Bab 3. Temu janji dengan suami

1429 Words
Bukan hampir lagi, tapi Mina benar-benar menangis sekarang. Beberapa menit yang lalu dia masih ada di ruangan Arga, tapi sekarang malah berdiri di depan gudang kantor. "Pilihan kamu hanya dua. Bersihkan gudang atau angkat kaki dari kantorku." Itulah yang Arga katakan beberapa saat lalu. Tentu saja bila saat ini Mina berdiri di depan gudang, itu artinya dia menolak untuk dipecat. Namun, sepertinya sekarang Mina menyesali keputusannya, sebab selain banyak barang-barang besar nyatanya gudang ini juga begitu kotor hingga membersihkannya tak akan cukup dalam waktu satu minggu. "Bagaimana caranya aku membersihkan gudang ini hanya dalam waktu dua hari?" gumam Mina dengan putus asa. "Aku rasa sebenarnya pak Arga tidak memberikan pilihan untuk bertahan di kantor ini, hanya saja bahasanya lebih kasar dari pada dipecat langsung. Pak Arga tahu aku tak mungkin mampu membersihkan gudang ini, jadi sebelum angkat kaki dari kantornya dia ingin menghukumku dulu." Yap Arga mengajukan syarat bila dirinya ingin bertahan di kantor ini, Mina harus mampu membersihkan gudangnya dalam dua haru. Kalau tidak, Mina tetap harus angkat kaki karena dikatakan kalah dalam taruhan. "Jika bukan karena ayah yang membutuhkan gaji hasil kerjaku di tempat ini, sudah aku bakar gudang ini sekalian." Gerutu Mina sambil mulai masuk ke dalam gudang, mulai membersihkan tempat kosong karena nantinya akan dipakai menyimpan barang-barang saat tempatnya dibersihkan. Selama membersihkan gudang, bibir Mina tak berhenti mengomel. Keringat mengalir deras, tubuhnya pun lelah luar biasa. Mina hanya perempuan dengan tinggi 157 senti meter, tentu dia tidak begitu memiliki tenaga cukup besar untuk memindahkan semua barang-barang tanpa bantuan alat. bruk Mina menjatuhkan barang di tangannya, disusul dirinya yang ikut duduk sembarang. Satu hari penuh, bahkan Mina sampai melewatkan makan siang dan malam tak berhenti bersih-bersih. Namun, hasilnya tetap bikin kecewa, sebab bagian gudang yang telah dia bersihkan bahkan separuhnya pun tidak sampai. "Hiks, ayah, ke mana anakmu yang malang ini bisa cari kerjaan baru?" Mina menangis lirih, benar-benar putus asa. Mina sangat sadar dirinya tak akan mampu membersihkan gudang ini sendirian dalam waktu dua hari, tapi dia tetap ngeyel dengan mencoba menguras waktu dan tenaganya berharap separuh saja dari gudangnya bisa ia bersihkan. Perlahan Mina bangun dari duduknya, menatap sekali lagi sisa pekerjaan yang harus dia lakukan besok. Sekarang sudah terlalu malam untuk pulang, Mina harus menjeda pekerjaannya dan melanjutkan esok hari. ceklek ceklek "Loh?" Panik Mina saat berkali-kali dia mencoba memutar handle pintu, tapi tak kunjung terbuka juga. ceklek Kembali Mina mencoba membuka pintu, tapi tetap tidak bisa. "Hallo, apa ada orang di luar?" Teriak Mina dari depan pintu. Buru-buru Mina mengeluarkan ponsel, menghubungi beberapa temannya yang mungkin bisa dimintai pertolongan. Namun, satu pun tak ada yang mengangkat, hingga akhirnya Mina mendesah pasrah kalau kemungkinan pintu baru bisa kembali terbuka esok hari. "Katanya aku punya suami, tapi malah tak ada bedanya seperti perempuan lajang lainnya." guman Mina, tubuhnya merosot ke bawah dengan memeluk lutut. Saat tengah memainkan ponsel, tak sengaja dia melihat nama 'TARA' yang tertera. Menimbang sebentar, pada akhirnya dia memutuskan untuk mengirim pesan. 'Saya tidak tahu kamu mau membaca pesanku atau tidak, tapi saat ini saya benar-benar butuh bantuan kamu. Saya tejebak, tidak bisa keluar dari gudang di kantorku.' Lama Mina memandangi ponselnya, berharap tulisannya berubah biru. Namun, hingga mata mengantuk pun tulisannya tidak kunjung Tara baca, membuat Mina memilih menutup layar ponsel dan membiarkan kantuk menguasainya. *** "Aneh, aku tidur di lantai tapi masih bisa merasakan hangat." gumam Mina sebelum matanya terbuka, dia meraba tempatnya tidur dengan pikiran linglung. "Lantainya juga menjadi empuk seperti ranjang." Mina tertegun dengan ucapannya sendiri, tanpa lama lagi langsung membuka mata. Hal pertama yang Mina lihat adalah langit-langit berwarna putih, kemudian dia melirikkan pandangan ke kanan kiri dan yang ditemukannya adalah barang-barang bersih tidak kotor seperti gudang semalam. "Ini di mana?" Mina bertanya pada dirinya sendiri. Rasa takut menelusup ke dalam hatinya, mau bagaimanapun perpindahan tempat tanpa dirinya ingat adalah sesuatu yang mencurigakan. Tentu Mina tahu dirinya tak mungkin berjalan sendiri, itu artinya ada orang yang sengaja memindahkannya. Mina langsung mencari tas miliknya, bernafas lega saat menemukan ada di atas meja. Mina mengambi ponsel dari dalam tas, membuka pesan kemarin malam yang dirinya kirimkan pada Tara. "Terbaca," pekik Mina. "Apa jangan-jangan yang memindahkanku ke sini adalah dia?" ting Belum juga Mina pulih dari keterkejutannya, sebuah notifikasi tiba-tiba masuk dan itu dari Tara. 'Makanlah dan ganti pakaianmu sebelum pulang. Nanti akan ada yang mengantar sarapan beserta pakaian ganti untukmu, maaf saya punya urusan lain jadi tidak bisa menungguimu untuk bangun.' "Apa-apaan ini?" Seru Mina sambil berdecak. "Jadi benar Tara yang semalam membawaku keluar dari gudang." Padahal Mina sangat ingin bertemu dengan Tara, baik rupa maupun sifat Mina ingin tahu secara langsung. Namun, apalah daya, semalam Mina tak ingat apapun saat Tara datang dan menolongnya. Masalah dari mana Tara bisa menemukan dan cara menolongnya Mina malas memikirkan hal itu, Tara yang datang bukan orang lain saja sudah bersyukur setidaknya bukan orang lain yang menolongnya. Mina turun dari atas ranjang dan masuk kamar mandi. Dia dapat menebak berada di mana saat ini, hotel. Pagi hari seorang pelayan mengantarkan sarapan dan pakaian ganti. Mina sarapan dengan baik dan berganti pakaian, merasa pantas mendapatkannya karena mau bagaimanapun yang menyipakan semuanya adalah Tara-suami yang seharusnya menjaga dan memberi makan dirinya. "Sebenarnya apa alasan Tara terus menghindariku?" gumam Mina begitu keluar dari kamar hotel. Katakan Mina matrealistis sebab mau menikah dengan laki-laki seperti Tara demi uang. Tara berjanji akan membayar hutang biaya pengobatan ayahnya selama di rumah sakit, juga membiayai pengobatan selanjutnya. Namun, setelah menikah, tak sekalipun Tara menempati janjinya membuat Mina tak bisa berhenti kerja karena harus membiayai pengobatan sang ayah. Sampai di kantor, Mina cukup beruntung karena tidak berpapasan dengan Arga. Langsung saja Mina pergi ke gudang, berniat melanjutkan membersihkan sisa banyak yang masih kotor. Namun, begitu membuka pintu, Mina tertegun hingga dia lupa bagaimana caranya berkedip. Gudang telah bersih. "A-apa Tara yang membersihkannya?" gumam Mina tersenyum haru, tapi begitu mengingat bagaimana Tara memperlakukannya selama tiga bulan inu buru-buru Mina menyurutkan senyumannya. Kembali dari gudang, di jalan Mina melihat Arga. Dengan senyum sombong Mina menghampirinya, kini dia berdiri berhadapan dengan sang bos. "Pak Arga, gudang sudah bersih. Sesuai kesepakatan saya tidak akan dipecat dari kantor ini." Arga mendengus, sebelum kemudian melangkah pergi begitu saja meninggalkan Mina. Di belakang Mina tak bisa menahan ekspresi cemberut di wajahnya, sifat Arga terlalu tak peduli dengan sekitar membuat siapapun yang berada di sekitarnya merasa kecil. "Ada, ya orang kayak gitu." gerutu Mina. Mina mengeluarkan ponsel, mengetikkan sesuatu untuk dikirimkan pada Tara. 'Tara, ayo kita bertemu. Tunjukkan dirimu, jangan jadi pengecut dengan terus bersembunyi. Kalau kamu masih menganggapku istri, balas pesan ini.' ting Mina menoleh saat mendengar bunyi notifikasi tak jauh dari tempatnya berdiri, begitu melihat ke arah belakang menemukan Arga yang berhenti melangkah dan tampak tengan membaca sesuatu di ponselnya. Tak lama Arga mengutak-atik ponsel dengan ibu jari, sebelum menyimpan ponsel ke dalam saku laki-laki itu menyempatkan menoleh ke belakang hingga pandangannya bertemu dengan Mina. ting Mina mendapat notifikasi masuk ke ponselnya, membuat dia mau tak mau memutus kontak mata dengan Arga. 'Baik.' "Oh, ya, ampun." Pekik Mina heboh. "Dia setuju untuk bertemu." Buru-buru Mina menutup bibir tatkala sadar ada di mana dirinya sekarang, perlahan dia mengintip ke arah depan hanya untuk menemukan Arga ternyata juga sama-sama tengan menatap ke arahnya. Mina mengerjap, karena kurang yakin dia sampi menggosok matanya karena takut salah melihat kalau Arga sempat tersenyum tipis sebelum kemudian melanjutkan lagi langkanya. "Eh? Pak Arga beneran senyum atau cuma halusinasiku saja?" *** Mina meniupkan udara lewat mulut, menatap surat cerai di tangan dengan penuh tekad. Setelah yakin dengan keputusannya, Mina melangkah masuk ke dalam restoran-tempat yang dipilih untuk bertemu dengan Tara. "Jas hitam," gumam Mina, menyebutkan pakaian yang saat ini Tara kenakan menurut pengakuan laki-laki itu sendiri. Mina mengedarkan pandangannya, saat menemukan laki-laki dengan jas hitam tengah duduk membelakanginya Mina yakin itu adalah Tara. Dengan sedikit senyum Mina melangkah menghampiri, tapi saat laki-laki itu menoleh refleks dia menghentikan langkah. "Mati aku, kenapa pula pak Arga ada di sini?" Mina berbisik pada dirinya sendiri saat melihat ternyata laki-laki itu apakah Arga, secepat kilat membalik badan dan buru-buru pergi dari restoran sambil menutup wajah menggunakan kertas cerai di tangan. Sampai di pintu restoran, Mina menyempatkan untuk mengirim pesan pembatalan pertemuan pada Tara. 'Tara, maafkan aku. Aku tidak bisa menemui kamu, di dalam restoran ada bosku yang menyebalkan. Aku harap kamu mengerti, kita atur pertemuan lain kali.' Setelah mengirim pesan, Mina melanjutkan jalannya yang lebih pantas dikatakan lari. ting Di dalam restoran, Arga melirik ponselnya saat satu notifikasi masuk. Setelah membacanya, dia mengalihkan pandangan pada punggung seorang perempuan yang berjalan cepat keluar dari restoran. Ada seulas senyum tipis tersungging di bibir dengan dipadukan tatapan geli. ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD