggu waktu saja. Kemudian dia mendapatkan panggilan dari Mbak Dana ketika hendak masuk ke mobil dan dunia berjungkir balik.
“Ya, Mbak Dana,” jawabnya dengan ceria level anak-anak TK mentari.
“Meer, aku udah dapat info si manajer baru,” cerocosnya dengan bersemangat. “Ternyata dia juga lulusan kampus kita. Dia seangkatan sama kamu. Namanya Gyan Samudra.”
Seluruh organ tubuh Meera mendadak serasa berjatuhan dan pecah berantakan di permukaan batu paving saat mendengar nama itu disebut.
“Namanya siapa, Mbak?” ulang Meera ingin diyakinkan sekali lagi.
“Gyan Samudra, si manajer baru Heigenz.Inc.”
Ya ampun, lapisan langit cerah Meera di atas sana langsung jatuh berguguran dan berubah menjadi gelap gulita.
Si b******k itu. Tapi bagaimana bisa? Astaga.