Bab 4 : Aduh Mbak Dana!

850 Words
“Mbak Meer, Mbak Meer!” Kilio mengguncang tubuh Meera, merasa khawatir melihat gadis itu seperti orang yang baru saja mendapatkan trans. Penglihatan masa depan yang luar biasa kacau. Gempa bumi, gunung meletus dan tsunami. “Kenapa sih, Mbak?” Meera mendesah ringan. Badannya lemas seolah enggan untuk hidup. “Kilio, kamu pernah nggak sih, punya cita-cita buat jadi ketua tim? Kalau iya, kamu bisa nggak, ambil posisi gue saat ini? Gue mau-mau aja kok gantiin kerjaanmu. Ngumpulin angket suara di kantin perusahaan setiap seminggu sekali,” balas Meera dengan suara memelas. Membuat cowok berkacama itu menatap Meera dengan bingung. Kapan hari, Meera seperti singa betina yang lapar saat menghadapi Pak Yuko, kenapa dia sekarang malah minta mengundurkan diri jadi ketua tim? “Mbak Meer, kamu nggak salah makan kan? Atau─” Kilio berhenti bicara lalu mengamati ke sekeliling. Pohon-pohon yang rimbun dan sepi sedang bergerak-gerak ringan terkena angin. “Kamu nggak kesambet kan Mbak?” Setelah bertanya seperti itu, buru-buru Kilio melarikan diri ke dalam mobil. Membuk jok kemudi, duduk di jok lalu mengunci pintu. Meninggalkan Meera sendirian seperti orang bodoh di sisi mobil yang lain. Benar-benar anak buah kurang ajar. *** “Serius, Mbak Meer, aku belum sanggup kalau gantiin kamu jadi ketua tim. Benar-benar bakalan jadi ide buruk,” cerocos Kilio saat mereka sudah sampai di kantor, dan sedang menunggu lft untuk membawa mereka naik ke lantai sembilan. “Sumpah deh. Kamu tahu kan, Pak Yuko tuh, ya ampun gimana ya cara ngejelasinnya? Pernah nonton acara NatGeo nggak? Di mana kukang yang lucu bisa sangat menyebalkan gara-gara kemauannya nggak cocok? Dan Pak Yuko itu benar-benar orang yang seperti itu. Ngamuk-ngamuk nggak jelas kalau kerjaan nggak sesuai─” “Oke-oke,” potong Meera. Ya ampun, Kilio benar-benar tidak mengerti duduk permasalahan utamanya. Si manajer Heigenz itu adalah si Gyan Samudra, dan kayaknya cowok itu yang lebih pantas buat disamain dengan kukang pada saat ini. “Sori gue tadi cuma iseng,” lanjut Meera. Lalu dia menarik napas berat. Kilio mengamatinya. “Memangnya kenapa sih Mbak Meer, kamu kok mendadak kayak orang yang habis kena cipok Dementor? Memangnya tadi dapat telepon dari siapa?” Meera kembali menghela napas, lalu menghembuskannya dengan bunyi sesak seolah kena asma. “Nggak kok, nggak ada apa-apa,” balas Meera kemudian dengan tidak bersemangat. Lift berbunyi dan terbuka. Meera dan Kilio masuk ke dalam. Kilio mengamati Meera dengan bingung. Meera tampak aneh. Bagaimana juga tidak aneh, mendengar nama Gyan Samudra saja membuatnya meriang. Apalagi sekarang dia harus berurusan dengan cowok itu. Sekelebat wajah Gyan yang seringkali dipanggil dengan nama Gie itu muncul di pikiran Meera. Dia pernah begitu mencintai cowok. Namun sekarang tidak lagi, dan tidak akan pernah lagi. Namun, “Kerjasama antara Rolling dan Trapez harus berhasil!” bukan kah itu adalah niatnya yang paling kuat saat ini? Ya ampun, bagaimana ini? Lift berbunyi di lantai dua dan pintunya terbuka. Menampakkan si manajer produksi, Pak Yuko. Si kukang menyebalkan di versi NatGeo manusia Kilio. Pria itu mengangkat wajahnya begitu melihat Meera dan Kilio di dalam lift. Lalu melangkah ke dalam. “Ah, Meera, dari mana?” tanya Pak Yuko. Meera tersenyum dengan tenang. “Ah, dari sana dan sini, Pak. Susah buat dijelaskan.” Pak Yuko mengangguk-angguk. Lalu dia melirik box sterefoam di tangan Kilio yang merepet di pojok lift dengan ekspresi tegang. “Apa itu?” tanyanya. “Es krim,” balas Meera dengan cepat. “Sample Rolling. Tim mau sedikit bereksperimen soal proyek kita.” Pak Yuko mengangkat alis. “Melakukannya sendiri? Bukannya ada tim lain untuk melakukan uji coba?” Meera tersenyum ringan. “Oh, jangan khawatir. Tentu saja mereka akan terlibat.” Tidak, tidak ada tim uji coba resep yang terlibat. Jelas mereka akan melakukannya. Tapi tim itu seringkali gagal melakukan usahanya dan tidak sukses mengembangkan rasa. Jadi, Meera ingin memberinya konsep yang lebih matang mengenai proyek kolaborasi Rolling dan Trapez agar goal tim Meera terwujud. Pak Yuko mengangguk-angguk. Pintu lift terbuka di lantai empat, tujuan mereka semua. “Kerja yang bener Meer, atau kamu bakalan pindah ke pabrik produksi,” tutup Pak Yuko lalu keluar dari lift meninggalkan Meera yang sebal mendengarnya, dan Kilio yang tak habis pikir dengan manajer kukang itu. “Ya ampun, benar-benar deh,” seru Kilio. “Dia manusia atau benar-benar kukang sih?” Meera hanya menggelengkan kepala dan meminta Kilio untuk tetap tenang dan yang paling penting, “nggak usah kamu peduliin dia dan nggak usah jadian orang itu beban kerjamu? Oke?” ujarnya mewanti-wanti Kilio. Dia tidak ingin timnya kerja di bawah tekanan. Meera kembali ke ruang tim dan dia langsung disapa oleh Mbak Dana yang wajahnya terang benderang seperti lampu mercury. “Meera, coba tebak gue punya berita bagus apa?” tanya Mbak Dana langsung. “Apa?” tanya Meera. “Gue habis menghubungi Heigenz dan teleponnya langsung tersambung ke Gyan Samudra. Dan apa yang dia bilang? Dia langsung minta ketemuan langsung sama kamu, begitu namamu aku sebut! Besok di kafe Panjaitan jam satu siang.” Mata Meera melebar mau copot begitu mendengar kabar itu. Ya ampun, nggak kayak gini susunan rencana B Meera. Gadis itu ingin pingsan saja saat ini.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD