Bab 6 : Es Americano Dan Kenangan

1457 Words
Gyan memandang Meera seperti orang yang belum pernah dia kenal sebelumnya. Pria berwajah hati dan berhidung tinggi itu masih berdiri di depan meja. Menunggu Meera menjawab pertanyaannya. “Memangnya berapa Meera yang kamu kenal?” balas Meera kemudian, sambil berusaha ramah. “Ah, berarti beneran Meera yang pernah aku kenal di masa lalu. Si galak itu,” balas Gyan kemudian. “Jadi boleh aku duduk?” tanyanya. Meera mempersilakan. Gyan pun duduk di kursi di hadapannya. Meera mengeluarkan beberapa berkas dari tasnya. Berkas untuk merundingkan kerjasama. Meera tampak serius mengenai pertemuan itu. Namun di seberangnya, tampak Gyan sedang mengamati Meera dengan tangan di atas meja, dan punggung yang menyandar santai di sandaran kursi. Sesekali Meera melirik pria itu, berusaha menahan diri untuk tidak terbawa tatapan matanya. “Jadi, apa yang terjadi dengan Meera yang dulu?” celetuk Gyan. Bibirnya terangkat. “Apa kabar dengan kapitalisme?” Meera menatap Gyan. “Banyak hal yang harus dilewati Meera yang dulu, dan sampai lah dia di meja ini pada hari ini.” Meera tersenyup tipis. Meera kembali mengeluarkan beberapa berkas, di meja, namun Gyan menghentikankannya. Tangannya diletakkan di atas kertas-kertas itu, pandangannya menyuruh Meera untuk berhenti. Meera saling tatap selama beberapa saat. Tatapan itu terasa intens serta medominasi bagi Gyan. Meera tidak paham, alasan Gyan menghentikan kegiatannya. Lalu pelayan datang, dan dia memberi buku menu. Gyan menarik tangannya kembali. “Boleh dibantu dengan pesanannya?” tanya pelayan itu dengan ramah. “Satu es americano dan satu hot cokelat,” balas Gyan langsung tanpa memandang buku menu. “Dan satu velvet cake,” lanjutnya. Entah apa yang sedang dilakukan Gyan, tapi hot cokelat dan velvet cake adalah menu favorit Meera di kafe itu. Pelayan mengulang pesanan dan Gyan mengangguk. “Sori, tapi saya belum memesan,” celetuk Meera. Pelayan menatap Meera kemudian menatap Gyan dengan bingung. “Oh, maaf, saya kira sudah jadi satu pesanannya. Jadi, Anda mau pesan apa?” “Latte saja,” balas Meera. Dia sengaja tidak menatap Gyan, tapi dari sudut matanya, Meera melihat Gyan menaikkan alisnya. Meera tidak akan memberi pria itu kepuasan. Tidak akan. “Jadi, boleh kita memulai diskusi kita?” ujar Meera begitu pelayan sudah pergi. Gyan tidak menjawab. Dia hanya mengamati Meera dengan matanya yang tajam. Sudah lama dia tidak bertemu dengan gadis itu. Meera begitu banyak berubah. Rambutnya panjang dan disanggul ringan, padahal dia dulu benci rambut panjang. Rambutnya selalu dipotong pendek dan membuat wajahnya terlihat lebih imut daripada usianya. Gyan menyukai rambut Meera yang lama, dan kilau di matanya yang seolah menunjukkan bahwa dia adalah gadis yang berpikiran bebas serta cerdas. Namun saat ini, sorot mata itu tidak seberkilau dulu. Matanya tetap indah, tapi tatapannya berubah. Kilau di mata Meera tampak tidak sebebas dan selepas dulu saat mereka sama-sama menjadi mahasiswa. “Pertama-tama, saya ucapkan terima kasih karena mengundang saya dalam pertemuan ini, saya sangat menghargainya,” celetuk Meera. Tanpa mengindahkan tatapan Gyan yang membuat seluruh tubuhnya bergetar, dia melanjutkan. “Sebagai pembuka, saya akan menjelaskan mengenai permohonan perusahaan kami untuk bekerja sama dengan produk sereal Trapez dari perusahaan Anda, Bapak Gyan Samudra selaku manajer perusahaan,” Meera membuka berkas portofolionya lalu menunjukkannya pada Gyan ─yang hanya dilirik ringan saja olehnya. (Mengesalkan sekali bagi Meera, karena dia merasa tidak dihargai.) “Perusahaan kami telah mendapatkan info penjualan sereal Trapez yang begitu tinggi selama setahun ini dan info itu luar biasa sekali bagi kami.” Meera memberi senyuman. Gyan masih mengamati Meera tanpa bicara. “Oleh karena itu, saya sebagai salah satu perwakilan perusahaan Blue Bubble company, begitu ingin mengajak perusahaan Heigenz. Inc untuk bekerja sama dan menyutujui kolaborasi es krim Rolling dan sereal Trapez,” lanjut Meera. Dia kembali menatap Gyan, tapi Gyan tampak tidak tertarik dengan kalimat Meera. “Bapak Gyan, apa Anda mendengar saya?” Gyan mengangguk ringan. “Kalau begitu, bagaimana pendapat Anda dengan permohonan kolaborasi dari perusahaan kami?” tanya Meera. Gyan masa kini terlihat mengesalkan baginya. Dulu, tatapan mata Gyan tak pernah terlihat menghakimi dan penuh penilaian. Gyan selalu ceria, dan dia menerima semua orang di sekitarnya. Mendengar pertanyaan Meera, Gyan terdiam sebentar, mengamati Meera dari ujung rambut sampai ke lapisan kemeja licin di ujung lengan gadis itu. Meera terlihat cantik, tapi sebuah kecantikan yang tidak pernah dibayangkan oleh Gyan. Tubuh Meera terlihat jauh lebih berisi ketimbang terakhir mereka bertemu di kafe ini. Pipi yang merona, bibir yang penuh dan bagian d**a yang menyembul di balik blus dan kemejanya. Beberapa tahun yang lalu, Gyan merasakannya. Bibir tanpa lipstik yang hangat menciumnya, aroma laut yang asin dan d**a mungil tanpa sehelai benang yang berada di pelukannya. Meera yang mungil, Meera yang kurus, dan Meera yang sangat dekat dengannya. Gadis di depannya itu, gadis dengan siluet pinggang yang penuh itu masih Meera yang sama. Pikiran itu membuat Gyan dipenuhi dorongan untuk merengkuh Meera dengan segenap hatinya. Namun, tidak. Semua sudah berbeda. Meera bukan lagu gadis yang tertidur saat dia memeluknya, bukan lagi gadis yang menyukai hot cokelat setiap kali datang ke kafe ini, penyuka velvet cake serta gadis yang membenci cara dunia berjalan, karena saat ini, Meera sudah menjadi salah satu bagian dari dunia yang paling dibencinya itu. Sama seperti Meera yang pernah berkata bahwa Gyan adalah seseorang yang paling dicintainya, sebelum berubah menjadi seseorang yang paling dibencinya. “Aku nggak pernah nyangka, orang yang anti kapitalisme sepertimu akan muncul di hadapanku, mengajak kerjasama bisnis, memohon untuk menyelamatkan sebuah perusahaan yang mana perusahaan makanan itu adalah salah satu penyumbang kapitalisme di negara ini,” balas Gyan kemudian dengan nada tanpa intonasi. Namun, matanya yang tajam itu berbicara. Menilai, serta cenderung mengejek. Meera mencoba menguasai diri untuk tidak terbawa emosi dalam penghinaan itu. Dia tersenyum ringan. “Apa Anda sudah membaca berkas kerjasama dari perusahaan kami?” tanya Meera. Dia berusaha mengalihkan topik pribadi yang disinggung Gyan untuk kembali ke pembicaraan bisnis. “Apa kamu nggak menyadari, salah satu alasan aku menolak kerjasama itu adalah karena aku sudah membaca secara detil berkas kerjasama kalian.” Meera berhenti tersenyum. Dia dan timnya bekerja keras untuk menyusun semua itu, dan Gyan si resek itu menolaknya begitu saja, seolah pekerjaan tim hanya lah guyonan. Atmosfer di antara mereka mendadak berubah tegang. Meera begitu ingin membalas ucapan Gyan barusan, tapi saat ini bukan lah waktu yang tepat. Pelayan datang kembali dan menyelamatkan situasi. “Satu es Americano, satu latte, satu hot cokelat dan seporsi velvet cake,” terang pelayan sambil meletakkan semua pesanan itu di meja. “Selamat menikmati.” “Terima kasih,” balas Meera sambil tersenyum kepada pelayan. Kemudian dia meraih cangkir latte lalu meminumnya seteguk. Lalu seteguk lagi demi meredam kekesalannya. “Sejak kapan kamu suka kopi?” tanya Gyan yang mengamati Meera. Sebelum menjawab, Meera tersenyum. “Manusia pasti berubah bukan? Kenapa harus mempermasalahkan perubahan yang terasa begitu normal pada setiap orang?” Gyan balas tersenyum. Namun senyuman itu tidak sampai matanya. “Jadi, karena Anda sudah membaca secara seksama berkas permohonan kerjasama dari perusahaan kami, boleh saya tahu, apa yang membuat Anda tidak menyetujui hal itu?” lanjut Meera. “Manusia berubah dengan suatu alasan. Meski pun perubahan itu normal, selalu ada alasan bukan?” balas Gyan tanpa memberi jawaban pertanyaan Meera mengenai bisnis yang seharusnya menjadi tujuan mereka saat ini. “Jadi, apa yang membuatmu menggabungkan diri ke dalam dunia kapitalisme yang paling kamu benci selama ini?” Meera merasa kesal sekali dengan pertanyaan itu. “Dunia seperti ini yang memberiku uang. Sederhananya seperti itu, Bapak Gyan,” balas Meera ringan. Terdengar enggan sekali untuk bertele-tele. Gyan menyipitkan mata. Lalu dia meraih es Americano-nya. “Jadi, karena masalah ‘uang’ itulah yang membuatmu menurunkan harga dirimu untuk menemui aku, dan memohon pada orang yang sudah kamu benci sepanjang hidupmu?” komentar Gyan dengan pedas. Meera merasa tertohok dengan kalimat itu. “Kamu menemuiku untuk memohon bantuan agar perusahaan tempatmu bekerja nggak gulung tikar, kan? Menurutmu aku nggak tahu apa yang sebenarnya terjadi dengan Blue Bubble Company? Aku tahu, Meer. Perusahaan tempatmu bekerja sedang jatuh bangun mengatasi hutang. Lalu demi keroyalan pada perusahaan, demi gaji standart ketua tim proyek, dan demi menjadi pahlawan dunia kapitalisme yang kamu benci, kamu bersedia menemuiku.” Gyan meletakkan kembali punggungnya di sandaran kursi, lalu melanjutkan dengan nada yang lebih pedas. “Mana harga dirimu yang setinggi langit itu, Meer? Sudah hancurkah?” Ada laut di dalam tubuh Meera, dan permukaannya meluap sedahsyat tsunami saat dia selesai mendengarkan kalimat Gyan. Sehingga Meera pun bangkit berdiri, meraih gelas es Americano milik Gyan lalu menyiramkannya ke wajah pria itu. “Kita udah lama nggak ketemu, dan kamu nggak tahu apa pun yang terjadi di dalam kehidupanku, dan itu berarti, kamu nggak punya hak untuk mengomentari apa pun, Gie,” ucap Meera, lalu meraih tasnya dan pergi meninggalkan meja dengan semua orang yang pengunjung kafe yang menatapnya dengan Gyan secara bergantian dan dengan rasa penasaran.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD